Orang Tua, Jangan Salah Kaprah Menyayangi Anak

Jika pola asuh yang kita lakukan malah akan membentuk anak menjadi pribadi yang (mungkin) tidak disukai oleh lingkungan di sekitarnya kelak, apakah itu yang dinamakan sayang?

Minggu kemarin, anak saya, Djati, opname di RS karena terkena DBD. Sembari menunggu kamar pasien siap, kami ditempatkan sementara di sebuah ruang observasi yang terletak di Poli Anak. Di ruang observasi itu, ada satu anak perempuan yang juga terkena DBD dan juga harus dirawat. Waktu menunggu yang luar biasa lama, hingga 7,5 jam (IYAAAAAAA…… 7,5 jam untuk menunggu kamar ready!!) membuat saya terlibat obrolan dengan orang tua dari anak perempuan itu. Dan, membuat saya jadi bisa melihat perilaku si orang tua dan anak yang cukup membuat saya elus-elus dada.

Singkat cerita, ternyata orang tua dari anak perempuan ini pada tahun 2009 pernah kehilangan anak pertamanya yang meninggal karena DBD, so, IMHO, itu yang melatarbelakangi kenapa kayaknya mereka SABAR luar biasa menghadapi sikap si anak. Dan, saya jadi paham, kenapa si anak jadi bersikap seperti itu. Saya sangat melihat, tatapan sayang yang terpancar dari mata si ayah, tatapan cinta dari sang ibu. Sayangnya, menurut saya, rasa sayang membuat mereka salah kaprah dan takutnya, malah berbalik menjadi senjata makan tuan untuk mereka. Kenapa saya mengatakan begitu?

pola asuh yang salah

1. Usia anak itu 4 tahun, beratnya 40 kilogram, karena ternyata dia sangaaaaat doyan susu formula. Sang nenek bercerita, setiap kali membuat susu untuk cucunya, di dalam botol susu kapasitas 240 cc, susu bubuknya sendiri harus setengah botol. Kalau tidak, botol itu bisa dilempar dan si anak menuntut untuk dibuatkan yang baru. Dan, orang tuanya tidak melarang. Bisa dibayangkan, berapa besar kandungan gula yang dikonsumsi anak ini? Berapa besar biaya yang perlu dikeluarkan setiap bulan untuk susu formula? Sedangkan saya tahu, keluarga ini bukan dari kalangan berlebih secara finansial. Belum lagi bicara obesitas yang sudah harus dialami oleh anak sekecil itu. Saya tidak fokus pada berat badannya, tapi lebih kepada pembiaran yang dilakukan oleh orang tuanya.

So sad. Saat rasa sayang malah membuat anak berada dalam kondisi tidak sehat. Saat rasa sayang membuat anak bebas menuntut tanpa melihat kondisi atau kemampuan orang tuanya. Menurut saya ini rasa sayang yang salah kaprah.

2. Saat ibunya mencoba membujuk anak ini untuk makan, karena selama 7,5 jam anak ini hanya makan sedikiiiit, sang anak, sambil tiduran dan asik bermain gadget, dengan lantang berteriak “Nggak mau makan, gila lo!!!” Can you imagine? Anak usia 4 tahun, mengata-ngatai ibunya gila, di depan orang banyak. Dan sang ayah, hanya mengelus rambut anaknya, sedangkan si ibu berlalu keluar ruangan.

Saya tidak suka menghakimi, tapi jujur saja, saya sedih melihat kondisi ini. Sedih melihat ibu yang tidak dihargai, sedih melihat ayah yang tidak punya keberanian serta wibawa. Sedih karena anak ini tidak diajar untuk belajar menghargai orang lain. Kalau dia bisa bersikap seperti ini ke orang tuanya, saya tidak bisa membayangkan bagaimana sikap dia terhadap orang lain.

Selama 7,5 jam kemarin saya mendapat pelajaran yang sangat berharga, untuk diri saya dan anak-anak saya. Kadang, atas nama sayang, kita sebagai orang tua memang suka lupa memberikan batasan, teguran dan tanggung jawab ke pada anak-anak. Padahal, itu yang akan menjadi bekal mereka kelak menghadapi dunia yang sesungguhnya, bukan?

Kalau, rasa sayang yang kita berikan, membuat anak-anak menjadi pribadi yang tidak disukai oleh lingkungan di sekitarnya, membuat anak-anak menjadi tidak siap menerima masalah, membuat anak-anak tidak bisa menerima penolakan, apakah itu benar-benar rasa sayang? Saya yakin kita semua tahu jawabannya.


Post Comment