10 Cara Kelola Stres untuk ‘Memudahkan’ Program Hamil

Ternyata mendapatkan anak ke-2 tidak semudah yang saya bayangkan sebelumnya. Mungkinkah salah satu penyebabnya diakibatkan faktor stres?

Elo, sih… kerja terus sampai malam, makanya jadi belum hamil-hamil juga”

“Adonannya kurang pas kali, tuh, Dis. Bumi sampai sekarang belum punya adik, deh”

“Kalau lagi program punya anak, nggak usah terlalu dipikirin, Dis… yang ada nanti malah jadi beban dan elo yang stres sendiri. Akibatnya elo malah nggak hamil-hamil… makanya santai aja”

Entah berapa puluh bahkan ratusan petuah yang sudah mampir di telinga saya, mulai dari petuah yang penuh goyon hingga yang serius. Iya, sudah hampir tiga tahun saya melepas IUD lantaran memang  berencana mau hamil (lagi).  Kerinduan ini juga bisa terlihat dari anak saya, Bumi, yang bolak balik tanya kapan dia punya adik. Ahhh… andai saja program anak ke-2 itu semudah bikin kue…. tapi kan kenyataannya nggak bisa begitu, ya?

TESTPACK - STRESS-2

Sebenarnya saya dan suami juga nggak terlalu ngoyo, tapi kalau mengingat usia yang sudah nggak muda lagi, saya kok cukup khawatir ya? Meskipun hamil di usia 40 nggak selamanya buruk, tapi kalau membayangkan kondisi fisik yang sudah nggak ‘segagah’ dulu, saya tetap berpikir sekarang ini waktu yang idealnya untuk program hamil lagi.

Balik lagi ke petuah yang sering saya dengar dan tulis di atas, menurut Mommies alasan mana yang paling masuk akal? Bisa jadi, tiga alasan di atas memang benar. Tapi saya sendiri percaya kalau  stres dapat memengaruhi terjadinya kehamilan. Paling nggak, saya paham kalau emosi negatif itu juga memengaruhi sistem tubuh perempuan.

Saya pernah membaca sebuah artikel kesehatan yang menuliskan kalau stress dapat mempengaruhi fungsi hipotalamus, yakni kelenjar di otak yang mengatur nafsu makan dan emosi, serta hormon yang memerintahkan ovarium untuk melepaskan sel telur. Pendapat ini dinyatakan Menurut Toni Weschler, pakar kesuburan ternama dari Amerika Serikat. Artinya, ketika seorang perempuan merasa stress, ada risiko terjadinya ovulasi akan semakin kecil, bahkan tidak berovulasi sama sekali.

Hal ini pun seakan diamini Anna Surti Ariani SPsi, MSi, Psi. Kebetulan beberapa waktu lalu saya mengikuti kultwit yang dibuatnya. Lewat akun twitter miliknya @AnnaSurtiNina,  ia membenarkan kalau stres bisa memengaruhi kerja otak sehinga siklus ovulasi mama mungkin terganggu, akibatnya lebih sulit menjalankan program hamil.  Menurutnya, jika kita stres kadang menyebabkan nggak terlalu peduli apa yg dimakan dan apa yang dilakukan sehingga tidak mendukung kehamilan.

Mau nggak mau akibat stres ini, bisa membuat keinginan berhubungan seks mungkin berkurang. Soalnya, ketimbang  menerima colekan dari suami, kita para perempuan cenderung lebih memilih tidur saja *eh, kok, kita? Jangan-jangan cuma saya, ya? Hahahaaha… tapi benar juga, ya? Sementara, buat para suami, stres tinggi kabarnya juga berpengaruh terhadap kualitas sperma. Tentunya hal ini berpengaruh terhadap keberhasilan hamilkan?

Intinya, sih, kalau hubungan intim dilakukan dengan perasaan stress, akan terasa hambar karena kita menjalaninya hanya karena faktor kebutuhan saja sehingga kebutuhan seksnya tidak terpenuhi dan terekspresikan dengan benar. Dalam kultwit-nya, Mbak Nina juga menuliskan kalau perempuan bekerja cenderung lebih rentan merasa stres. Pasalnya, ada banyak hal yang rentan jadi sumber stres saat kita bekerja. Mulai dari merasa terbeban dengan load pekerjaan, tekanan dari atasan, atau bahkan kondisi teman kerja yang menyebalkan dan tidak bisa diajak kerja sama.

Tapi…. bukan berarti karena ingin lepas dari stress dan hamil lantas memutuskan langsung resign, lho, ya….  Sejauh mampu kelola dengan baik, rutinitas sebagai ibu bekerja bisa dilakukan seperti biasa dan memerhatikan beberapa hal.

  1. Evaluasi lagi pekerjaan, apakah ada tugas-tugas yang bisa didelegasikan kepada bawahan atau dibuat lebih efektif lagi pelaksanaannya?
  2. Negosiasi pekerjaan dengan atasan, misalnya dengan mengurangi keluar kota, atau mengurangi dulu beberapa tanggung jawab.
  3. Konsentrasi penuh saat bekerja, jangan menggosip, main game, agar pekerjaan cepat selesai, dengan begitu nggak perlu membawa PR ke rumah.
  4. Jangan yakini bahwa diri kita mudah stres, namun sebaliknya yakini bahwa kita tangguh dalam hadapi segala tantangan kerja.
  5. Sempatkan berkonsultasi dengan dokter kandungan, mungkin ada hal-hal khusus yang perlu dilakukan agar cepat hamil.
  6. Tetapkan standar keberhasilan secara realistis, jangan berharap terlalu tinggi lalu stres karena gagal.
  7. Jika mengalami kegagalan, yakini bahwa ada pelajaran penting di balik itu, yang justru membuat kita bisa lebih berhasil kelak.
  8. Selalu fokus pada apa yang bisa dilakukan, bukan apa yang tidak bisa dilakukan atau gagal, agar lebih efektif dalam bekerja.
  9. Jika selalu kena macet, dari pada stres, beradaptasilah. Misalnya dengan menikmati macet sambil mengobrol atau mendengarkan musik di radio favorit.
  10. Tetap usahakan makan makanan bergizi, atur waktu istirahat, supaya tetap fit. Ingat, di dalam tubuh sehat ada jiwa kuat bukan?

Setelah membaca kultwit yang dijelaskan oleh Mbak Nina, saya pun lantas berpikir, benar juga, ya, mungkin perjalanan panjang panjang menuju kehamilan ke-2 ini memang harus saya lalui, tentunya perlu me-realize stres lebh dulu. Dan yang nggak kalah penting untuk diperhatikan, saat ini saya pun memerhatikan dengan mengikuti diskusi di forum mengenai asupan susu, makanan serta supplement saat perencanaan hamil. Siapa tahu saja impian punya anak perempuan bisa terwujud. Minta amiin-nya, ya, Mommies :)


Post Comment