Kiat Menegur Bawahan dengan Manusiawi

Jika diharuskan menegur bawahan, cari tahu cara yang paling tepat. Supaya iklim kerja masih nyaman dan tidak menimbulkan konflik lainnya.

Kiat Menegur Bawahan dengan Manusiawi

Mungkin saat-saat seperti ini adalah momen sulit bagi seorang pemimpin, tapi yaaa…mau bagaimana lagi. Terlebih ketika masih dalam konteks pekerjaan, dan bawahan Anda melakukan kesalahan. Asalkan tidak menimbulkan rasa tidak nyaman, melukai ego, menimbulkan konflik, sehingga hubungan dengan orang yang ditegur menjadi buruk. Nah, agar tindakan menegur bawahan dapat memberikan hasil yang positif, ternyata ada hal-hal yang kita harus yakin dulu sebelum menegur :

  • Kita yakin secara objektif memang ada kekeliruan, kesalahan yang dilakukan bawahan.

Artinya ada barang bukti yang jelas, informasi yang dapat dipercaya (atau kita lihat sendiri) tentang kekeliruan, kesalahan bawahan; bukan rumor atau gosip.

  • Introspeksi terhadap motif, tujuan kita menegur.

Bawahan yang berbuat kesalahan, kita yang introspeksi? Betul. Maksudnya, kita harus jujur kepada diri sendiri dulu, apa motif kita menegur? Tindakan menegur seharusnya ditujukan untuk mengoreksi  kekeliruan sekaligus mengembangkan bawahan agar menjadi lebih baik. Yang kurang tepat adalah kalau kita melakukannya untuk balas dendam, bela diri, dan sederet alasan lainnya yang muaranya adalah kepentingan pribadi semata.

  • Jika sudah yakin dengan dua poin di atas, berikutnya bersediakah kita menegurnya dalam suatu komunikasi dua arah, bukan marah-marah monolog misalnya?

Nah, kalau sudah mantap dengan tiga poin di atas, kita coba beberapa prinsip dalam cara menegur yang bisa dilakukan dalam proses diskusi, ngobrol atau apapun namanya yang penting dua arah :

  • Cari, ciptakan situasi yang tepat ketika kita dan bawahan berada dalam kondisi emosi yang cukup nyaman. Hargai privasi bawahan, jangan diskusi di ruangan terbuka.
  • Apresiasi terlebih dulu aspek positif atau kontribusi bawahan selama ini. Tidak ada? Pasti ada, salah satu tugas pemimpin adalah mengidentifikasi kelebihan bawahan, sekecil apapun itu. Apresiasi membuat bawahan menunjukkan sikap positif dan termotivasi untuk berubah.
  • Klarifikasi masalah atau tingkah laku yang dikeluhkan.

Sebagai atasan, kita mengajak bawahan untuk melihat hal yang dikeluhkan dari dirinya, belum tentu lho dia sadar akan hal itu. Sampaikan hal yang dikeluhkan dari dirinya dengan fokus pada tingkah laku spesifik di pekerjaan dengan dukungan barang bukti yang ada, jangan melebar ke mana-mana, apalagi menghakimi pribadinya. Jelaskan apa efeknya bagi pekerjaan, tim serta sampakan tentang hal-hal yang perlu diperbaiki untuk menunjang kinerjanya. Cek apakah bawahan juga merasakan hal tersebut serta gali mengapa hal tersebut terjadi. Di sini, kita perlu belajar mendengar sekaligus memahami kesulitan bawahan.

  • Penting bagi kita untuk menunjukkan bagaimana memperbaiki hal tersebut. Sama pentingnya adalah meminta masukan bawahan terkait hal ini. Bawahan bukan orang yang hanya dicekoki, tetapi juga harus didorong untuk punya solusi sendiri.
  • Minta kesepakatan bawahan tentang hal-hal spesifik yang harus diperbaiki dan tindak lanjutnya. Akan lebih baik jika diadakan evaluasi berkala untuk memantau kemajuan bawahan disertai dengan konsekuensi yang jelas.
  • Kita juga perlu melihat seberapa jauh kita bisa memberikan bantuan atau dukungan agar bawahan dapat lebih cepat mengoreksi diri.

Sulit? Dicoba dulu,  jika kita melakukan prinsip menegur dengan benar, sesungguhnya kita tidak hanya memperbaiki kesalahan bawahan, tetapi juga mengembangkan potensinya. Jika poin-poin di atas sudah dilakukan sudah dilakukan dengan benar, Mommies juga yang bisa merasakan dampak positif kan? Salah satunya jalan untuk memiliki tim kerja yang berkualitas.

Artikel ini ditulis oleh: Agung Pradata I.K., bergabung dengan Experd sejak tahun 2011, kadang membantu dunia pendidikan, sedang belajar bersama-sama orang lain menjadi lebih baik.


One Comment - Write a Comment

Post Comment