Gejala, Pencegahan dan Penanganan Gangguan Bipolar pada Anak

Kenali gangguan emosi pada anak-anak sejak dini, kareka bisa saja berpotensi berkembang ke arah bipolar atau perubahan ekstrem pada suasana hati.

Gejala, Pencegahan dan Penanganan Gangguan Bipolar pada Anak

Image: www.facingbipolar.com

Dulu, nama istilah bipolar ini tidak begitu akrab di telinga saya – sampai ketika ada seorang teman yang mengidap gangguan suasana hati ini. Ciri-ciri yang kasat mata adalah yang bersangkutan bisa tiba-tiba marah lalu kembali tenang dalam jangka waktu yang relatif singkat. Agak ngeri memang, tapi kamilah sebagai support system-nya yang harus ekstra mengerti, selain kesadaran pasien yang harus rutin berobat ke psikiater tentunya.

Dalam dunia kedokteran bipolar juga dikenal dengan istilah peristiwa manik depresif merupakan jenis penyakit yang dapat dikendalikan yang ditandai dengan perubahan ekstrem pada suasana hati (mood), pikiran energi dan perilaku. Pergantian mood seseorang dapat terjadi antara “kutub” manik dan depresif yang sering bersifat fatal dan menyebabkan kecelakaan. Tidak ada penyebab tunggal pada gangguan bipolar, sebaliknya banyak faktor yang kemungkinan saling memengaruhi sehingga menghasilkan gangguan ini atau yang meningkatkan risiko.

Gejala terlihat pada masa remaja bahkan anak-anak

Gangguan bipolar ini sering berkembang di akhir masa remaja seseorang atau dewasa awal. Setengah dari kasus bipolar ditemukan fakta bahwa kasus bipolar ditemukan sebelum usia 25 tahun. Bahkan beberapa orang memiliki gejala pertama selama masa anak-anak. Fakta menarik ini saya temukan ketika menghadiri seminar media “Gangguan Bipolar VS Fenomena Bunuh Diri di Kota Besar” akhir Juni lalu di Jakarta.

Karena bagi saya fakta tadi cukup mengusik perhatian, jadilah saya mencari lebih jauh bipolar pada anak-anak bersama Dr. dr Nurmiati Amir, Sp. KJ(K) dari Departemen Ilmu Kesehatan Jiwa FKUI dan RSUD Dr. Ciptomangunkusumo. Yang terpenting menurut beliau adalah kewaspadaan orangtua mengenali gejala-gejala yang sudah bisa terlihat pada anak, bahkan sedari bayi. Apalagi jika ada faktor keturunan. “Sebenarnya bipolar ini bisa dilihat sejak bayi, artinya bayi itu mood-nya juga berfluktuasi. Nanti dia menangis, nanti dia kembali senang, waktunya tidur juga mungkin dia tidak tidur akibat mood-nya tadi yang berfluktuasi. Nah, itu kemungkinan kita bisa menduga, apalagi kalau ada faktor keturunan yang juga bipolar – ini harus waspada,” jelas Nurmiati.

Mengenai faktor keturunan ini, Nurmiati mengingatkan – akan terlihat lebih dini pada anak perempuan. Biasanya di usia belasan tahun akan mulai terlihat depresi, terlihat dari suasana hati dan gerakan motorik yang berfluktuasi. Berbeda dengan ADHD yang terjadi secara terus menerus.

Penanganan

Sementara itu, untuk penanganan dr. Nurmiati tidak menyarankan memberikan terapi obat, karena metabolisme tubuh bayi yang belum sempurna. Cara lain yang bisa ditempuh adalah orangtua tidak melakukan atau memberikan stimulasi yang bisa menyebabkan suasana hati bayi atau anak berubah dengan signifikan. “Orangtua bisa melakukan pendekatan-pendekatan, bagaimana misalnya tidak membuat bayi mengajak otaknya untuk tetap berfluktuasi. Misalnya melatih cara ibu berbicara kepada anak, cara ibu mengatasi emosi anak, tidak membiarkan anak terus menerus berada di emosi yang berfluktuatif. Melainkan cepat memberikan pertolongan, jadi tidak menstimulasi,” begitu kata dr. Nurmiati.

Intinya yang saya tangkap nih, Mommies – kita sebagai orangtua juga harus menata emosi terlebih dahulu sebelum menghadapi anak, jadi, ouput yang keluar juga bisa baik. Bayangkan aja kalau anak nangis, lalu kita ikutan crangky, sudah deh bubar jalan yang ada.

Pencegahan

Senada dengan dr. Nurmiati, Dr. dr. Margarita M. Maramis, Sp.KJ(K), Ketua Seksi Bipolar dan Gangguan Mood Lainnya  PDSKJI (Perhimpunanan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia) juga menitikberatkan pada gaya pengasuhan orangtua sebagai tindakan meminimalisir atau pencegahan gangguan bipolar ini.

Fluktuasi suasana hati  pada bayi yang sempat saya singgung pada paragraf ke-4 tadi ,memang tidak bisa serta merta dianggap bipolar – baru sebatas dugaan seperti kata dr. Nurmiati. Namun menurut dr. Margarita apakah perubahan suasan hati yang cukup signifikan itu akan menjadi gangguan atau sebagainya di kemudian hari – itu banyak tergantung dari peristiwa dan pengasuhan dari orangtuanya. “Yang perlu diperhatikan untuk bayi-bayi spesial seperti ini adalah gaya pengasuhan orangtua yang sebaiknya tidak membawa mood anak naik turun. Contohnya, kalau lagi marah, marah sekali, kalau lagi sayang, sayang sekali. Artinya ada pola esktrem yang ditunjukkan oleh orangtuanya,” paparnya lebih lanjut.

Untuk deteksi dini yang bisa Mommies lakukan, dr. Margarita menyarankan terapi General Movement. Menurutnya ada satu dokter yang menekuni hal ini. Dia bisa mengetahui gejala-gejala tertentu dari gerak motorik anak, bagaimana gerakan-gerakan motoriknya bisa berpotensi menjadi gangguan emosi di kemudian hari – tidak hanya spesifik bipolar. Semakin dini kita mendeteksi, kita maka bisa melakukan sesuatu – kita bisa mencegah, apa nanti akan berkembang menjadi gangguan mood atau tidak. Anak-anak seperti ini, otak bagian emosinya lebih aktif, dibanding otak yang bagian berpikir. Sehingga akan berkembang menjadi gangguan jika kita tidak mengasuhnya secara khusus.

Pada akhirnya jika memang menemukan kejanggalan pada emosi anak, Mommies jangan sungkan konsultasi ke ahlinya ya. Baik itu psikolog atau psikiater – karena semakin awal hal ini ditangani oleh ahlinya, maka semakin mudah bagi mereka untuk membantu mengendalikan gangguan bipolar ini.


Post Comment