Hipertensi Pada Bayi & Anak, Mengapa Bisa Terjadi?

Siapa bilang hipertensi hanya bisa diderita orang dewasa atau lansia saja? Hati-hati, bayi dan anak-anak pun bisa mengalami hipertensi.

Beberapa hari lalu saya sempat menghadiri media edukasi yang dilangsungkan Perki House bersama Indonesia Society of Hypertension (InaSH). Waktu itu, banyak sekali hal yang diulas mengenai masalah hipertensi, salah satunya hipertensi pada anak. dr Arieska Ann Soenarta SpJP(K) FIHA salah satu pendiri InaSH menjelaskan kalau banyak masyarakat yang kurang paham kalau hipertensi bisa dialami anak-anak bahkan bayi.

hipertensi pada anak

Faktanya, prevalensi hipertensi pada anak saat ini 1-2%. Hal ini diketahui lewat sebuah penelitian dan angka ini terus mengalami peningkatan. Rupanya hal ini disebabkan oleh beberapa hal, mulai faktor kegemukan di mana anak kurang bergerak, asupan makanan yang tinggi garam, stress yang biasanya terjadi pada remaja, dan masih ada banyak faktor lainnya.

Sementara peningkatan insiden hipertensi dewasa sebagian besar justru terjadi karena tidak dilakukannya deteksi dini pada masa kanak-kanak. Artinya, deteksi dini pada masa kanak-kanak perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya hipertensi pada masa dewasa.

“Anak dengan hipertensi empat kali lebih besar untuk menderita hipertensi ketika dewasa. Hal ini akan terjadi jika hipertensi tidak terdeteksi atau orangtua tidak jeli untuk mencaritahu problem kesehatan anak,” ujarnya

Berbeda dengan orang dewasa yang mengalami hipertensi primer atau sekunder, hipertensi pada bayi dan anak-anak mengalami hipertensi sekunder yang disebabkan oleh penyakit atau kelainan di dalam tubuh. Kelainan ginjal di jaringan terdapat 78%, kelainan endokrin seperti hipertiroid, hiperaldosterone, obat-obatan dan penyempitan pada aorta.

Dr Ann juga menjelaskan kalau pada bayi baru lahir, hipertensi dapat terjadi karena renal artery thrombosis (gumpalan darah di ginjal). Sedangkan pada anak-anak, hipertensi disebabkan oleh kelainan sekunder, yaitu kelainan ginjal di jaringan (78%), kelainan endokrin seperti hipertiroid, hiperaldosterone atau Conn’s Syndrome dan lain-lain (12%), obat-obatan dan Coarctation of the Aorta (penyempitan pada aorta). Sedangkan pada usia dewasa muda, hipertensi seringkali disebabkan oleh kelainan esensial atau primer seperti faktor keturunan dan gaya hidup yang tidak sehat.

“Oleh karena itulah orangtua harus lebih waspada, dan melakuan observasi tekanan darah bisa dimulai saat anak berusia di atas 3 tahun,” ungkap dr. Ann. Apalagi kalau memang kita sebagai orangtua memiliki riwayat hipertensi atau diabetes.

Waktu itu dr. Ann juga memaparkan kalau standar tekanan darah pada anak memang rumit karena akan terus berubah seiring perkembangan tubuh mereka. Misalnya, pada anak 5 tahun, tekanan darah normal adalah 127 – 130 / 86 mmHg, sementara pada anak 10 tahun 127/86 mmHg. “Yang pasti, kalau anak sudah hipertensi atau punya orangtua dengan hipertensi itu harus menjadi peringatan,” tegasnya.

Adapun pengobatan hipertensi terbagi menjadi dua, yaitu nonfarmakologis dan farmakologis. Di mana pemberian obat ini akan disesuaikan dengan usia anak, tingkat hipertensi dan respons terhadap pengobatan. Dr. Ann juga berpesan agar orangtua memerhatikan gaya hidup anak, jangan menjadikan gadget ‘sababat’ anak, apalagi kalau membuat anak jadi malas melakukan aktivitas fisik. Penggunaan garam pada makanan juga harus dibatasi. Langkah ini sebenarnya merupakan cara pengobatan hipertensi nonfarmakologis. Sedangkan farmakologis pemberian obat antihipertensi kepada anak.

“Sekarang, tidak sedikit orangtua yang senang sekali mengajak anak ke mall, setelah itu duduk makan, dan anak dbiarkan main gadget saja. Jalan-jalan ke mall memang boleh, tapi seimbangkan dengan aktivitas fisik dan asupan makanan juga,” paparnya lagi.


Post Comment