Pentingnya ‘Merangkul’ Teknologi Demi Masa Depan Anak

Setuju nggak, sih, kalau saya bilang orangtua masa kini sudah nggak bisa melarang anak menggunakan gadget? Apalagi kalau ingat, 10 tahun ke depan lapangan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) akan meningkat 17%. Jadi, yakin mau melarang anak melek teknologi?

Suatu hari, ada salah satu teman yang baru menyandang status ibu bertanya ke saya, “Dis, ngeri, deh, gue kalau baca berita soal dampak buruk penggunaan gadget pada anak. Hari gini, mungkin nggak, sih, menjauhkan anak dari  gadget?”.

Sampoerna Academy2

Saya pun langsung menjawab. “Nggak bisa! Lah wong dari anak dalam kandungan aja dia sudah terpapar sama gadget? Jadi menurut gue akan susah sekali menjauhkan anak gadget. Kitalah yang  bertugas mengarahkan bagaimana agar teknologi tersebut bermanfaat buat anak-anak”.

Anda sependapat dengan saya? Saya sendiri tambah yakin dengan jawaban saya ini setelah mengikuti acara The New Age of Motherhood: Raising Your Child With Technology yang kami langsungkan bersama Sampoerna Academy beberapa waktu lalu.

Waktu itu, Mbak Vera Itabiliana selaku psikolog anak dan remaja yang menjadi nara sumber mengatakan saat ini teknologi ibarat baju. Jadi rasanya sulit dilepaskan dari kehidupan seseorang. Saya sendiri sangat setuju dengan pendapatnya.

Ketika ngomongin masalah penggunaan gadget, rasanya zaman sekarang memang agak sulit jika kita melarang anak-anak untuk ‘berkenalan’ dengan gadget. Biar bagaimana pun, anak kita ini adalah digital native, anak-anak yang hidup dalam dunia digital. Sehingga memang sudah sangat ‘melek’ teknologi. Sementara kita, sebagai orangtua justru adalah digital imigrant. Selayaknya pendatang, sudah tentu kita perlu banyak belajar dan beradaptasi.

Sampoerna Academy

Nah, dari pada terjebak dan parno dengan segala sisi negatif yang ditimbulkan, kenapa kita nggak fokus dengan sisi positifnya saja? Soalnya, teknologi memang punya banyak manfaat, selain jadi melek teknologi, anak-anak bisa meningkatkan komunikasi karena teknologi memfasilitasi interaksi sosial. Bahkan, dengan kemajuan teknologi anak-anak bisa meningkatkan kemampuannya untuk berkreasi karena bisa berbagai hasil seni ataupun tulisan.

Menurut Mbak Vera, yang paling penting adalah bagaimana orangtua mampu berperan membuat gadget lebih dari sekedar screen time. Sarannya, manfaatkan gadget untuk menjalin komunikasi yang hangat, santai dan terbuka dengan anak. Jadi, jangan lupa untuk ajak anak berdiskusi. Selain itu, tentu saja harus menjadi contoh less gadget life. Maksudnya, paham akan batas waktu dan tempat dalam  penggunakan gadet.

“Jadi jangan lupa terapkan aturan. Jangan lupa, terapkan aturan bermain. Tentukan waktu dan wilayah yang boleh dan tidak boleh. Kalau saya, ketika di rumah dan saat makan nggak boleh ada gadget”.

Dalam hal ini, Mbak Vera juga mengakui kalau orangtua nggak bisa kerja sendiri, untuk itulah perlu dukungan dari lingkungan seperti sekolah yang mendukung teknologi positif. Tentu saja sekolah yang mendukung anak untuk kemajuan anak di masa datang.

Soalnya, tahun 2011 lalu, Biro Statistika Tenaga Kerja Amerika Serikat juga menyebutkan kalau dalam 10 tahun ke depan lapangan pekerjaan yang membutuhkan kompetensi science, technology, engineering, arts dan math (STEAM) akan meningkat 17%. Artinya, anak yang melek teknologi akan tentu ke depannya bisa menjadi tenaga kerja yang terampil.

Adalah Sampoerna Academy, sebuah lembaga pendidikan yang mengedepankan pendidikan berbasis STEAM (science, technology, engineering, arts dan math) akan mengasah anak untuk menggunakan logikanya dengan baik. Jadi, bisa dibilang metode belajar yang ditawarkan di sini memang tidak sama dengan sekolah yang lain.

sampoerna

Meskipun bebas menggunakan gadget di sekolah, bukan berarti nggak ada aturannya, lho. Yang jelas, di Sampoerna Academy anak-anak diajarkan untuk mengasah logikanya. Hal ini dijelaskan oleh Yannik  Herawaty, selaku Kepala Sekolah Sampoerna Academy. Soalnya pendidikan berbasis STEAM yang diterapkan Sampoerna Academy membuat anak-anak kita mengerti filosofinya dibanding dengan pendidikan yang basisnya hanya menghapal.

“Kita mencoba mencari cara bagaimana teknologi ini bisa digunakan secara bijak. Di sekolah juga lebih interaktif dan meaningful, jadi nggak ada menggunakan gadget tapi tidak ada gunanya. Jika alasan orangtua ataupun kami selaku pihak sekolah memberikan gadget ke pada anak hanya karena ingin anak anteng, tentu salah. Kami memberikan gadget di mana gadget ini tentu kita memantau, dan mendesain agar lebih meaningful, ada tujuannya. Gadget hanyalah tools, sehingga proses belajar ajak anak untuk diskusi sehingga mengajar lebih interaktif,” paparnya

Jadi, kapan STEAM ini perlu diajarkan? Seperti yang dijelaskan Erna Maria Lokollo, Vice-Dean and Lecturer Sampoerna University Ternyata STEAM ini perlu diajarkan sedini mungkin.  “STEAM itu bukan seperti mengajarkan anak  rumus matematika tapi lebih bangaimana anak belajar mengasah logika. Misalnya, anak diajak untuk mengamati kerang di laut, dijelaskan mengapa kerang warnanya berbeda, ada yang cokelat dan ada warna lainnya, kenapa, kerena ini dipengaruhi proses fotosintesa,” terangnya. Karena pada dasarnya dasar pendidikan di Sampoerna Academy adalah how to think, bukan what to think.

Wah, saya kok, tertarik dengan metode yang diterapkan Sampoerna Academy ini, ya. Kalau Mommies yang lain, gimana?