Arlien Panambang, Cerita Penantian Panjang Mendapatkan Buah Hati

Tidak ada kata menyerah dalam kamus kehidupan Arlien Panambang. Hal ini bisa tercermin lewat usaha kerasnya selama 12 tahun untuk mendapatkan buah hati. Setelah puluhan kali mencoba pengobatan alternatif, melakukan 7 kali inseminasi, dan 3 kali proses bayi tabung, akhirnya penantian panjangnya pun membuahkan hasil manis.

Memang nggak bisa dipungkiri, kalau kehadiran buah hati dalam sebuah pernikahan mampu mengubah segalanya menjadi lebih indah. Kehadiran seorang anak sangat penting, tidak hanya karena anak merupakan amanah dan titipan dari Tuhan yang harus dijaga, anak pun menjadi penerus keturunan. Saya sendiri merasa cukup beruntung karena saat ini sudah memiliki seorang putera yang diberi nama Bumi. Selang 6 bulan menikah, saya memang lantas dinyatakan hamil.

Sayangnya, memang tidak semua pasangan diberikan kemudahan seperti saya. Tidak sedikit saudara, sahabat atau kerabat yang harus melewati penantian panjang bahkan harus melakukan berbagai cara dan program untuk mendapatkan keturunan. Salah satunya adalah pasangan Arlien Panambang dan Ario Panambang.

arlien

Belum lama ini saya sempat berbincang dengan perempuan yang kini menjabat sebagai Product & Brand Deputy Manager PT. Rohto Laboratories Indonesia. Rupanya, penantian mendapatkan kehadiran buah hati dilalui dalam rentang waktu yang relatif panjang, selama 12 tahun. Ingin tahu perjuangannya seperti apa mendapatkan Araya dan Arwen (5 tahun) ? Baca kutipan obrolan saya dengannya, yaaa…

Ceritain, dong, … bagaimana suka duka perjalanan Anda selama 12 tahun merindukan kehadiran si kembar?

Sebenarnya saya sama suami sudah bersama-sama dari SMA, makanya kalau tantangan AADC itu nggak ada apa-apanya, kurang menantang buat saya, ahahaha. Kalau merujuk hasil pemeriksaan dokter, nggak ada yang salah dari kami berdua, hanya saja ternyata kondisi sel telur dan sperma itu memang katanya tidak cocok. Tapi masa, sih, hanya karena itu mau ganti pasangan? Bagi kita bukan itu solusinya.

Saya ini sudah 7 kali inseminasi, suntik darah putih suami supaya tingkat alerginya menurun,  dan mencoba 3 kali bayi tabung. Alhamdulillah yang terakhir ini berhasil. Tapi waktu hamil dulu saya juga merasa kepayahan karena sering perdarahan, melahirkannya juga prematur karena saya juga kena preeklampsia. Jadi untuk mendapatkan anak memang perjuangan sekali.

Syukurnya, dukungan pihak keluarga juga sangat besar, mertua selalu membesarkan hati saya dengan bilang memang belum rezeki. Suami juga pernah bilang, ‘Sudah, deh, kita adopsi saja, anak itu kan titipan Allah, jadi memang nggak mesti dari rahim kamu, kok’. Tapi saya yang penasaran, masa sih nggak bisa?. Terus terang saja selama 12 tahun itu saya merasa down, tapi suami selalu membesarkan hati saya. Akhirnya saya bilang kalau mau berusaha secara maksimal sampai batas usia tertentu setelah itu kalau memang tidak berhasil, baru adopsi.

arlien3

Sebenarnya apa, sih, yang membuat Anda yakin dan pantang menyerah melakukan proses bayi tabung sampai 3 kali?

Yang terakhir bayi tabung ini juga saya sudah pasrah, waktu itu mencoba di Surabaya dengan dr Aucky Hinting, SpAnd, PhD. Pas proses bayi tabung ke-3 ini bisa dibilang saya lebih cuek dan pasrah. Pagi suntik, sore lalu pulang, selain itu saya juga masih melakukan business trip. Kalau yang pertama dan kedua, saya sampai cuti, sementara yang ke-3 ini boro-boro, deh,  tapi alhamdulillah rezeki.

Sebenarnya saya hanya ingat janji Allah saja, kalau Allah nggak akan kasih cobaan yang melebihi kemampuan umatnya. Jadi saya yakin Allah itu percaya saya sanggup menjalaninya. Apalagi kalau ingat dengan tudingan orang. Tuduhan mandul itu sering datang untuk perempuan.

Tudingan seperti itu sempat ‘mampir’ ke Anda?

