Tidak Ada Kesempatan Kedua untuk Para Pemerkosa

Kasus pemerkosaan diikuti tindak pembunuhan kembali terjadi di Indonesia. Bukan di kota besar, namun tindak pemerkosaan sudah sepantasnya mendapat perhatian besar dari kita, tak peduli di mana itu terjadi.

Saya sendiri cukup terlambat mendengar berita menyedihkan ini. Padahal, mengutip infomasi dari www.bbc.com, berita mengenai seorang siswi SMP yang ditemukan tewas tanpa busana telah muncul sejak Selasa, 5 April lalu dalam beberapa situs berita lokal Bengkulu.

Laman social media teman-teman saya mulai ramai dengan hastag #NyalauntukYuyun kemarin pagi hingga hari ini. Membaca kronologis mengenai apa yang dialami oleh Yuyun membuat emosi saya naik turun bak roller coaster. Diperkosa oleh 14 laki-laki dengan kisaran usia yang sebagian besar tidak berbeda jauh dari korban dan didorong ke jurang hingga mengakibatkan ia meninggal. Sudah sedemikian matikah hati nurani kita?

jagat-media-sosial-pada-senin-252016_20160503_070454

Membaca alasan para pelaku melakukan hal tersebut, semua berawal karena mereka kerap menonton film porno di rumah ataupun di ponsel saat tidak ada orang tua, dan ditambah dengan mereka habis mengonsumsi minuman keras. Ah, lagi-lagi film porno, akses internet yang tidak diikuti dengan kecerdasan emosi dan tanpa pendampingan orang tua serta konsumsi minuman keras. Dan, terakhir yang saya dengar para pelaku HANYA dijatuhkan hukuman 15 tahun penjara, ada juga yang menyebutkan 30 tahun penjara (correct me if I’m wrong ya Moms.). Tapi, sepadankah itu dengan apa yang telah mereka lakukan?

Saya bukan psikolog, saya juga bukan polisi, ataupun tenaga medis, saya hanya seorang ibu dari dua anak laki-laki yang hanya ingin anak-anak saya tumbuh dalam dunia yang lebih ramah. Dan yang pasti bukan dunia seperti sekarang ini.

– Bukan dunia di mana para pelaku pemerkosa dan pembunuhan Yuyun hanya dihukum 15 tahun penjara untuk lantas bebas begitu saja.Tidak bisakah kita menuntut hukuman yang jauh lebih tepat untuk mereka?

– Bukan dunia ketika kasus pemerkosaan di sebuah kota yang tidak dekat dengan gemerlap Jakarta tidak mendapat sorotan yang luas dari masyarakat kita dan juga pemerintah. Apa harus kasus ini terjadi pada orang yang kita kenal, baru kita peduli, bersuara dan bertindak?

– Bukan dunia yang penduduknya mulai kehilangan empati dan kepedulian terhadap kasus yang sudah menyeramkan seperti ini.

– Bukan dunia yang membuat perempuan merasa takut untuk berjalan sendiri atau merasa tidak bebas untuk berpakaian seperti apapun yang kita mau.

– Bukan dunia yang memberikan kesempatan kedua kepada para pemerkosa.

Maaf, karena untuk kasus pemerkosaan saya tidak bisa menampilkan pribadi saya yang pemaaf, saya tidak bisa mencoba melihat masalah dari berbagai sisi, saya tidak bisa memaklumi tindakan yang merusak masa depan orang kemudian menghilangkan nyawa seseorang. I don’t believe in second chance untuk para pemerkosa.


Post Comment