Krim Pemutih Penyebab Keracunan Kehamilan?

Awal Februari lalu status seorang suami yang kehilangan istri dan bayinya menjadi viral di media sosial. Saat status dibuat, si istri sedang koma pasca SC, dan si bayi yang beratnya 1.5kg pernapasannya masih dibantu ventilator.
Krim Pemutih Bukan Penyebab Keracunan Kehamilan

Status si suami persisnya seperti dibawah ini. Saya sengaja tidak mengedit apapun supaya tidak menghilangkan maknanya, hanya mem-bold bagian-bagian yang menunjuk pada gejala penyakitnya.

“istri saya mengalami keracunan kehamilan sejak usia kandungan 1minggu sampai mau memasuki usia ke bulan ke 8. di hari sabtu pagi kemarin tepat nya jam 6 pagi , kmi berdua masih tertidur pulas di kamar tetapi saya merasakan ada yg aneh pada istri saya, pas saya bangun lalu melihat dy , ternyata dy sudah kejang2 mata nya melotot ke atas lalu mengeluar kan bui dari mulut nya , saya panik. hingga saya larikan di klinik wulandari jln asam kumbang dkat kavleri medan. saya jg tlah memanggil beberapa org tua , ttpi ttp aja tdk ad perubahan. dy mengalami kejang2 dari pagi smpai jam 2 siang. shingga kmi pihak kluarga melarikan dy ke rsu pirngadi medan lalu dokter segera mengatasi nya dan melakukan bedah caesar pada sang ibu untk mengeluarkan anak saya. hingga sampai saat ini istri dan anak saya masih koma di ruang ICU. saya mohon agar smua saudara2 dpat mendoa kan istri dan anak saya smoga doa saudaa2 di kabulkan. dan istri anak saya bisa cepat sadar. amin..”

Selang beberapa jam dari viralnya status tersebut, beritanya mulai masuk media online. Sayang salah satunya dibuat tanpa konfirmasi dengan pihak terkait maupun seseorang yang punya kompetensi di bidang kesehatan, terutama terkait dengan kehamilan dan persalinan. Jadilah berita yang judulnya,”Ibu Hamil Tewas Diduga Keracunan Kehamilan Pemakaian Krim Pemutih Wajah, Ini Kata Suami”.

Keracunan kehamilan karena pemakaian krim pemutih? Apa bisa? Coba kita kupas dibawah, ya.

Menurut dr. Yusfa Rasyid, SpOG, preeklamsia yang secara awam banyak diistilahkan sebagai keracunan kehamilan sederhananya adalah semacam penolakan tubuh ibu terhadap janin yang dianggap sebagai benda asing. Gejala preeklamsia adalah:

  • tekanan darah naik drastis dengan patokan 15% diatas tekanan darah normal sebelum hamil. Atau bila tidak ada datanya, diatas 140/90 pada beberapa kali pengukuran terpisah.
  • terdapat protein dalam urine.
  • kadang ada pusing, mual dan muntah, tapi ini agak menyaru dengan morning sickness biasa.
  • kenaikan berat badan yang tiba-tiba dan pembengkakan pada bagian tubuh seperti muka atau tangan. Ini juga kadang menyaru dengan proses kehamilan, hanya saja yang umum adalah bengkak di kaki. Jadi diluar itu sebaiknya dipantau.

Ketika preeklamsia memburuk, akan masuk ke tahap eklamsia dengan gejala kejang, mata membelalak, dan bisa diikuti dengan hilangnya kesadaran.

Preeklamsia dan eklamsia berpengaruh pada plasenta, organ yang mengalirkan oksigen, darah, dan nutrisi ke janin. Saat tekanan darah tinggi mengurangi aliran darah ibu hamil, plasenta tidak bisa berfungsi sebagaimana mestinya. Ini berakibat bayi lahir dengan berat badan kurang atau masalah kesehatan yang lain. Masalah plasenta ini kadang mengharuskan kelahiran prematur demi kesehatan dan keamanan bayi. Dalam beberapa kasus ini mengakibatkan stillbirth, yaitu bayi lahir dalam keadaan meninggal.

Mereka yang berisiko tinggi eklamsia adalah:

  • hipertensi.
  • usia saat hamil dibawah 20 tahun atau diatas 35 tahun.
  • hamil dengan anak kembar.
  • kehamilan pertama.
  • ada riwayat malnutrisi atau kurang gizi.
  • punya diabetes atau penyakit yang berhubungan dengan pembuluh darah.