Iya, pasti. Dulu, banyak sekali teman yang bilang, mungkin cobaan ini membuat saya bisa naik kelas, saya jawabnya nggak apa-apa, deh, kalau memang nggak naik kelas, saya tinggal kelas aja. Kalau ingat seperti ini saya masih sedih. Makanya support system dari keluarga sangat penting, terutama suami.

Dari pengalaman Anda melakukan proses bayi tabung, apa, sih yang harus benar-benar diperhatikan?

Sebenarnya kuncinya nggak boleh stress. Bayi tabung inikan sebenarnya prosesnya hanya mengantarkan si embrio dekat ke rahim, tapi masalah menempel itu, kan kekuasaan Allah. Saya sudah merasakan di RS Harapan Kita, Siloam Jakarta dan akhirnya ke Surabaya, prosesnya 100% itu sama. Tapi mungkin karena saya yang terakhir jalaninnya lebih santai akhirnya malah jadi, karena menjalankan proses bayi tabung ini memang nggak mudah.

Mengingat proses mendapatkan si kembar ini nggak mudah, sempat dilema nggak ketika memutuskan untuk tetap bekerja?

Pasti! Memiliki anak ini bisa dibilang perjuangan setengah mati, mulai dari suntik hormon sampai berat badan naik drastis 30 kg. Segala pengobatan altenatif juga sudah dicoba. Baru akhirnya setelah 12 tahun pernikahan saya dikasih si kembar. Jadi pasti kan ada perasaan, duh… sudah dapatnya susah, masa sih ditinggal kerja lagi? Tapi suami saya bilang, “Kenapa harus resign? Yang penting support system keluarga itu jalan. Apalagi kamu ini terbiasa aktif, wara wiri, nanti malah kalau di rumah kamu jadi pusing. Lagi pula saya maunya anak perempuan kita itu tumbuh jadi anak yang mandiri, bisa struggle dengan dunia, dan hal itu bisa dipelajari dari orang terdekatnya, ibunya’. Karena suami sangat mendukung untuk tidak berhenti kerja, ya, akhirnya saya memutuskan untuk bekerja.

arlien2

Menurut Anda, pelajaran apa saja yang bisa didapatkan si kembar dari ibunya yang bekerja?

Ya, saya memang melihat anak-anak jadi lebih mandiri, sih. Tapi tetap saja kalau ada ibunya jadi lebih manja. Saya juga melihat anak-anak ini lebih gampang bersosialisasi dengan orang dan lingkungan baru, mungkin karena dari usia usia 2 tahun sudah sekolah di Rumah Main Cikal di fX.

Bagaimana dengan pola asuh yang Anda terapkan pada si kembar?

Saya sih banyak trial and error, saya sering banget baca Mommies Daily. Mommies Daily itu jadi bacaan wajib saya. Tapi pada praktiknya pola asuh inikan juga harus dilihat dengan karakter anak. Meskipun kembar, anak-anak saya juga tetap saja individu yang berbeda. Dari dulu saya juga bukan tipe ibu yang senang memberikan barang kembar buat anak-anak.  Dalam mendidik anak-anak, saya juga bukan tipe otoriter, tapi harus tetap tegas. Saya sama suami itu senang  baca dan ikutan seminar parenting, misalnya kelas Ibu Elly Risman. Selain itu suami juga sangat sadar kalau perannya sangat besar untuk anak-anak perempuannya. Dan memang, sih, saya lihat anak-anak ini sangat dekat dengan ayahnya.

—-

Ngobrol dengan Mbak Arlien ini banyak memberikan insight berharga buat saya. Malu rasanya kalau saya ini banyak mengeluh karena keinginan untuk hamil lagi dan mendapatkan anak perempuan masih belum terwujud. Karena di luar sana, masih banyak perempuan yang mungkin tidak seberuntung saya. Dari sini, saya seakan dingatkan kembali kalau memang harus lebih banyak belajar bersyukur dengan rezeki yang sudah didapatkan. Terima kasih buat sharing-nya, ya, Mbak….


2 Comments - Write a Comment

  1. Ibu arlien ini termasuk yang beruntung, beliau memiliki suami yang always support dan lingkungan yang menguatkan beliau, saudari saya juga belasan tahun belum dikaruniai keturunan. Begitu melahirkan anak pertama, eh taun berikutnya sudah ada yang nongol lagi.. padahal usia sudah sangat matang smile emoticon untuk para wish to be mom, jangan pernah pesimis, usaha jalan terus, tapi tetap santai n pasrah aja ya..

    1. adiesty

      Hallo Mbak… iya, saya juga salut banget dengan pasangan yang seperti ini. Memang harus saling mendukung, ya… dan kuasa Tuhan yang memang sangat menentukan. Tp tentunya kita juga harus berusaha semaksimal dulu…. :)

Post Comment