Pecah Ketuban, Apa yang Perlu Diwaspadai?

Waktu hamil dulu, salah satu hal yang bikin saya parno adalah terjadinya pecah ketuban dini. Kondisi pecah ketuban memang nggak tidak bisa dianggap sepele karena bisa membahayakan ibu dan janin.

Usia anak saya, Bumi, sudah enam tahun lebih, tapi saya masih ingat sekali proses menjelang melahirkan. Tanggal 19 Mei 2010 pagi, saat ingin buang air kecil ternyata saya mendapati sudah flek, ditambah semalaman mengalami kontraksi. Tanpa pikir panjang, saya pun segera minta antar suami ke rumah sakit.

Benar saja, begitu sampai di rumah sakit, saya sudah bukaan kedua. Dan tidak lama kemudian, ternyata ketuban saya pecah! Ndilalahnya, saya sama sekali nggak ngeh hal itu terjadi. Yang jelas, begitu saya ke kamar mandi, saya melihat flek saya kian bertambah, dan ternyata sudah berubah warna. Menurut suster yang mendampingi saya, hal tersebut dikarenakan pecah ketuban.

Air-Ketuban

Ngomongin masalah pecah ketuban, saya sering kali mendengar cerita memprihatinkan yang terjadi pada ibu ataupun janin. Bahkan, beberapa kali saya mendapat kabar ada teman yang kehilangan nyawa. Saat hamil, kita memang harus mencegah risiko terjadinya air ketuban yang  tidak normal. Dari awal, para bumil harus paham bagaimana cara menjaga kecukupan air ketuban.

Kali ini, saya mencoba mencari tahu kembali mengenai pecah ketuban. Jika hal ini terjadi, hal apa saja yang perlu diwaspadai dan bagaimana harus bertindak? Untuk mendapatkan jawabannnya, saya pun bertanya pada dr Yassin Yanuar MIB, SpOG, MSc.

Dokter yang berpraktik di RS. Pondok Indah dan klinik Bamed ini menjelaskan sebenarnya karakteristik cairan ketuban biasanya dapat dibedakan dengan lendir serviks maupun keputihan akibat infeksi. Cairan ketuban biasanya keluar dalam jumlah banyak, mengalir dan bening. Menurutnya, apabila ketuban pecah terjadi maka cairan merembes, ibu akan merasakan seperti mengompol, membasahi celana bahkan alas tempat duduk atau tempat tidur. Rasa seperti mengompol namun tidak bisa ditahan seperti saat buang air kecil.

“Membedakan dengan lendir yang dihasilkan serviks adalah konsistensinya yang kental, jumlahnya tidak banyak dan tidak menimbulkan sensasi seperti mengompol. Bila lendir ini berubah warna, berbau, menimbulkan gatal dan tambah banyak, patut dicurigai adanya infeksi. Namun juga perlu diperhatikan pasca kasus ketuban pecah, dapat juga cairannya merembes sedikit demi sedikit, selama berhari-hari. Seperti BAK yang tidak bisa ditahan, namun keluar sedikit-dikit,”paparnya.

Adakah gejala yg bisa diketahui bumil sebelum terjadinya pecah ketuban?

Gejala yang timbul sebelumnya tidak khas, namun perlu mengenali faktor risiko dan penyebab

Hal apa saja yg menyebabkan terjadinya pecah ketuban ini?

Sebagian besar penyebabnya adalah infeksi pada selaput ketuban (amnion) yang disebut chorioamnionitis. Hal ini disebabkan oleh infeksi asending yang berasal dari kemaluan maupun saluran kemih. Selain itu penyebab lain adalah ketika rahim terlalu meregang,misalnya pada kehamilan ganda, kehamilan dengan makrosomia, hidramnion.

Siapa atau kondisi seperti apa yang berisiko mengalami pecah ketuban?

Faktor risiko ada beberapa, yaitu usia tua, riwayat persalinan prematur sebelumnya, gaya hidup yang tidak sehat seperti merokok, minum alkohol dan narkoba. Bisa juga karena kehamilan ganda, kehamilan makrosomi, hidramnion, infeksi pada kemaluan, infeksi menular seksual, infeksi saluran kemih, mal nutrisi, gangguan kompetensi leher rahim dan prosedur invasif, amniosentesis.

Komplikasi apa saja yg bisa terjadi akibat pecah ketuban?

Komplikasi dapat terjadi pada ibu dan bayi, yaitu risiko infeksi menyebar ke tubuh ibu, serta bayi. Apabila terjadi sebelum 37 minggu maka bayi akan lahir prematur

Tidak sedikit kasus akibat pecah ketuban dini berisiko membuat janin cacat bahkan menyebabkan bayi dan sang ibu kehilangan nyawa, mengapa hal ini bisa terjadi?

Pada kasus ketuban pecah yang menyebabkan ketuban habis, makan janin dapat mengalami gangguan pertumbuhan apabila tumbuh dalam keadaan tanpa cairan ketuban. Dapat terjadi misalnya : hipoplasia paru, deformitas anggota tubuh. Pada ibu apabila infeksinya berat, berpotensi menimbulkan risiko perdarahan pasca persalinan serta sepsis atau infeksi menyebar di darah.

Ketika ada bumil yg mengalami pecah ketuban, hal apa yang perlu ia lakukan sebagai langkah pertolongan pertama?

Yang perlu dilakukan adalah mencari pertolongan ke RS atau bidan sehingga dapat dipastikan kondisinya. Jangan berjalan atau berdiri, sebisa mungkin tetap duduk atau berbaring


Post Comment