Jangan Marah Terus, dong, Anakku Sayang

Anak suka marah? Upsss… jangan terbawa emosi, ya, Mommies. Ada banyak cara yang bisa kita pilih untuk meredam emosinya, kok.

Kalau ngomongin masalah emosi pada anak, pesan dari Mbak Nina Teguh sebagai psikolog anak selalu terngiang-ngiang di telinga saya. Katanya, nih, pelajaran yang penting yang harus kita kenalkan pada anak adalah bagaimana cara mereka mengenali emosi dirinya. Misalnya, saat dia senang, sedih, atau ketika marah. Selanjutnya, tahapan berikutnya pun bisa kita lakukan yaitu mengajarkan anak untuk mengelola emosi sehingga dirinya bisa menyesuaikan antara emosi yang disampaikan dengan situasi yang sedang berlangsung.

Sepengetahuan saya, sih, usia kanak-kanak di atas balita seperti Bumi ini memang sudah bisa mengungkapkan rasa marah. Nggak mengherankan dalam keseharian melihat Bumi menggerutu, dan ngambek sudah jadi pemandangan yang lumrah. Kadang, kalau saya lagi capek bin lelah jadi suka frustasi menghadapinya. Maunya jadi ngomel, hahahha.

Berhubung saya tahu ngomel nggak ada gunanya, saya pun pelan-pelan belajar untuk mengendalikan amarahnya dengan beberapa cara. Toh, peran saya sebagai orangtua memang masih diperlukan untuk membantu perkembangan dan mengarahkan kecerdasan emosinya. Selain perlu menjadi contoh, ada beberapa hal yang saya lakukan.

Mendengarkan lebih dulu

Pecaya, deh, anak juga sama dengan kita. Ketika sedang kesal dengan suami, tentu kita ingin didengarkan. Emosi bakal naik level jika suami malah cuek dan tidak merespon. Nah, hal ini pun berlaku untuk anak-anak. Mereka butuh didengarkan. Pada momen ini, jangan lupa untuk tatap matanya, ya, Mommies, jangan sambil melihat ponsel :D

Belajar lebih peka dengan perasaannya

Biasanya, nih, setelah mendengarkan apa yang membuatnya kesal dan marah, saya membiasakan diri untuk bertanya apa yang anak saya inginkan selanjutnya. Soalnya sepengetahauan saya, seorang anak cenderung punya rasa ingin tahu dan kemauan yang sangat besar, sementara ia memang belum bisa melakukannya sendiri yang akhirnya membuat  frustasi dan kesal. Di sinilah PR saya untuk bisa lebih peka dan memahami apa yang diinginkan dan dibutuhkannya.

Memberikan pelukan beruang

jangan marah dong anakku sayang

Percaya, deh, memeluk anak bisa meredam emosinya. Rata-rata, bahkan sebagian besar anak-anak yang sedang kehilangan kontrol saat dipeluk akan bisa tenang kembali. Pelukannya juga nggak perlu terlalu erat, yang jelas saya percaya kalau pelukan bisa untuk bonding dan mampu mengurangi rasa depresi dan mampu membuat anak tumbuh jadi lebih percaya diri. Makanya, sampai sekarang saya masih menjalankan ritual morning hug setiap pagi.

Mengajaknya untuk berkaca

Lho, apa hubungannya dengan ngaca? Jadi gini, lho… ketika Bumi sedang marah-marah di rumah, salah satu cara saya untuk meredam emosinya adalah dengan mengajaknya berkaca. Kebetulan, di rumah saya itu memang cukup banyak kaca. Kemudian saya akan bertanya, “Lihat, deh, wajah Mas Bumi. Kalau lagi marah kelihatan ganteng apa jelek?”. Nggak lama setelah dia menjawab, “Jadi jelek, Bu..”, Bumi pun akhirnya bisa meredam rasa kesalnya.


Post Comment