Angkie Yudistia: “Saya Harus Bisa Mengubah Persepsi Orang Tentang Kaum Disabilitas”

Menyelesaikan S1 dan S2 hanya dalam 5 tahun, pernah bekerja di berbagai perusahaan luar dan lokal. Hingga akhirnya mencicipi diPHK, tapi ternyata itulah titik balik Angkie berbuat sesuatu yang lebih besar.

Angkie Yudistia: “Saya Harus Bisa Mengubah Persepsi Orang Tentang Kaum Disabilitas”

Angkie Yudistia, Ibu dari Kayla (16 bulan) ini, tak pernah menyangka di usianya ke-10 ia memiliki masalah pada pendengarannya. Awalnya ia seperti anak-anak pada umumnya, sampai ketika kelas 4 SD gurunya melihat ada yang tidak beres pada pendengaran Angkie. Ibunya segera membawa Angkie ke dokter terbaik di kota Bengkulu. Kala itu, memang keluarga Angkie kerap berpindah kota karena pekerjaan ayahnya. Sampai ketika  Angkie disarankan untuk dibawa ke Jakarta, untuk menjalani tes audiologis. Hasilnya memang ada masalah, tapi belum berat, jadilah Angkie menjalani terapi.

Kami sekeluarga belum tahu persis mengapa ada masalah pada pendengaran saya, sampai kami teringat, karena kami sempat berdomisili di Indonesia Timur, tepatnya Ternate yang rawan malaria. Saya sempat demam tinggi, dan mengonsumsi antiobiotik. Tapi, belum tahu persis, penyebabnya apakah dari Malaria atau antibiotik. Karena tidak ada penelitian valid yang meneliti tentang hal itu,” begitulah Angkie menjelaskan tentang sebab musabab pendengarannya mengalami masalah. Hingga akhirnya di usia ke-28 ini, secara angka pendengaran Angkie bertengger di  angka 120, yang artinya masuk dalam kategori sangat berat.

Titik balik kehidupan Angkie

Selama melakukan sesi wawancara, Angkie menggunakan alat bantu di kedua telinganya – namun semua kata-kata yang keluar dari mulutnya nyaris sempurna. Sesempurna semangatnya untuk bangkit dan menerima keterbatasannya dengan ikhlas. Sembari mencari potensi dalam dirinya untuk ditonjolkan.

Tahun demi tahun berlalu, dan tibalah Angkie harus kuliah – tanpa dinyana oleh kedua orangtuanya ia memilih jurusan Komunikasi di The London School of Public Relations. Belum juga lulus S1, ia sudah meminta didaftarkan ke jenjang S2 kepada orangtuanya – kontan saja ibunda tercinta terheran-heran. Malah ketika Angkie memutuskan masuk jurusan komunikasi, ia sempat diboyong ibunya ke psikolog. Tapi semangat Angkie mengalahkan segalanya, ia berhasil masuk S2 dengan program akselerasi – 5 tahun saja menyelesaikan S1 dan S2.

Ada misi khusus hingga akhirnya ia memutuskan sekolah S2, bulu kuduk saya sempat berdiri ketika perempuan bertubuh langsing dan tinggi ini mengemukakan keinginanannya “Sebenarnya saya ingin membuktikan dan tidak ingin orang lain melihat diri saya dari sisi keterbatasan. Saya ingin melakukan personal branding, saya nggak mau orang menatap saya dengan kesinisan karena saya tunarungu. Saya mau orang melihat Angkie yang tunarungu tapi memiliki sesuatu, dan lingkungan saya bisa bangga. Ketika minta lanjut kuliah S2 sebetulnya saya belum lulus S1, jadilah saya ikut program akselerasi, Mama pun makin geleng-geleng kepala, hehehe. Dalam 5 tahun saya sudah menyelesaikan program S1 dan sekaligus S2,” pungkas Angkie yang juga sempat menjadi Finalis Abang None Jakarta Barat pada tahun 2008, dan Most Fearless Female Cosmopolitan.

