Untuk Para Orang tua Murid

Guru dan orang tua sama-sama ingin mendidik anak. Bagaimana kalau semua diawali dengan mencoba sepakat untuk menerapkan aturan yang sama?

Saya agak lupa kapan tepatnya saya membaca berita mengenai guru yang dipenjarakan karena menegur anak didiknya. Itu pun saya membacanya juga hanya sekilas. Jadi saya memang nggak mau berkomentar lebih banyak mengenai kasus itu. Tapi berita tersebut memang mengusik rasa gatal saya dengan fenomena yang kerap saya temui (setidaknya) di lingkungan sekitar saya atau dari curhatan beberapa kenalan yang berprofesi sebagai guru sekolah maupun guru les. Dan mungkin ini bisa menjadi pengingat untuk saya dan kita semua sebagai orang tua murid.

untuk para orang tua murid

*Image dari drpfconsults.com

1. Biarkan anak-anak mengerjakan tugasnya sendiri

Pernah ngalamin nggak, saat anak kita (usia 5 atau 6 tahun) mendapat tugas prakarya dan kemudian ada satu dua anak yang hasil karyanya LUAR BIASA KEREN? Yang kita aja sebagai orang tua kudu usaha untuk bisa membuat seperti itu! Sampai kapan kalau anak kita mendapat tugas lantas kitalah yang sibuk membuatnya? Percaya deh, guru bisa melihat kok, hasil sempurna tanpa cela bikinan orang tua, atau hasil karya yang masih penuh kekurangan tapi dikerjakan oleh tangan si anak :). Biarkan anak-anak memahami bahwa untuk menghasilkan sebuah karya dibutuhkan proses. Biarkan dia percaya bahwa sebuah karya yang layak tampil nggak selalu harus dibuat oleh mama atau ayahnya.

2. Biarkan anak bertanggung jawab terhadap kesalahannya

Pernah melihat orang tua, supir atau ART yang lari tergopoh-gopoh ke kelas untuk membawakan tugas si anak yang tertinggal? Anak lupa membawa tugas sekolah? Takut mereka mendapat hukuman? Biarkan saja. Seberat apa sih hukuman dari guru-guru sekarang (kalau dibandingkan dengan zaman kita dulu sekolah)? Ini membuat mereka belajar bahwa ada risiko yang ditanggung ketika mereka melakukan kesalahan. Jangan buat mereka merasa bahwa ada orang yang siap mengirimkan bantuan setiap kali mereka mendapat masalah.

3. Jangan selalu bertanya tentang nilai dan ranking

Saya pernah melihat seorang ibu yang membuang lembar ulangan si anak di depan teman-temannya karena anaknya ‘hanya’ mendapat nilai 78. Di luar nilai tinggi, di luar ranking 10 besar, ada hati anak yang terluka lho di situ! Manusia bertahan hidup kelak nggak melulu bergantung pada ranking dan nilai kok. Coba, berapa banyak teman-teman Anda yang dulu di sekolah adalah juara kelas dan saat ini menjadi orang sukses??? Nggak semua kan :D.

Selain bertanya ke guru mengenai kemampuan akademis anak-anak, tanya juga dong bagaimana anak-anak kita berinteraksi di kelas, bagaimana kemandiriannya, bagaimana jiwa kepemimpinannya? Kalau Anda nggak mau si kecil mencintai Anda karena angka yang tertera di saldo rekening Anda :p, ya jangan lakukan hal yang sama pada dirinya.

4. Biarkan guru ‘menghukum’ anak-anak kita

Saya nggak bicara tentang guru-guru yang kejam menghukum murid hingga menyebabkan murid menderita, tersiksa bahkan meninggal. Saya bicara tentang guru-guru yang menghukum murid karena mereka merasa bertanggung jawab mendidik si murid menjadi anak yang baik dan paham tata krama. Guru-guru yang menghukum murid bukan karena emosi, tapi karena mereka menyayangi dan mencintai murid-muridnya.
Jangn hanya karena anak dikerasin sedikit, disuruh membersihkan sampah, disuruh squad jump lima kali, terus atas nama Hak Asasi Manusia kita protes keras. Kembali lagi, saya bicara tentang guru-guru yang normal. Yang memberikan hukuman mendidik bukan menghancurkan.

“Ya tapiii kan guru anak gue ngasih nilai tinggi hanya untuk mereka yang prakaryanya bagus, padahal udah jelas itu dibikinin,” atau “Lah sekolah aja fokusnya cuma di nilai, mereka nggak peduli tuh sama tumbuh kembang emosi anak gue,” mungkin ini beberapa komplein dari teman-teman saya.

Pertanyaan saya: Kalau kita tahu bahwa si guru salah atau si sekolah kurang tepat dalam mendidik, apa kita malah menambah daftar kesalahan dengan ikut melakukan hal yang salah?


Post Comment