Anak Sakit, Namun Ibu Harus Tetap Bekerja?

Kerjaan lagi nggak bisa ditinggal, bertepatan dengan anak sakit, harus bagaimana?

Sebagai seorang working mom, salah dua yang sukses membuat saya sakit kepala mendadak biasanya ada dua: Urusan ART mudik yang tak kunjung kembali dan ketika anak sakit namun saya juga masih punya tanggung jawab pekerjaan. Siapa yang setuju, mana suaranya????

Kalau urusan ART, lebih gampang solusinya. Bisa cari ART infal dan pahami tips dan trik berburu ART infal. Apalagi dengan adanya direktori yayasan ART yang sangat membantu untuk saya hunting. Beda urusan kalau sudah anak sakit *__*. Apalagi yang namanya anak itu, maunya nempel sama mama-nya. Lalu, saat anak sakit, namun kita harus tetap bekerja, harus bagaimana? Well, biasanya saya mencoba melakukan beberapa hal ini.

anak opname

1. Kenali budaya perusahaan
Cari tahu bagaimana kebijakan kantor jika anak Anda sakit. Apakah ada fleksibilitas waktu dsb? Karena ini yang saya lakukan ketika melamar bekerja di perusahaan tempat saya bekerja sekarang. Saya mencari tahu seberapa ramah perusahaan ini untuk para working mom.

2. Work from home/ from hospital dsb
Saya beruntung karena kantor saya sekarang mengenal istilah work from home. Yaitu saat saya tidak bisa ke kantor namun masih bisa dihubungi untuk urusan pekerjaan. Ini salah satu alternatif yang saya pilih ketika anak saya harus opname karena terkena DBD beberapa waktu lalu. Untungnya, rumah sakit sekarang juga memahami betul kebutuhan para orangtua yang menjaga anaknya di rumah sakit. Saat opname di RS Hermina Jatinegara, kamar tempat anak saya opname ada free wifi yang sudah termasuk di dalam biaya perawatan, hehehe. Jadilah sambil menjaga anak, saya masih bisa duduk manis membuka laptop. Yes, dalam kasus saya disebut work from hospital :D.

3. Bekerja sama dengan rekan kerja satu tim
Jelaskan di awal kepada anggota tim kalau memang kemungkinan kita tidak bisa memegang pekerjaan sama sekali dan membutuhkan bantuan mereka untuk menanganinya. Saat anak saya terkena DBD dan wajib opname, ndilalah anaknya Thatha juga kena DBD dan diopname. Jadilah, Adis menjadi pemain tunggal untuk ngurusin pekerjaan kantor. Sebaliknya, saat anaknya Adis harus operasi usus buntu (nah iyaaa, ternyata anak kecil bisa juga kena usus buntu), saya dan Thata pun membackup pekerjaannya Adis.

4. Bekerja setengah hari
Di kantor saya yang dulu nggak ada istilah work from home. So, saat anak saya harus opname karena tifus, saya meminta izin atasan untuk bekerja setengah hari. Setengah hari itu bisa dipilih, mau dari pagi sampai jam makan siang atau setelah makan siang hingga jam pulang kantor. Biasanya saya menyesuaikan dengan jadwal meeting di kantor yang memang harus saya hadiri.

5. Meminta bantuan
Nggak usah sok jadi wonder woman yang maunya semua dihandle sendiri. Minta bantuan ke suami, orangtua atau saudara untuk menjaga si kecil jika memang Anda harus meninggalkannya sementara untuk mengurus pekerjaan.

6. Jangan lupakan si kakak atau si adik yang ada di rumah
Jangan sampai karena terlalu fokus pada anak yang sakit, kita jadi melupakan anak kita yang ada di rumah. Ketika si kakak diopname, saya rutin menelepon si adik yang terpaksa ditinggal di rumah. Saya juga memanfaatkan teknologi dengan melakukan facetime agar si adik bisa melihat suasana di ruang rawat inap dan bisa membayangkan situasi di rumah sakit. Di hari ketika si kakak sudah boleh pulang ke rumah, baru saya mengizinkan si adik untuk turut menjemput ke rumah sakit.

Tapi Mom, ingat ya, Anda juga harus bisa melihat tingkat urgensi-nya. Jangan juga kalau anak ‘sekadar’ pilek kemudian Anda memilih ngendon di rumah menemani si kecil. Bagaimanapun, saat memutuskan untuk bekerja, Anda tahu akan ada risiko-risiko seperti ini :).