Biar Anak Tidak Gampang Menyerah…

Ditulis oleh: Nayu Novita

Membuat anak tumbuh menjadi pribadi yang tidak gampang menyerah memang tak semudah membalik telapak tangan, tapi ada kok cara-cara yang bisa kita lakukan.

Sebagai orang yang punya karakter semiperfeksionis (perfeksionis tapi nggak segitu hebohnya, hehehe), saya punya kebiasaan mengoreksi dan mengambil alih pekerjaan yang hasilnya menurut saya kurang sreg di hati. Payahnya, kebiasaan itu saya terapkan juga ke si kakak (10) dan si adik (5) di rumah. Saya suka gatal ingin mengulurkan bantuan kalau mereka kelamaan melakukan sesuatu.

Tapiii… ibarat senjata makan tuan, kebiasaan mengoreksi itu sepertinya membuat anak-anak jadi berbalik mengandalkan saya untuk melakukan berbagai hal. Mereka jadi cepat mogok ketika melakukan sesuatu yang agak sulit. Lama-lama, saya jadi khawatir sendiri kalau kebiasaan itu merembet ke urusan sekolah dan lainnya. Saya kan nggak mau punya anak yang mudah menyerah (toyor diri sendiri!)

Melalui curhatan sesama orang tua :D, saya mulai menyadari kesalahan pola asuh selama ini dan mulai mengoreksi diri sendiri. Saya share ya…

anak tidak gampang menyerah

1. Jangan buru-buru mengulurkan tangan
Tidak semua masalah membutuhkan kehadiran orang tua sebagai “dewa penolong”. Kalau sifatnya tidak urgent, saya berikan kesempatan pada anak untuk mencari jalan keluar sendiri. Sekalian melatih urat sabar saya, hahaha. Setiap mereka sukses menemukan solusi, mereka jadi makin pede lho!.

2. Berikan semangat & motivasi
Anak-anak terkadang memerlukan kehadiran seorang “cheerleader” untuk memberi semangat dan meningkatkan rasa percaya diri. Misalnya, nih, saat saya melihat adik menunjukkan gelagat hendak menyerah ketika memasang tali sepatu (padahal kemarin dia bisa melakukannya dengan baik), saya berikan semangat dengan mengatakan “Ayo dek, kamu pasti bisa. Kemarin kan sudah bisa.”

3. Hargai usahanya (meski gagal sekalipun)
Akhirnya si kecil berhasil mengikat tali sepatu, meski tali yang satu lebih panjang dibandingkan tali sebelahnya? Ketimbang mengoreksi (seperti yang pernah saya lakukan), hargai usaha yang dikerahkannya. Jangan melontarkan komentar negatif atau pujian bersyarat, seperti “Adik hebat bisa ikat tali sepatu sendiri. Coba kalau lebih rapi, tambah hebat lagi, deh!”

4. Berikan contoh
Membiarkan anak berjuang mengatasi masalah sendiri memang baik untuk kemandiriannya. Tapi, membiarkannya mencoba terlalu lama tanpa hasil hingga berujung frustasi juga tidak baik untuk rasa percaya dirinya. Kalau usahanya mulai mandek, biasanya saya kasih contoh.

5. Pelihara sikap optimis
Orang tua adalah panutan bagi anak-anaknya. Apa pun yang menjadi pandangan hidup orang tua, sedikit banyak akan terserap masuk dan menjadi bagian dari karakter anak-anak. Jika kita terbiasa memandang kehidupan secara optimis dan tidak mudah berkeluh-kesah, maka kemungkinan besar kebiasaan tersebut akan menular. Makanya, saya tunjukkan deh kalau Mamanya nggak mudah “mengeret” bila tertimpa masalah.

6. Biasakan hidup mandiri
Sejak dini, ajari anak untuk hidup mandiri dan belajar merawat dirinya sendiri. Mulai dari mandi dan berpakaian sendiri, memasang sepatu, membereskan mainan, dan makan tanpa disuapi. Beranjak besar, berikan kesempatan untuk ikut andil dalam pekerjaan rumah. Tanggung jawab untuk menunaikan tugas-tugas sederhana seperti itu akan membantu meningkatkan keterampilan serta memupuk rasa percaya dirinya.

7. Ajak mencoba hal-hal baru
Semakin sering terpapar hal-hal baru, anak akan semakin luwes melatih kemampuan beradaptasi dan mencari solusi atas permasalahan yang dihadapinya. Jadi saya memberi kesempatan pada anak-anak untuk mencicipi pengalaman baru. Ikut workshop teater, latihan panjat tebing, dan bereksperimen dengan cita rasa kuliner dari berbagai negara.

Sudah 2 bulan saya melakukan ini, dan hasilnya lumayan sih (daripada lumanyun), setidaknya mereka jadi mencoba dulu, baru meminta bantuan kalau sudah benar-benar nggak bisa.


Post Comment