Bujet untuk Gadget, Perlukah?

Ditulis oleh: Prita Hapsari Ghozie, SE, Mcom, GCertFP,CFP®, QWP – Chief Financial Planner ZAP Finance

Wah…gadget X akan mengeluarkan seri terbaru lagi nih. Katanya seri yang ini lebih baik dibanding seri sebelumnya karena fitur A, B dan C”.

Bujet untuk Gadget, Perlukah?

Mommies familiar nggak dengan petikan percakapan di atas?. Lantaran perkembangan teknologi gadget yang berjalan sangat pesat, alhasil selalu ada produk terbaru yang diluncurkan berbagai merk gadget. Tak sampai hitungan tahun, cukup beberapa bulan saja – sekian model telepon selular, tablet, laptop dan sebagainya sudah siap diboyong calon pembelinya.

Masalahnya sekarang, perlukah perkembangan teknologi terus diikuti dan ujung-ujungnya membeli atau menukar tambah gadget dengan seri terbaru menjadi sebuah keharusan? Yuk, kita bahas kaitan antara keinginan membeli gadget baru dengan pengelolaan keuangan agar bisa menjadi konsumen yang cerdas!  Supaya keuangan

  1. Pahami Keinginan VS Kebutuhan

Sebelum membeli sebuah barang, ada baiknya kita melakukan analisa kebutuhan atau keinginan. Analisa kebutuhan atau keinginan merupakan metode untuk menilai kategori barang yang akan dibeli, apakah tergolong ke dalam kelompok kebutuhan sehingga realisasi pembeliannya perlu segera direalisasikan atau tergolong sebagai keinginan sehingga realisasi pembeliannya bisa ditunda untuk sementara waktu.

Suatu barang dikategorikan sebagai kebutuhan apabila kegunaan barang tersebut bisa menunjang kebutuhan utama seperti kebutuhan dasar hidup (pangan, sandang dan papan) ataupun kebutuhan penunjang karier. Sebaliknya, suatu barang dikategorikan sebagai keinginan apabila barang tersebut hanya berfungsi sebagai pelengkap kebutuhan pokok sehingga ketiadaannya tidak akan menggangu pemenuhan kebutuhan hidup contohnya barang- barang luxury.

Tidak ada ketentuan bahwa suatu barang pasti tergolong ke dalam kelompok tertentu. Beberapa barang bisa saja dikategorikan sebagai keinginan bagi seseorang, namun di sisi lain barang tersebut bisa jadi dikategorikan sebagai kebutuhan bagi pihak lain. Sebagai contoh, SLR bisa dikategorikan sebagai kebutuhan apabila Mommies berprofesi sebagai fotografer karena manfaat SLR akan menunjang produktivitas kerja. Sebaliknya apabila SLR digunakan sebagai penyalur hobi memotret maka SLR dikategorikan sebagai keinginan.

Hal yang sama juga berlaku pada rencana pembelian gadget baru. Analisis kebutuhan atau keinginan perlu dilakukan untuk menilai kategori gadget baru yang akan dibeli. Apabila gadget tersebut masuk ke dalam kebutuhan, maka realisasi rencana pembelian gadget bisa dilanjutkan. Untuk memenuhi kebutuhan dana gadget, pemanfaatan fasilitas kredit cicilan 0% bisa dijadikan prioritas utama. Fasilitas ini membantu Bunda untuk memenuhi realisasi pembelian gadget baru tanpa mengganggu pengeluaran bulanan. Sebab dana pengeluaran bulanan tidak banyak teralihkan sebagai dana pembelian gadget. Apabila fasilitas cicilan 0% tidak tersedia maka dana gadget sebaiknya dikumpulkan dari hasil menabung selama beberapa waktu.

Sebaliknya, realisasi pembelian gadget baru perlu ditunda apabila gadget tersebut tergolong sebagai keinginan. Sebelum merealisasikan suatu keinginan, sebaiknya analisis tambahan perlu dilakukan yaitu Analisa Skala Prioritas. Setiap manusia pasti memiliki keinginan yang tidak terbatas, sayangnya pemenuhan keinginan tersebut dibatasi oleh sumber daya yang dimiliki. Sehingga pemenuhan kebutuhan perlu didahulukan dibandingkan keinginan. Keinginan membeli gadget bisa terpenuhi bila terdapat kelebihan dana setelah memenuhi kebutuhan yang memiliki skala prioritas lebih tinggi. Sebagai contoh, Bunda memperoleh dana komisi atau bonus sehingga memiliki kelebihan dana untuk membeli gadget baru.

  1. Musibah Tidak Terduga

Terkadang, musibah seperti kehilangan, pencurian atau kerusakan gadget datang secara tidak terduga. Apabila hal tersebut terjadi maka status pembelian gadget baru akan tergolong sebagai kebutuhan. Untuk itu realisasi pembelian gadget baru harus segera dilakukan. Dana pembelian gadget baru bisa diambil dari alokasi dana darurat yang dimiliki. Hal ini sesuai dengan fungsinya untuk membiayai kebutuhan dana saat terjadi hal- hal tidak terduga.

Salam konsumen cerdas ya! Live a beautiful life!


Post Comment