Menghadapi Suami Si “Anak Mami”

Ada yang di sini merasa memiliki suami anak mami? Hmmm, kalau memang seperti itu cari tahu yuk, cara menghadapinya.

Menghadapi Suami Si “Anak Mami”

Sebetulnya apa sih suami anak mami ini? kalau dari cerita teman-teman yang saya dengar. Suami anak mami itu ketika ia tidak bisa bertindak mandiri, jadi nih, Mommies apa-apanya harus atas persetujuan ibu. Padahal kan yang namanya suami itu adalah pemimpin ya, Mommies? Hal ini diamini oleh Psikolog Anak dan Keluarga Putri Langka. Menurut dia, indikator yang paling terlihat adalah ketika pasangan tidak bisa mengambil keputusan, dan setiap keputusan harus bertanya kepada ibunya dulu, nggak hanya itu kata-kata ibunya dianggap selalu benar.

Namun, sebetulnya menurut saya nih, Mommies situasi ini bisa mendatangkan keuntungan tersendiri sih buat pihak isteri. Insting untuk membuat keputusan yang cermat jadi terasah kan? Karena bagaimana pun juga, jika sedikit-sedikit suami harus tanya ke ibunya – kapan mau selesainya persoalan atau situasi tertentu yang harus Anda selesaikan? Kita lah yang harus ambil alih sementara sebagai pembuat keputusan di rumah.

Untuk menghadapi suami si “Anak Mami” ini, Putri memberikan dua saran. Yang pertama adalah berbicara dengan suami untuk mendorong dia untuk lebih mandiri. Lagi-lagi kuncinya komunikasi kan, Mommies? usahakan nih Anda berbicara di waktu yang tepat. Artinya perhatikan kondisi fisik dan psikis suami dalam keadaan siap menerima “tema berat” yang akan Anda bicarakan. Misalnya kata Putri, disaat suami sedang kenyang habis makan makanan favoritnya, hihihi. Atau setelah dia sudah gajian? Hmmm, semua orang bahagia dong ya, kalau habis gajian? :D

Atau cara kedua adalah sekalian saja, bersahabat dengan ibu mertua tercinta, coba cari tahu lebih dalam bagaimana cara ibu mertua kita memperlakukan suami. Adakah ritual-ritual khusus yang memang sengaja dilakukan si ibu untuk melakukan anak tercinta merasa nyaman dan dicintai. karena wajar saja menurut saya, namanya juga anak – pastilah ibu mau yang segala sesuatu yang terbaik untuk anaknya. Jadi nanti kita bisa tahu secara persis apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh suami.

Selama ngobrol dengan ibu mertua, pastikan pola pikir Mommies positif ya. “Sebetulnya menghadapi mertua itu tergantung pola pikir kita aja. Mau dibuat happy-happy aja dan  nggak tersinggung, tapi kalau bawaan kita sudah sensi dari awal, mereka baru ngomong sedikit saja bisa-bisa kita sudah uring-uringan,” jelas Putri.

Jika dalam proses ngobrol tadi ada yang kita tidak setuju, jangan langsung menunjukkan rasa ketidaknyamanan Anda. Sebaiknya perasaan itu, diutarakan kepada suami. “Ini jg bisa jadi latihan yg bagus buat suami. Kalau dia terlatih mengakomodir keinginan ibu dan istri lama2 kan dia akan dewasa juga,” papar Putri lebih lanjut.

Secara saya juga punya anak laki-laki, saya nggak mau dong ketika ia berumah tangga masih tergantung sama saya soal keputusan-keputusan yang akan dibuat. Kalau kata Putri Langka, sedari dini dorong anak untuk belajar membuat keputusan senduru, dengan mempertimbangakn semua risiko yang akan dia hadapi.

Punya suami anak Mami nggak selamanya bercitra buruk kan, Mommies? contohnya nyatanya, Anda jadi punya kesempatan untuk membangun hubungan yang harmonis dengan ibu mertua :)


Post Comment