Berhenti Merokok Nggak Susah, Kok!

Lima orangtua dan calon orangtua berbagi cerita bagaimana perjuangan mereka berhenti merokok. Dan ternyata nggak sesulit yang dibayangkan, kok!

Kemarin, tepat tanggal 31 Mei,  badan kesehatan dunia milik PBB, WHO, menetapkan sebagai Hari Tanpa Tembakau Sedunia. Harapannya, selama satu hari ini para perokok aktif di seluruh dunia diimbau untuk tidak menyalakan rokoknya. Mudah-mudahan saja, hal ini terealisasi, ya. Syukur-syukur kalau akhirnya bisa berhenti secara total.

berhenti merokok

Biar bagaimana pun, kita nggak bisa menutup mana kalau merokok punya efek buruk bagi kesehatan. Ada lebih dari 4.000 zat kimia yang terdapat dalam asap rokok. Sedikitnya 250 zat berbahaya dan (50 di antaranya menyebabkan kanker) terkandung dalam sebatang rokok. Bahkan, tercatat ada 6 juta orang meninggal akibat rokok yang dihasilkan dari tembakau setiap tahunnya, termasuk 600 ribu orang yang menjadi perokok pasif.

Sedih rasanya membaca ratusan cerita yang membuktikan bahwa asap rokok begitu mematikan. Apalagi kalau melihat kondisi orangtua yang masih cuek bebek merokok di depan anaknya. Melihatnya, bikin saya ‘gatel’ untuk mengambil rokok tersebut. Mungkin mereka lupa kalau anak itu kan bukan asbak! Saya pernah membaca data riset kesehatan dasar (Riskesdas) yang menyebutkan kalau salah satu pembunuh dan penyakit terbesar nomor satu di dunia adalah polutan karena udara kotor. Dan dari semua itu yang patut diwaspadai adalah polusi dalam rumah, terutama yang disebabkan oleh asap rokok.

Untuk itu, nggak ada salahnya, yuk, kita saling mendukung dan mengingatkan kalau kita sebagai  orangtua perlu sadar kalau merokok di dalam rumah, itu artinya kita meracuni anak dengan sengaja. Toh, sebenarnya berhenti merokok itu nggak sulit, kok. Setidaknya menurut 5 sahabat baik saya di bawah ini.

Anita ‘Thatha’, Editor Mommies Daily

Gue berhenti merokok karena setelah menikah ingin langsung punya anak. Jadiiiii, gue pun langsung stop merokok, untuk meminimalisir kemungkinan gue jadi sulit hamil. Dan effort-nya nggak susah, kok, asalkan punya tekat bulat. Lagi pula inikan nggak semata-mata buat diri sendiri tapi juga buat kesehatan lingkungan sekitar kita. Gw nggak ada tuh, istilah “Pelan-pelan deh, berhenti merokoknya” alias diturunin dosisnya dari hari ke hari. Bener-bener langung STOP. Mungkin ini juga ada faktor, gue dulu itu termasuk social smoker, nggak terlalu intens merokok setiap hari, dan seperti orang sakau kalau nggak ada rokok. Syukurnya sampai sekarang keterusan, badan lebih enteng, pernapasan lebih lega, badan wangi terus karena nggak kena asap rokok. Dan bujet ngerokok bisa dialihin buat yang lain, hahahaha…

 Syachmy Suja, Pemimpin Redaksi Tabloid Frstyle

Kalau nggak salah gue berhenti merokok sejak tahun 2010,  alasan berhenti merokok sebenarnya karena batuk yang tak kunjung hilang dan sudah merasa “begah” dengan rokok. Ini adalah percobaan berhenti merokok gue yang paling lama, sebelum ini gue sudah coba berhenti merokok dengan berbagai macam metode, tapi hasilnya nggak bertahan lama.  Ada yang hanya 4 hari, ada juga yang 17 hari tanpa rokok.Pada percobaan berhenti merokok gue sebelum ini, gue mencoba dengan mengurangi frekuensi dan jumlah rokok yang dikonsumsi tiap harinya. Hasilnya nggak ngaruh, ternyata gue malah seperti balas dendam, dan merokok dengan jumlah lebih banyak dari sebelumnya. Akhirnya, setelah beberapa kali coba berhenti merokok dengan metode mengurangi nggak berhasil, gue putuskan berhenti merokok sama sekali. Jadi semenjak gue putuskan berhenti merokok sama sekali sampai sekarang nggak pernah nyentuh rokok lagi.

Swestyaning Kumalajaty, Ibu Rumah Tangga

berhenti merokok mudah kok

Sebenarnya sudah cukup lama gue mau berhenti merokok, tapi baru benar-benar berhenti ketika Adam anak pertama gue minta adik. Dari sana lantas berpikir, “Nggak mungkin, dong, kalau gue mau program hamil tapi tetep merokok? Apa jadinya kesehatan janin gue?”. Nah, dari situ, deh, gue benar-benar niat berhenti merokok sambil menyeimbangkannya dengan food combining. Sebenarnya saat sedang hamil Adam dan menyusui, gue juga sudah sempat berhenti merokok. Tapi, setelah memberikan ASIX, malah lanjut lagi. Catatannya, gue merokok juga nggak pernah di depan anak. Syukurnya 4 tahun  yang lalu, gue berhasil benar-benar lepas dari rokok. Mungkin semesta alam juga dukung kali, ya? Hahahhaa… Setelah berhenti merokok, gue sih merasa jauh lebih sehat. Kulit berasa lebih kinclong, napas nggak ngos-ngosan lagi, terutama setelah renang dan lari. Cuma memang gue jadi senang ngemil.

Panjie Prasetyo, IT di iNewsTV

Salah satu motivasi gue untuk berhenti ngerokok tentunya datang dari keluarga. Gue inget anak dan istri gue. Sebenarnya keinginan untuk berhanti merokok ini sudah cukup lama, tapi setiap kali coba, hanya bertahan beberapa hari. Segala macam cara juga sudah gue coba untuk berhenti merokok, termasuk ngikutin DVD hipnoterapi Romy Rafael. Hingga akhirnya gue benar-benar berhenti merokok tanggal 6 November 2015, pas gue dirawat di Rumah Sakit karena gue kena tipes dan bronkitis. Paling nggak sekarang gue sadar banget kalau sebagai kepala keluarga gue memang perlu memerhatikan kondisi kesehatan gue lebih dulu.

Indra Gunawan, Penulis MDMedia

Gue akuin kalau proses berhenti merokok memang lumayan butuh perjuangan, Dis…. Apalagi kalau gue lagi kumpul sama teman-teman yang perokok, godaan jadi ingin ngerokok lagi. Tapi kalau sudah niat, bisa, kok! Usahanya paling mengalihkan dengan bawa permen atau ngemil. Makanya waktu awal-awal gue stok permen terus. Tapi sekarang sudah bisa, kok, tanpa harus makan permen. Gue sudah bisa mengendalikan rokok. Karena gue juga memang ingin program anak, gue juga semakin mantap berhenti ngerokok.

Jadi IMO, berhenti atau tidaknya seseorang merokok tinggal bagaimana dia niat atau enggak, itu aja, kok. Niat sehat dan nggak mau ‘merugikan’ untuk keluarga? Ya berhenti merokok, jangan kebanyakan alasan :). Terima kasih buat sharing-nya, ya!


Post Comment