Khawatir Peredaran Vaksin Palsu, Lalu Bagaimana?

Geram dan khawatir adalah perasaan yang langsung muncul begitu saya mendengar berita soal vaksin palsu. Pertanyaan sebagai orangtua langkah apa yang harus kita lakukan?

Minggu ini, hampir semua WhatsApp grup saya ‘ramai’ dengan bahasan vaksin palsu. Sebagai kumpulan orangtua, kami tentu saja punya rasa yang serupa. Marah, kesal, sedih, parno, dan nggak habis pikir kenapa ada orang yang juga berstatus orangtua tega melakukan perbuatan keji karena bisa membahayakan jiwa anak-anak kita.

“Astagfirullah…. jahat banget, sih, mereka? Punya anak kan? Masa nggak mikir, nggak ngebayangin kalau anaknya yang dapat vaksin palsu dan kena resikonya?”

“Itu, sih, hatinya sudah kaya batu. Nggak mikir.”

“Semoga dihukum seberat-beratnya, sudah merugikan berapa juta anak Indonesia coba? Semoga bisa terungkap, deh, jaringan produsen dan penjual vaksin palsu ini.”

Komentar beberapa ‘warga’ Female Daily rasanya bisa mewakili perasaan para orangtua melihat kondisi ini. Fakta yang membuktikan kalau vaksin palsu telah diproduksi sejak tahun 2003, sudah diedarkan ke 3 provinsi dan dibuat oleh oknum tenaga kesehatan semakin bikin shock. Menurut beberapa berita yang sudah saya baca, vaksin palsu yang ditemukan di TKP adalah vaksin BCG untuk mencegah Tuberkulosis, vaksin Campak, vaksin Hepatitis B, vaksin Polio, dan vaksin Tetanus. Dan vaksin ini merupakan jenis vaksin yang secara rutin.

???????????????????????

Terus terang saja, saat membaca berita ini, dalam hati saya hanya bedoa dan berharap kalau vaksin yang sudah masuk ke tubuh anak saya, Bumi, bukan vaksin palsu. Tapi dari kasus ini apakah lantas membuat saya berhenti dan takut memberikan anak saya vaksin lanjutan sesuai dengan kebutuhannya? Ya, tentu saja tidak!

Saya masih ingat sekali penjelasan dr. Dirga Sakti Rambe mengapa vaksin dibutuhkan, karena vaksin bukan untuk diri sendiri, namun juga untuk kepentingan lingkungan sekitarnya. Artinya, bagi mereka yang anti vaksin sebenarnya justru berisiko membunuh bayi orang lain. Nah, nggak mau dong, jadi orang yang keji sama halnya dengan pengedar vaksin palsu ini?

Dalam  kasus vaksin palsu ini, dalam akun Facebook pribadinya, dokter sekaligus vaksinolog  ini tidak memungkiri kalau ada dampak yang ditimbulkan akibat vaksin palsu bagi kesehatan, yaitu dampak keamanan dan dampak proteksi. Dampak keamanan, bergantung dari larutan yang dicampurkan oleh pembuat vaksin palsu. Saat ini, analisisnya masih dilakukan oleh Pusat Laboratorium Forensik Polri dan Badan POM. Yang jelas, pencampuran larutan vaksin palsu dilakukan dengan cara tidak steril. Risiko tercemar bakteri, virus, dan mikroorganisme lainnya tinggi. Dengan demikian, dampak keamanan yang mungkin terjadi adalah timbulnya infeksi.

Infeksi dapat bersifat ringan, dapat pula berat (sistemik). Infeksi berat ditandai dengan demam tinggi, laju nadi meningkat, laju pernapasan meningkat, leukosit meningkat, anak tak mau makan/minum, sampai terjadi penurunan kesadaran. Bila benar terjadi, dampak ini terjadi dalam waktu yang tidak terlalu lama pascavaksinasi. Dalam 2 minggu pertama. Segera ke dokter bila gejala ini timbul. Dampak keamanan dalam jangka panjang belum diketahui, tergantung dari hasil analisis yang belum selesai.

Berkaitan dengan infeksi yang bisa timbul, dr. Meinani Sitaresmi PhD SpA(K) juga mengingatkan kalau gelala infeksi akibat vaksin palsu ini bisa dilihat tidak lama setelah diimunisasikan. Jadi kalau  sudah sekian lama tidak mengalami infeksi setlah imunisasi, dapat dipastikan aman. “Bisa juga anak Anda bukan diimunisasi vaksin palsu, tapi vaksin asli,” terangnya.

Selanjutnya adalah dampak proteksi. Vaksinasi bertujuan untuk mencetuskan kekebalan pada seseorang sebelum ia sakit. Misalnya, seorang anak mendapat vaksinasi Hepatitis B sebanyak 3 kali. Setelah terpenuhi, anak ini kebal bila kelak terpapar oleh virus Hepatitis B. Ia sudah kebal tanpa harus jatuh sakit. Sementara anak yang tidak divaksinasi, harus sakit dulu baru dapat memiliki kekebalan. Bila ternyata anak ini mendapatkan vaksin yang palsu, tentu kekebalan tadi tidak pernah ada. Tujuan vaksinasi tidak tercapai. Kalau ini terbukti, anak harus direvaksinasi.

Baik dr. Dirga ataupun dr. Meinani sama-sama menghimbau agar kita semua, para orangtua untuk nggak perlu panik. Kita sebagai orangtua perlu menyikapi pemberitaan ini secara bijak, tidak perlu disikapi berlebihan dan merasa khawatir tidak beralasan. Apalagi sampai timbul pemikiran tidak memvaksinasi anak kita karena kekhawatiran yang berlebih karena hal ini justru merugikan anak-anak kita. Dengan tidak memberikan vaksinasi yang menjadi haknya, mereka sangat rentan untuk mengalami berbagai penyakit infeksi yang dapat bersifat fatal, yang sesungguhnya dapat dicegah.

Jadi, sudah tahukan bagaimana harus bersikap? Oh, ya, satu lagi…. mari sama-sama berdoa agar semua mafia vaksin palsu ini bisa ditangkap dan diganjar dengan hukuman yang setimpal.


Post Comment