Raising A Reader: 8 Cara Seru Mewujudkannya

Tahukah Mommies kalau antusiasme anak membaca bisa padam jika dibiarkan tanpa bimbingan? Yuk lakukan 8 cara seru untuk mewujudkan raising a reader.

Akhir-akhir ini saya banyak menemukan para ibu mengunggah foto anak-anaknya yang sedang khusyuk membaca. Tagar #raisingareader, #reading, #books, #readersforlife, dan sejenisnya pun bertebaran di linimasa akun media sosial saya. Senang, sih, melihatnya. Hari gini, wajar dong kalau orangtua bangga anaknya suka membaca?

Apalagi anak-anak kita adalah generasi Z, yang sudah akrab dengan teknologi bahkan sejak masih di dalam perut. Mereka inilah para digital native atau “penduduk asli” ranah digital, yang mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi, bermain, hingga bersosialisasi. Walhasil, it’s only natural kalau ketertarikan untuk berinteraksi dengan buku  dianggap langka. Di sisi lain, jadi PR besar buat para orangtua untuk bisa mewujudkan tagar #raisingareader tadi.

Kadang, yang membuat anak menjadi seorang pembaca yang antusias bisa berupa hal tidak terduga. Bisa karena anak menemukan buku yang bisa menangkap hasrat berimajinasinya dan membawanya ke dunia fiksi yang mengasyikan. Bisa berupa sosok guru yang menugaskan anak membaca buku-buku keren sehingga meletupkan ide-ide di kepala anak. Atau, bisa jadi pengaruh dari orangtua yang mencontohkan perilaku cinta membaca — mengajak anak membaca sebelum tidur, sering membawa anak berkunjung ke perpustakaan yang keren dan toko buku, dsb.

Tapi, tahukah Mommies kalau antusiasme anak membaca bisa padam jika dibiarkan tanpa bimbingan?

raising a reader

Minat baca perlahan-lahan akan surut kalau tidak ada “reading role models” bagi mereka, yaitu sosok yang mengaturkan waktu membaca, menyodorkan pilihan bacaan, dan membantu anak memahami konteks bacaan. Akibatnya, anak jadi tidak tahu bagaimana menjadwalkan waktu membaca, atau cara memilih buku sendiri.

Sebaliknya, pembaca yang aktif dan antusias bisa memilih bahan bacaaannya secara mandiri, serta akan senang membaca dan mengulang interaksinya dengan buku. Mereka juga memandang buku sebagai reward terbaik. Kesimpulannya, kontribusi orangtua untuk #raisingaraeder – atau lengkapnya “raising a lifelong reader” – memang tidak bisa diremehkan. Dari mana kita harus memulai?

1. Read aloud (membacakan cerita dengan nyaring)

Ahli menyarankan orangtua untuk membaca nyaring pada anak setiap hari, berapapun umur mereka. Metode ini meningkatkan bonding dan menanamkan keinginan di diri anak untuk membaca sendiri. Metode ini bisa tetap dilakukan meskipun anak sedang asik bermain, lho, dengan catatan televisi dalam kondisi dimatikan.

2. Perbanyak kesempatan berinteraksi dengan buku

Anak membutuhkan rupa-rupa cara untuk ‘merespon’ buku yang dibacanya. Interaksi anak dengan buku yang sedang atau sudah dibacanya bisa tertuang melalui aktivitas menulis buku harian, mendramatisasi adegan dalam buku, membuat karya seni, dan berdiskusi tentang isi buku. Interaksi-interaksi semacam inilah yang akan mendorong penghayatan lebih lanjut terhadap buku.

3. Dedikasikan waktu dan tempat yang kondusif untuk membaca

Jadwalkan waktu khusus untuk digunakan anak membaca setiap harinya. Izinkan anak memilih bacaan apapun yang mereka sukai. Anda bisa nimbrung juga dengan membaca bareng atau mengajak anak ngobrol tentang bacaan yang dipilihnya. Sementara soal tempatnya, sebagai seorang self-proclaimed bookworm, impian saya sih punya pojok membaca seperti ini, hehehe. Tapi yang paling penting sih tempatnya mendukung untuk bisa membaca dengan tenang dan nyaman.

Gambar dari sini

4. Cari buku tentang hal-hal yang disukai anak kita

Kalau anak kita menyukai hewan tertentu, misalnya kucing, Mommies bisa coba carikan buku seperti Puss in Boots atau buku lain yang menokohkan kucing. Begitupun jika anak Mommies penggila mobil, truk, kereta atau pesawat terbang seperti anak saya.

5. Komik? Silakan aja

Sekarang ini, novel grafis menjadi kekinian di dunia penerbitan, termasuk buku untuk anak-anak. Nggak ada yang salah kok, dengan membaca komik, media ini justru bisa dimanfaatkan untuk memancing anak membaca. Ada banyak pilihan bacaan untuk anak, mulai dari yang ringan seperti Diary of a Wimpy Kid sampai komik bertema wayang seperti Ramayana.

6. Jadikan membaca sebagai family lifestyle

Sisihkan waktu untuk diisi dengan kegiatan membaca thokmatikan semua alat elektronik seperti TV, komputer, dan handphone. Galakkan program waktu membaca, baik itu lewat reading aloud maupun membaca mandiri. Anak usia prasekolah bisa diajak mengikuti aktivitas storytelling di perpustakaan atau toko buku. Untuk anak-anak yang lebih besar, bikin book club yang diisi orangtua dan anak.

Gambar dari sini

7. Berbagi tentang kecintaan Anda pada buku

Membaca di depan anak bisa menjadi contoh. Sekali-kali Mommies bisa menceritakan pada anak tentang buku yang sedang dibaca atau buku favorit Mommies. Ceritakan perasaan yang muncul setelah Mommies selesai membaca suatu buku. Jelaskan pada anak kalau membaca buku bisa mengajarkan anak tentang dunia, membantu kita memahami orang lain, dan menunjukkan  hal-hal baru.

8. Padukan membaca dengan teknologi

Tak ada salahnya mengajak anak membaca eBooks atau buku digital. Format elektronik telah terbukti sangat menarik khususnya untuk anak laki-laki dan anak yang masih enggan membaca. Lewat gadget elektronik bisa didapatkan akses yang luas untuk banyak pilihan bacaan, dan gadget juga praktis digunakan untuk membaca di perjalanan.

Gambar dari sini

Meskipun seru, ada beberapa kajian yang menunjukkan kalau aplikasi buku dan eBooks interaktif bisa mengganggu dan menghalangi daya tangkap anak saat membaca. Jadi, sebaiknya gunakan eBook yang nampak seperti buku beneran – bahkan ada juga aplikasi yang menggunakan animasi untuk meniru gerakan membalik halaman buku. Semakin mirip, semakin baik, kurang lebih begitu.

Kira-kira cara apa yang mau Mommies pilih? Atau Mommies punya trik sendiri untuk memancing anak membaca? Yuk, share di sini dan mari sama-sama kita ramaikan tagar #raisingareader di media sosial, hehehe…


Post Comment