Susahnya Bilang “Cinta” ke Ibu

Ditulis oleh: Nina Samidi

Apa arti ibu bagi Anda? Pertanyaan klise, tetapi selalu sulit (atau gengsi) untuk dijawab. Apalagi kalau pertanyaannya diganti menjadi, ”Bagaimana cara kamu bilang cinta ke ibu?”

Pada 12 Mei 2008, sebuah gempa mengguncang Wen-Chuan, Cina. Tentara dan tim penyelamat berkeliling mencari korban. Suatu ketika, mereka menemukan sebuah tubuh dengan posisi yang aneh di bawah timbunan tanah dan rumah yang rubuh. Tubuhnya seperti sedang bersujud, dengan lengan dan lutut menyangga reruntuhan. Setelah digali, ternyata di bawahnya ditemukan bayi berselimut bunga-bunga. Rupanya, ibu yang ditemukan meninggal itu menggunakan tubuhnya untuk melindungi bayinya, yang saat ditemukan sedang tertidur nyenyak. Di bawah selimut ditemukan ponsel dengan layar bertuliskan, “Jika kau selamat, anakku, ketahuilah bahwa aku mencintamu.” Saat itu juga, seluruh tim penyelamat meneteskan air mata mereka.

Dalam keadaan terdesak, cinta ibu kepada anak bisa menguatkan dirinya. Karena cinta ibulah — terlepas dari kasus-kasus penyimpangan psikologi ibu yang berbuat buruk pada anaknya — hampir semua anak di seluruh dunia mengidolakan ibu mereka.

Tapi kalau mau jujur, nih, mungkin semua anak pun setuju kalau hubungannya dengan ibu tak selalu mulus. Bahkan ketika saya meminta teman-teman saya mengungkapkan cintanya kepada ibu, tidak sedikit yang enggan, entah karena gengsi atau hubungan yang tidak mulus tadi. Tapi bagaimanapun, rasanya semua setuju bahwa cinta ibu tidak tertandingi, meski mungkin caranya tidak selalu indah. Seperti yang mereka ungkapkan berikut ini.

cinta ibu

“Bagi saya, ibu banyak artinya, terutama mengenai perannya pada keberadaan seorang manusia di dunia ini. Tetapi, sayangnya, banyak ibu yang menjadi arogan dengan mem-bully anaknya karena merasa bahwa surga di bawah kakinya.” – Budhy Pande, Jakarta.

“Ibu itu emak; orang yang harus masak, beberes, mencuci, tempat mengadu, pelampiasan kesel, minta uang kalau kepepet, tempat semuanya, deh. Tapi kelak berbalik, semua kita kasih ke ibu.” – Hermin Dewi Nurjanah

“Ibu itu sosok yang penuh kontroversi, terlebih di masa-masa anak sekolah dan urusan pasangan hidup. Namun demikian, sebesar apapun gap yang ada, tidak pernah ada yang menandingi dalamnya cinta kasih dan pengorbanannya. Berulangkali jatuh-bangun hubungan dengan ibu, pasti akhirnya kita akan merindukan sosok dan sisi lembut mereka.” – Chika Franciska

“Ibu terkadang mejadi perempuan yang agak menjengkelkan dengan segudang peraturan dan nasihatnya soal pacaran, sekolah, berteman, dan lain-lain. Tapi tetap, ketika masalah datang, ibu yang pertama kali dicari.” – Gevi

Bagaimanapun, cinta ibu ada sejak anak lahir, dan saya termasuk orang yang percaya, tak ada satu pun ibu yang jahat. Hanya keadaan yang membentuknya, apakah cinta itu membuatnya lemah atau kuat. Tapi yang pasti, seperti yang diungkapkan penulis buku Mothers Thoughts, Linda Wooten, “Being a mother is learning about strengths you didn’t know you had and dealing with fears you never knew existed.”