Perempuan, Waspadai Risiko Penyakit Jantung

Ternyata panyakit jantung juga berkaitan dengan tata cara pemberian makan ketika masih kecil, seperti apa cerita selengkapnya?
Perempuan, Waspadai Risiko Penyakit Jantung

Penyakit kardiovaskular, atau yang lebih umum disebut penyakit jantung, cukup menjadi perhatian pemerintah dengan anggaran BPJS sebesar 12 triliun khusus untuk penanganan penyakit ini dari total anggaran sebesar 52 triliun. Data ini diungkapkan saat pertemuan tahunan Asosiasi Jantung Indonesia pertengahan April lalu.

Saat saya tanyakan, adakah ‘resep’ meminimalkan risiko penyakit kardiovaskular non bawaan pada orang dewasa selain faktor-faktor yang ‘mainstream’ seperti pola makan sehat, olahraga, dan menghindari rokok-alkohol? Ternyata nggak ada. Sudah berputar-putar saja di situ rekomendasinya, sebagaimana yang kita sering dengar dan baca di berbagai acara dan literatur tentang kesehatan.

Tapi, ternyata ada satu faktor lagi yang baru diketahui dan selama ini agak luput dari perhatian, yaitu pola makan saat usia kanak-kanak. Yang terkait langsung dengan ini adalah pemberian susu formula dan tata cara serta jadwal pemberian makan saat mulai MPASI. Mommies zaman sekarang pasti sudah hafal kalau komposisi susu formula meningkatkan risiko obesitas di masa depan. Takaran pemberiannya yang membuat perut bayi langsung kenyang berjam-jam juga secara jangka panjang membuat anak terbiasa makan sampai perut penuhPola makan yang memaksa anak makan banyak juga bagian dari ini.

Bagaimana hal ini disimpulkan?

Baru-baru ini ditemukan bahwa foam cell, yaitu sel busa makrofag yang merupakan cikal bakal plak (endapan) penyumbat pembuluh darah penyebab serangan jantung sudah ditemukan pada anak berusia 10 tahun. Penemuan ini sebenarnya tidak sengaja karena penelitian yang menjalankan autopsi pada beberapa jenazah anak-anak dengan berbagai sebab kematian tidak terkait langsung dengan masalah obesitas ataupun penyakit kardiovaskular.

Namun bagi kalangan yang concern dengan bidang kardiovaskular, ini diartikan sebagai peringatan dini bahwa ternyata pemicu timbulnya penyakit kardiovaskular harus ditarik mundur lebih jauh dari sekadar gaya hidup semasa dewasa. Waspada, ya, Moms!

Selain perlu memonitor pola makan dan gerak anak-anak, ternyata kita juga harus mewaspadai munculnya gejala penyakit kardiovaskular yang belakangan meningkat prosentasenya di kalangan perempuan. Selama ini risiko penyakit jantung pada wanita yang masuk dalam range usia 25-45 tahun memang masih lebih rendah ketimbang pria.

Ini di antaranya karena:

  • Perempuan lebih sedikit yang terpapar atau menjadi perokok.
  • Jam kerja (bagi wanita pekerja) yang lebih pendek dibanding pria yang lebih cenderung lembur. Jadi kecenderungan untuk duduk statis dalam waktu yang lama juga berkurang.
  • Poin di atas juga terkait dengan kecenderungan untuk bergadang/kurang tidur yang lebih sedikit.
  • Tingkat stres dalam pekerjaan relatif lebih rendah (misalnya karena di beberapa bidang masih di back-up kolega pria, serta prosentase wanita yang duduk di kursi pimpinan lebih sedikit), dan
  • Kebanyakan perempuna lebih concern terhadap pola makan sehat ketimbang pria.

Satu hal yang juga cukup menentukan, adalah aktifnya hormon estrogen di masa usia tersebut. Ini penyebab pada usia di atas 45 tahun, saat mulai menopause dan tingkat hormon estrogen menurun, risiko penyakit jantung ikut meningkat tajam dan jumlah penderitanya menyalip jumlah penderita pria. Demikian pula tingkat keparahan maupun mortalitasnya.

The good news is, ini lebih banyak terjadi pada perempuan yang sejak sebelum menopause pola hidupnya sudah berantakan berdasarkan poin-poin di atas. Bagi yang konsisten hidup sehat, risikonya tentu jauh lebih rendah.

O, ya, menurut DR. Dr . Antonia Anna Lukito, SpJP(K) yang juga menjabat sebagai wakil Sekretaris I Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI), banyak perempuan yang tidak sadar kalau punya penyakit jantung bawaan sampai kemudian hamil dan ternyata kehamilan tersebut membahayakan bagi kondisi jantungnya. Karena itu disarankan sebaiknya sebelum menikah, lakukan premarital check-up yang di antaranya juga bisa sambil mendeteksi kelainan jantung bawaan pada calon ibu. Mommies tidak perlu terlalu khawatir, yang penting rutin mengecek kehamilan Anda. Kami sempat memuat kisah seorang ibu yang bernama Sazki, ia berhasil melahirkan normal dengan penyakit jantung bawaan.

Hmmm, memang ya Mommies, peran konsisten terhadap pola hidup sehat itu bisa dijadikan investasi kesehatan. Karena memang terbukti menurunkan risiko terkena penyakit jantung, dan mungkin saja penyakit-penyakit lainnya. Salah satunya rutin melakukan olahraga.


Post Comment