Tapi makin kesini makin banyak juga kasus yang merupakan anomali dari daftar diatas. Misalnya bukan kehamilan pertama, usia diantara 20-35, tidak hamil anak kembar, tapi tetap terindikasi preeklamsia. Karena itulah pantauan preeklamsia sekarang diterapkan untuk semua ibu hamil, tidak hanya yang mempunyai profil seperti diatas.

Pantauan yang umum digunakan untuk mendeteksi pre/eklamsia adalah:

  • Pengukuran tekanan darah.
  • Tes urine, untuk melihat potensi protein pada urine yang merupakan salah satu gejala preeklamsia.
  • Pemantauan kondisi fisik ibu dengan melihat adanya pembengkakan anggota tubuh.
  • Tes darah.

Apa yang harus dilakukan ketika terdapat indikasi preeklamsia?

Ketika dari tes-tes yang dilakukan ada indikasi mengarah ke preeklamsia, yang bisa dilakukan oleh ibu hamil di antaranya:

  • Terus pantau kondisi atas gejala-gejala yang muncul.
  • Jaga tekanan darah.
  • Jaga pola makan, kurangi yang meningkatkan tekanan darah dan konsumsi yang membantu menurunkannya. Biasanya dianjurkan mengurangi konsumsi garam untuk membantu menurunkan tekanan darah dan mengurangi pembengkakan.
  • Minum obat pencegah kejang (anticonvulsant) mungkin membantu.
  • Memantau kondisi bayi, baik keaktifannya maupun berat badannya untuk berjaga-jaga seandainya harus dilahirkan sebelum HPL (hari perkiraan lahir).
  • Melahirkan dini bila kondisi semakin parah meski belum full-term. Karena ini adalah satu-satunya ‘obat’ yang menghilangkan preeklamsia, dan dikhawatirkan bila terus didalam rahim keselamatan bayi dan ibu justru terancam.

Nah, berikutnya kita bahas tentang krim pemutih kulit.

Krim pemutih (apalagi yang abal-abal alias gajebo) biasanya menggunakan salah satu atau kombinasi bahan-bahan berikut ini:

  • Merkuri. Meski jelas dilarang, tapi masih banyak kosmetik yang menggunakan bahan ini karena hasilnya yang instan. Efek dari merkuri ke janin diantaranya yang paling umum adalah: microcephaly; gangguan mental dan sistem syaraf, masalah pada perkembangan kemampuan wicara, berjalan, dan pengelihatan, cerebral palsy, dan juga keterbelakangan mental dan keterlambatan pada milestone perkembangan secara umum.
  • Vitamin A dan turunannya (retinol, isotretinoin, dll). Khusus isotretinoin, terutama dengan nama dagang Accutane, dikaitkan dengan masalah pada janin berupa perubahan atau gangguan pada pembentukan jantung, muka, atau otak.
  • Hydroquinone.
  • Vitamin C. Yang ini biasanya dalam krim jumlahnya nggak banyak karena dalam bentuk krim efeknya nggak secepat injeksi langsung (dosis tinggi).

Menurut dr. Yusfa, sejauh ini belum ada literatur yang mengaitkan langsung bahan-bahan krim pemutih diatas dengan preeklamsia. Bahkan vitamin C dosis tinggi sendiri sebagai anti-oksidan justru diberikan pada pasien suspect preeklamsia untuk membantu menetralkan oksidan yang ditengarai sebagai salah satu pencetus preeklamsia.

Tapi, dr. Yusfa menekankan untuk tetap berhati-hati dalam menggunakan krim-krim baik muka maupun badan selama kehamilan, karena apapun yang mengenai kulit bisa terserap ke dalam darah dan berpengaruh terhadap kehamilan. Bila memang tidak bisa menghentikan pemakaian krim tersebut, setidaknya sampai bayi lahir, konsultasikan kandungan krim ke dokter, ya.

Penyebab dan pengobatan untuk preeklamsia sendiri sampai hari ini masih banyak kontroversinya walau kasusnya banyak dan menjadi penyebab tertinggi kematian ibu hamil di kota besar. Sejauh ini satu-satunya cara meminimalkan akibat dari penyakit ini adalah rutin konsultasi kehamilan supaya ada deteksi dini terhadap gejalanya dan pemantauan ketat bagi yang terindikasi. Dengan demikian diharapkan bila kondisi memburuk, tindakan darurat dapat cepat dijalankan untuk menyelamatkan jiwa ibu maupun bayi.


Post Comment