Tak hanya itu, ia ingin menjadi perempuan bekerja, yang mandiri secara finansial. Dan kelak bisa membanggakan orangtua. Karenanya menurutnya, perempuan dengan keterbatasan seperti Angkie, dipandang masyarakat memiliki masa depan di area abu-abu – Angkie ingin mendobrak hal itu!

Sempat di-PHK hingga akhirnya merintis usaha sendiri

Ya memang benar, akhirnya Angkie pun bekerja di beberapa perusahaan besar. Menurutnya ketika ia sempat merasakan sebagai karyawan, perusahaan-perusahaan tersebut secara umum menerima dengan baik keadaan Angkie. Karena dari awal pun Angkie jujur kepada mereka tentang keterbatasannya. Namun di sisi lain, beberapa perusahaan belum tahu bagaimana harus memperlakukan seorang disable worker.

Sampailah Angkie di tahun 2011, ia diberhentikan sepihak oleh perusahaan – tanpa alasan yang jelas. Dalam sekian lama ia menganggur, ia gunakan untuk bertemu dengan banyak orang – sekali lagi untuk mencari potensi lain dalam dirinya untuk digali dan dijadikan penyemangat hidupnya.

Titik balik berikutnya adalah diri kita bisa terbentuk tergantung dengan siapa kita berteman. Saya waktu itu masih mengikuti alur. Dan akhirnya saya mencari teman-teman baru. Di situ saya menemui potensi diri saya yang lain. Jiwa sosial saya ternyata lumayan tinggi, saya punya anak yatim ketika masih kuliah, dan bergabung dengan komunitas disabilitas.”

Dari data BPS (Badan Pusat Statisitk) Angkie mendapati data, setidaknya ada 6 juta lebih disable di Indonesia. “Sebagai lulusan komunikasi saya gemas, sebetulnya ada sesuatu yang bisa dikerjakan dengan fun. Semua orang harus tahu, disabilitas itu apa, siapa? Dan berbuat apa saja? Mereka butuh kesempatan. Untuk ke arah situ, saya harus mengubah persepsi orang dulu, sebagai lulusan komunikasi saya merasa tertantang melakukan sesuatu.”

Berdirilah This Able Entreprise di tahun yang sama ia di-PHK, perusahaan ini merupakan social mikro enterprise yang mendukung para disabilitias untuk mandiri secara finansial, dengan cara memberdayakan mereka lewat produksi-produksi barang yang dibuat sendiri. Tentunya di bawah pengawasan dan mentoring Angkie.

“Saya dipinjamkan telinga melalui anak dan suami”

Angkie Yudistia: “Saya Harus Bisa Mengubah Persepsi Orang Tentang Kaum Disabilitas”

Disinggung mengenai pasangan hidupnya, wajah Angkie lebih bersemangat dan tersipu. Maklum saja ia baru menikah 2 tahun silam. Dari hasil dikenalkan oleh temannya, dan berujung ke pelaminan. Baginya suami tercinta adalah telinga kedua baginya – walau berbeda latar belakang pendidikan dan pekerjaan, Angkie merasa suaminya bisa mendukung ia dengan baik. “Saya dipinjamkan telinga, melalui pasangan hidup saya, kalau saya tidak bisa mendengar dengan jelas, dia bersedia menjelaskan ulang, dan segala hal yang tidak saya mengerti dengan jelas. Telinga saya, ada pada suami.”

Hanya “kosong” sebentar setelah menikah, lahirlah Kayla buah hati mereka. Sempat timbul kekhawatiran dalam diri Angkie, putri kecilnya memiliki keterbatasan yang sama dengan dirinya. Namun, Tuhan maha baik – Kayla terlahir sempurna, “Kayla luar biasa bawel dan sesekali membantu saya. Ia akan menepuk bahu jika ada yang memanggil tapi saya kurang mendengar. Saya memang memiliki keterbatasan, tapi Tuhan meminjamkan telinga melalui anak dan suami.”

Tuhan tak hanya meminjamkan telinga kepada Angkie lewat suami dan anaknya, tapi juga tekat baja untuk mengubah persepsi masyarakat lewat karya-karya kamu Angkie. Sukses terus ya, Angkie :)


Post Comment