Masa Depan Anak Kita = Banyak Kemungkinan

Kecuali kita percaya pada paranormal, kita tidak mungkin bisa melihat masa depan macam apa yang akan ditinggali oleh anak-anak kita.

Waktu saya kecil, saya suka sekali menggambar. Di kertas, di buku, di lantai, di meja, di dinding (tentunya), di segala bidang yang bisa digambar. Orangtua saya, yang capek rumahnya dicoreti segala spidol, kapur, pensil, dan krayon, memutuskan untuk membeli sebuah tripleks besar untuk saya menggambar. Ide bagus lho itu. Saya akan menerapkannya ke anak saya kalau nanti ternyata dia juga suka menggambar.

Lalu, ketika saya mulai pikir-pikir tentang jurusan kuliah, sempat kepikiran kalau saya ingin jadi tukang gambar. Cuma nggak kebayang mau jadi apa. Jadi pelukis? Kebayangnya mas-mas gondrong yang kerjaannya melamun di depan kanvas. Mau jadi komikus? Zaman saya dulu belum ada sekolahnya. Mau jadi ilustrator? Apa itu ilustrator? Nggak ada istilah ilustrator saat saya masih sekolah. Dulu, kalo mau jadi tukang gambar ya cuma jadi pelukis, kartunis atau guru kesenian.

Saya ingat, salah satu guru saya pernah bilang, “Kalau kamu mau jadi seniman, kamu harus siap hidup susah.” Ada juga yang bilang, “Kamu mau makan apa kalo jadi Illustrator/komikus/pelukis?

Hati saya mengecil. Wajar, ya. Orang dewasanya aja bilang gitu. Di mata saya, karena mereka sudah mengalami, maka mereka lebih tahu. Akhirnya, saya mencari cita-cita lain. Yang lebih masuk akal.

masa depan anak

Fast forward. Dua puluh tahun kemudian, akhirnya saya jadi tukang gambar juga. Awalnya, saya mengikuti nasihat dari orang-orang baik tadi. Hingga, suatu hari, saya menyadari bahwa zaman sudah berubah. Saya nggak lagi hidup di zaman ketika jadi tukang gambar maka hidup kita sudah pasti akan susah.

Kalau kata Pak Kahlil Gibran,

You may house their bodies but not their souls,
For their souls dwell in the house of tomorrow,
which you cannot visit, not even in your dreams.

Saya baru paham apa yang mungkin dimaksud Pak Kahlil di penggalan puisinya itu. Kecuali kita percaya pada paranormal, kita tidak mungkin bisa melihat masa depan macam apa yang akan ditinggali oleh anak-anak kita.

Orang-orang dewasa di sekitar saya dulu juga pasti tidak pernah terbayang bahwa dunia gambar-menggambar bisa berubah sebesar ini. Bahwa menggambar tidak selalu memerlukan kertas yang analog. Bahwa menggambar bisa menghidupi seseorang dengan lebih dari cukup. Bahwa dunia berubah dengan begitu cepat melebihi kemampuan mereka bermimpi.

Saya yakin, semua orangtua menginginkan anak bisa bahagia, berkecukupan dari segala segi. Dan alangkah lebih mudahnya jika kita punya bola kristal yang bisa membantu kita mengintip ke masa depan. Namun, sejatinya, kita tidak punya.

Saya mungkin tidak akan pernah bisa membayangkan dunia seperti apa yang akan ditinggali anak saya. Agak menakutkan dan mendebarkan, sekaligus membuat saya mengatur ulang prioritas kompetensi hidup yang mungkin diperlukan anak saya sebagai bagian dari generasi sekarang. But I am also excited. Ini artinya ada banyak kemungkinan dan kesempatan bagi anak saya.

Saya masih berusaha berdamai dengan ketidakbisaan saya ini. Buat saya, ini tentang menerima bahwa masa depan anak-anak adalah tempat misterius yang penuh kemungkinan dan kesempatan. Mereka bisa saja ingin jadi astronot dan saat ini kita tertawa. Padahal mungkin di nanti, jadi astronot itu sudah barang biasa. Ini tentang mendukung mereka untuk bersiap menyongsong masa depan seperti apa pun yang kelak akan mereka temui.

Ini juga pengingat bahwa kita mungkin tidak akan ada bersama mereka untuk melihatnya. Jadi yuk kita persiapkan diri agar bisa membekali mereka dengan baik untuk bertualang tanpa kita.

Wicahyaning Putri, Editor di Keluarga Kita – yang semula bernama 24hourparenting.com – kini berubah menjadi keluargakita.com. Keluarga Kita adalah penyedia konten edukasi keluarga dan berharap bisa menjadi teman seperjalanan keluarga Indonesia. Ikuti updatenya di Twitter: @KeluargaKitaID, Instagram: @keluargakitaid dan Facebook: Keluargakitaid


Post Comment