Membesarkan Anak Dalam Keterbatasan

Pasangan ini memiliki keterbatasan pendengaran, lalu bagaimana mereka membesarkan tiga buah hatinya?

Membesarkan Anak Dalam Keterbatasan

Cinta orangtua kepada anak memang tanpa syarat dan tak mengenal kondisi, sekalipun sang orangtua dalam keterbatasan. Mereka tetap membesarkan buah hati tercinta seperti orangtua pada umumnya. Adalah Amanda Farliany Faishal dan Tonan, keduanya memiliki keterbatasan pendengaran. Manda sendiri diketahui mengalami tuna rungu saat berumur 6 bulan, saat itu ia sedang bermain dengan ibunda tercinta. Namun ada yang aneh, karena Amanda tidak pernah sekalipun melirik ke arah mainan yang sedang dibunyikan.

Mulai “Akrab” dengan Keterbatasan

Sekian tahun berlalu, Manda mulai terlatih membaca gerakan bibir lawan bicaranya. Tahun demi tahun ia jalani tanpa merasa janggal, karena sampai kelas 6 SD Manda sekolah di sekolah luar biasa. Di sini ia merasa semuanya normal dan baik-baik saja,tidak ada yang salah dengan dirinya. Karena memiliki lingkungan yang senasib dengannya. “Petualangan” sebenarnya baru Manda hadapi ketika masuk SMP umum, tak jarang teman-temannya mengejek Manda. “Saya hanya bisa bengong karena memang tidak tahu dan mengerti apa yang sedang mereka ucapkan kepada saya, kalau sudah begini, saya hanya bisa pasrah dan menangis,” papar Manda kepada saya lewat surat elektronik.

Situasi semacam ini berlangsung berulang kali dan berdampak pada kondisi psikis Manda “Kondisi lingkungan seperti ini menyebabkan saya menjadi anak yang minder dan tertutup, meski begitu saya masih memiliki teman-teman yang baik hati – menghibur setiap kali menghadapi masa-masa sulit,” jelas Manda. Ditambah saya memiliki Mama yang hebat, ia berpesan untuk menjadi orang yang pemaaf dan tidak pendendam. “Kamu harus sabar, jangan mudah marah, apalagi membalas perbuatan mereka. Berpikir positif saja, supaya hatimu tenang dan tidak terbebani,” ujar ibunda Manda.

Memutuskan untuk Menikah

Tak terasa Manda mencapai usia yang sudah pantas dipinang laki-laki pilihannya, pernikahan pertama terjadi ketika Manda berusia 22 tahun, dan dikaruniai satu orang anak, Alyssa (10). Tapi sayang hanya bertahan 3 tahun. Menginjak usia 25 tahun, Manda berjodoh dengan laki-laki yang juga tuna rungu. Hingga kini mereka dipercaya membesarkan 3 anak perempuan Alyssa ( 10th), Fumiko (5 th), Kenna (3 th) (termasuk dari pernikahannya yang terdahulu.)

Membesarkan Anak Dalam Keterbatasan

Pada awal ingin menikah sempat terbesit kekhawatiran kalau keturunannya juga mengalami tuna rungu, tapi kuasa Tuhan berkata lain. Ketiga anak Manda lahir dalam keadaan pendengaran yang sempurna.  Dalam praktiknya mereka berdua saling bantu mengurus anak, dan terbiasa dengan bahasa tubuh bayi ketika menginsyaratkan sesuatu. Tentu saja mereka juga dibantu oleh alat dengar. Kini anak-anak mereka sudah pandai berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. “Terkadang saya sendiri suka lucu melihat mereka bicara nggak pakai suara, hanya dengan bahasa isyarat.” Mereka belajar bahasa isyarat dari Manda, yang masih bisa bicara dengan suara pelan, sambil mempraktikkan versi bahasa isyaratnya.

Selain bahasa isyarat khusus, Manda dan pasangan juga harus pandai-pandai membaca ekspresi wajah anak-anak. Misalnya mau makan, tidur, mandi dan lain-lain. Ketika saya bertanya mengenai tantangan terbesar apa yang mereka hadapi, Manda justru merasa luar bisa mengurus tiga puterinya ini. Intinya berjuang bersama pasangan untuk membesarkan anak-anak.

Manda berpesan bagi orangtua yang sedang berada di kondisi yang sama dengan dirinya, hendaknya bisa bersikap sepenuh hati merawat dan anak-anak, selalu berpikir positif karena dengan begitu bisa melakukan hal-hal yang luar biasa. Tak hanya itu, “Keyakinan MAMPU untuk melakukan sesuatu itu penting, kalau yakin bisa pasti akan bisa, diiringi semangat dan jangan sampai putus asa, ” tutup Manda.


Post Comment