The Power of Laughing at Yourself

Menjadi orang tua masa kini dibutuhkan kemampuan yang baik untuk menertawakan diri sendiri.

Setiap kali ngumpul dengan geng ibu-ibu, berbagi pengalaman dan cerita pengasuhan anak, entah kenapa saya merasa hati menjadi hangat. Dari berbagi cerita, sebenarnya semua ibu punya cita-cita yang sama (dan seringkali nggak muluk-muluk :p) yaitu ingin menjadi orang tua yang lebih baik dengan membuat perubahan-perubahan kecil di dalam keluarga masing-masing. Tentunya bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna apalagi dijadikan ajang berkompetisi.

Dukungan sesama ibu adalah kekuatan tersendiri yang membuat kita merasa lebih berdaya menghadapi tantangan sehari-hari dalam mengasuh anak, menjadi pasangan, menantu atau anak dari seseorang.

Menjadi orang tua adalah salah satu perjalanan paling emosional. Saya ingat sekitar 4 tahun lalu, dalam sebuah perjalanan menuju luar kota bersama teman baik yang juga orang tua baru, tiba-tiba saya nyeletuk, “Nggak nyangka ternyata jadi orang tua nggak gampang.” Ia pun menimpali, “Ada yang pernah bilang gampang?”

TERTAWA

Saya mungkin salah satu orang yang dulu cukup naif bahwa perjalanan hidup akan mengalir dengan sendirinya. Well it is tho, sampai di suatu titik lahirlah bayi lucu dengan segala tantangannya, dan mulai sadar, nggak ada yang namanya sesuatu yang berjalan lancar dan menyenangkan tanpa usaha:)

Saya senang mengikuti kelas, seminar, talkshow parenting dan sejenisnya. Bukan cuma untuk menyerap informasi, tapi untuk bertanya pada diri sendiri seberapa serius keinginan saya mau belajar. Walau saya percaya yang namanya ikut kelas parenting, nggak menjamin saya lantas melakukan perubahan secepat kilat :p. Tapi sering ngumpul dengan orang tua lain yang memiliki niat sejalan dan berbagi itu memang sangat membantu untuk menguatkan.

Saya banyak ketemu ibu-ibu di kelas Rangkul . Rangkul adalah singkatan dari relawan penggalang keluarga, yaitu gerakan pemberdayaan orang tua yang diinisiasi oleh Keluarga Kita. Dalam kelas Rangkul yang menjadi fasilitator adalah orang tua yang telah mendapatkan materi pengasuhan dari Keluarga Kita dan mendapat pembekalan cara menjadi fasilitator.

Di kelas Rangkul ini saya menemukan cara dan keasikan baru dalam belajar tentang pengasuhan, dalam suasana santai dan informal, saya merasa berdaya karena nyaman untuk menjadi diri sendiri, nggak perlu jaim atau khawatir di-judge :p.

Saat menjadi fasilitator dan membagikan materi pengasuhan, bagian yang paling seru adalah bagian berbagi cerita lucu seputar pengasuhan di rumah dan tertawa bareng. Memang benar, the power of laughing at yourself, paling efektif untuk mencairkan yang mandeg di dalam diri kita sekaligus membangun koneksi yang baik dengan orang di sekitar kita (ini hasil riset, lho :D). Kelucuan biasanya berasal dari penerimaan diri dan kesadaran atas hal-hal yang masih menjadi kekurangan diri sendiri saat berhadapan dengan anak dan keluarga.

Di kelas Rangkul para ibu berbagi ide bagaimana mengatasi diri dengan lebih baik agar bisa berhadapan dengan anak dengan lebih baik juga. Membuka diri untuk mau berbagi dan mendengarkan adalah kunci dari pemberdayaan diri.

Rasa yang dominan setelah selesai sesi adalah lega dan senang karena banyak belajar dan tentunya merasa berdaya. Berdaya tidak selalu tentang melakukan hal-hal besar yang luar biasa dalam skala yang luas. Dengan menjadi pendengar yang baik dan berbagi tawa dan rasa juga bisa memberdayakan orang lain.

Yulia Indriati, Content Manager di Keluarga Kita – yang semula bernama 24hourparenting.com – kini berubah menjadi keluargakita.com. Keluarga Kita adalah penyedia konten edukasi keluarga dan berharap bisa menjadi teman seperjalanan keluarga Indonesia. Ikuti updatenya di Twitter: @KeluargaKitaID, Instagram: @keluargakitaid dan Facebook: Keluargakitaid


Post Comment