Lebaran, Bersilaturahmi dengan Menjaga Lisan

Senangnya hari ini sudah Lebaran! Setelah sholah Ied, saatnya bersilaturahmi ke rumah sanak saudara. Tapi ingat, ajang silaturahmi ini juga ada etikanya, lho, yang paling penting, sih, lisan harus dijaga.

Ada banyak hal yang jadi ritual saat Lebaran. Selain berbagi memberikan salam tempel ke keluarga yang belum bekerja, pastinya juga berkunjung ke rumah saudara dan para sahabat, dong?

bersilaturahmi dengan menjaga lisan

Ngomongin masalah silaturahmi, saya ingat sekali dengan pesan ayah saya dulu bawa silaturahmi bisa melapangkan pintu rizki dan dipanjangkan umurnya. Makanya, saya selalu berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan siapapun. Nah, momen Lebaran tentu saja juga saya manfaatkan sebaik-baiknya. Harapannya dengan saling berkunjung dan bertemu bisa mempererta tali silaturahmi. Syukur-syukur jika bisa saling memaafkan  dan melupakan segala permasalahan masa lalu. Meminjam jargon sebuah iklan, semua kembali ke nol lagi.

Supaya ajang silaturahmi ini makin afdol, saya pun selalu belajar untu memerhatikan beberapa hal. salah satunya tentu aja, menjaga lisan. Ngomong seperlunya.  Bukan apa-apa, selama ini saya masih sering berhadapan dengan situasi yang bikin suasana jadi kurang menyenangkan. Di mana saja sanak keluarga yang mengajukan pertanyaan  yang bikin saya mengerenyitkan dahi sambil bilang,  “Eh… tunggu… maksudnya apa, ya?”

Menurut saya pribadi, saat ngumpul-ngumpul keluarga, nggak perlu komentar hal-hal yang kurang penting? Misalnya, nih, komentar mengenai bobot tubuh yang makin bertambah. Atau membahas mengenai pilihan untuk bekerja kantoran atau memutuskan untuk di rumah saja.  Bisa, dong, ya?

Jangan sampai, deh, ajang kumpul dan berkunjung ke rumah orang lain, malah akhirnya menyinggung perasaan satu sama lain. Apalagi kalau sampai mengungkit-ungkit masa lalu yang bikin orang tersinggung. Contoh pertanyaan yang menyebalkan lainnya ketika ada yang tanya soal, “Kok… belum hamil? Ehh, kamu nggak ada rencana tambah anak, ya?”.

Mungkin pertanyaan ini diajukan dalam rangka rasa peduli dan bentuk perhatian. Tapi, Percaya, deh, pertanyaan seperti ini nggak layak untuk diajukan saat silaturahmi. Jadi, lebih baik cari topik obrolan yang sifatnya netral, dan menghindari topik yang sifatnya sensitif seperti ini ada baiknya dihindari. Lagi pula baik menurut orang lain, belum tentu baik untuk kita, bukan?

Hal lain uang perlu diperhatikan, adalah tampil apa adanya saja. Nggak perlu berlebihan apalagi sampai jadi toko mas berjalan. Umh, paham dog maksud saya ini? Hahhaha…. memang, sih, tanpa disadari momen silaturahmi ini bikin seseorang menampilkan eksistensi dirinya. Diperlihatkan lewat penampilan atau cerita yang justru akhirnya terlihat berlebihan.

Tapi, kalau memang ada sanak keluarga atau rekan yang melakukan hal ini, bercerita kesuksesan yang tekah ia raih, ya, nggak perlu ambil pusing, sih. Coba saja berpikir positif, dengan memetik pembelajaran bagaimana ia bisa mencapai kesuksesan.

Jadi, yuk, ah… lebih hati-hati dengan menjaga lisan saat bersilaturahmi.


Post Comment