Anak dengan Disleksia, Bukan Akhir dari Segalanya

Tahu tidak kalau 1 dari 10 anak itu menyandang disleksia?

Fakta yang saya dapatkan berdasarkan data International Dyslekxia Association (IDA) ini cukup mencengangkan, ya? Beberapa waktu yang lalu saya sempat melihat postingan dr.Wiyarni Pambudi, SpA di akun Facebook-nya mengenai disleksia.

Dokter yang dikenal sebagai penggiat ASI ini menuliskan ungkapan rasa syukurnya karena postingan infografik disleksia yang sudah dibuat oleh pemerhati & penggiat layanan anak berkebutuhan khusus, salah satunya adalah dr Kristiantini Dewi SpA, Ketua Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI) sudah banyak di-share. Harapannya, masyarakat, khususnya para orangtua lebih aware mengenai disleksia.

disleksia

Berbicara mengenai disleksia, saya jadi ingat cerita seorang ibu dengan dua orang anak spesial karena diskleksia. Adalah Amalia Prabowo, ibu dua orang anak yang mengalami disleksia, salah satunya adalah Aqil Prabowo. Kebetulan beberapa waktu lalu kami sempat ngobrol di Kota Kasablanka. Meskipun awalnya sempat merasa terpuruk, perempuan yang kerap disapa Lia ini mengaku bahwa memiliki anak disleksia sebuah berkah. Ia pun ingin merangkul semua orangtua untuk bisa mendukung anak disleksia dan menemukan kekuatan di baliknya. Iya, saya pun percaya dan sependapat dengan CEO PT Havas International ini, bahwa semua anak spesial.

Pengalamannya mendampingi dua orang anak disleksia ini pun akhirnya ia tuangkan ke dalam buku “Wonderful Life” yang akan dibuat versi layar lebarnya. Hebatnya, perempuan berhijab ini pun memulai sebuah gerakan sosial untuk meningkatkan kesadaran disleksia kepada ibu-ibu banyak kota. Ia ingin mengubah persepsi masyarakat khususnya orangtua yang  menganggap kalau disleksia pada anak adalah akhir dari segala-galanya. Ia sempat bilang, bahwa keterbatasan karena tidak bisa membaca dan menulis tidak semestinya mengurangi harapan dan usaha para orangtua jika anak penyandang disleksia tidak akan memiliki masa depan seperti anak lain kebanyakan.

Berdasarkan data yang saya ambil dari info infografik yang dibuat International Dyslekxia Association (IDA), Diskleksia adalah kesulitan belajar spesifik pada anak. Diskleksia ini sendiri berasal dari Bahasa Greek, ‘dya’ yang berarti kesulitan dan kata ‘lexix’ yang berarti bahasa. Secara harafiah, maka disleksia pun bisa diartikan sebagai kesulitan dalam berbahasa.

Sampai saat ini penyebab disleksia sebenarnya belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian menunjukkan kalau disleksia terjadi kerena pada masalah gangguan pada otak penderitanya. Penderita disleksia memiliki perbedaan dalam cara otak memproses informasi, sehingga informasi yang diterima mengalami kerancuan.  Disleksia biasanya terjadi karena adanya ketidakstabilan dalam biokomia otak, terutama pada area fonologis (bahasa). Gangguan pemrosesan fonologis inilah yang menyebabkan beberapa penderita disleksia mengalami kerancuan dan sudah membedakan huruf yang hampir sama atau terbalik-balik. Oleh kerena itulah jenis intervensi yang paling membantu dalam meningkatkan kemampuan baca dan tulis adalah pada anak yang mengalami diskleksia adalah intervensi yang berfokus pada kemampuan fonologi, yang  biasanya disebut fonik.

Ada beberapa ciri yang bisa kita ketahui, apakah anak kita mengalami disleksia atau tidak? Pertama-tama, coba perhatikan apakah si kecil tampak malas atau sulit memahami bacaan, bingung mengelola uang jajannya atau sulitnya memahami konsep waktu. Selain itu, biasanya anak juga akan kesulitan mengatur jadwal keguatannya sehari-hari jika tidak ada bimbingan, selain itu anak biasanya akan ‘mati gaya’ saat menceritakan sesuatu secara tertulis. Beberapa gejala disleksia ini sebenarnya juga sudah bisa terlihat sejak dini, namun biasanya akan benar-benar terlihat ketika anak memasuki usia 3 tahun, ,di mana anak akan mengalami kesulitan dalam perkembangan bahasa.

gelaja disleksia

Seperti yang diungkapkan Amalia dalam perjalanannya mendampingi anak-anaknya yang mengalami diskleksia, bahwa sebenarnya disleksia bukanlah musibah. “Karena yang paling penting adalah bagaimana orangtua bisa sabat dan memahami serta menggali dan mengembangkan bakat seorang anak dengan disleksia,” ujarnya.

Dari sini semakin jelas, ya, kalau anak memang spesial dan punya kebutuhan yang berbeda-beda. Tinggal kita sebagai orangtua yang perlu belajar untuk memahami serta memenuhi kebutuhan tersebut. Infografik yang dibuat oleh Asosiasi Disleksia Indonesia (ADI)juga menjelaskan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda, termasuk saat belajar di ruang kelas. Ada ada yang tidak bisa fokus lebih dari 15 menit, ada yang tidak mampu menggenggam pensil, ada juga anak yang lebih pintar menyampaikan secara lisan dari pada menulisaknnya. Dari sini bisa terlihat kalau setiap anak seharusnya bisa mendapatkan metode pembelajaran yang berbeda agar mereka bisa berhasil.  Dan inilah yang bisa membuat ruang kelas adil bagi semua anak. Biar bagaimanapun, adil itu berarti memang tidaklah sama.

Yuk, sama-sama berdoa semoga saja kita sebagai orangtua termasuk tenaga pengajar di berbagai sekolah bisa berlaku adil pada semua anak-anak.


Post Comment