Novi Esra & Frisa, Cerita Dua Pengusaha Berbasis Kain Indonesia

Menjelang Inacraft 2016 yang akan berlangsung tanggal 20 April 2016, saya mengajak ngobrol dua entrepreneur perempuan yang berbasis wastra Nusantara, Novi Esra dan Frisa.

Bulan April ini, bagi sebagian (banyak) orang sangat ditunggu-tunggu, karena ada satu ‘the most anticipated’ event yang tidak akan dilewatkan. Yes, INACRAFT. Ini adalah pameran kerajinan terbesar di Indonesia. Pameran ini bahkan sudah beberapa tahun ini menjadi agenda wisata unggulan bagi Indonesia, sehingga banyak wisatawan yang datang dan menyesuaikan waktu kedatangannya dengan waktu pelaksanaan Inacraft.

Inacraft juga menjadi agenda wajib bagi craft addict untuk berburu barang-barang craft, termasuk fashion, wastra nusantara, furniture dan kerajinan khas Indonesia lainnya. Di sisi kreativitas dan entepereneurship, Inacraft telah melahirkan beribu pengrajin, produsen dan wirausaha berbasis craft Indonesia ini.

Saya mengajak ngobrol dua entrepreneur wanita yang sudah beberapa kali mengikuti Inacraft, yang bisa disebut pengusaha berbasis wastra Nusantara. Novi Esra adalah pemilik Ziba Label dan Nima, dan Frisa yang memiliki label Jeges.

Berikut obrolan saya dengan dua perempuan pecinta kain tradisional Indonesia ini.

ziba3
Ziba Label by Novi Esra

 Bagaimana awalnya memulai bisnis fashion craft, atau fashion berbasis wastra Indonesia ini?

Novi : Saya mulai terjun secara serius di bisnis ini pada akhir tahun 2010, namun untuk brand Ziba Label sendiri sudah ada dari awal 2009, namun belum fokus di fashion RTW (ready-to-wear) dengan sentuhan kain-kain Indonesia. Diawali dengan memproduksi sendiri beberapa pakaian jadi, koleksi pertama memakai batik cap garutan yg colorful dan dipasarkan melalui sosial media.

Frisa : Tahun 2010 saya mulai mengoleksi batik dan pelan-pelan merambah mengoleksi tenun Lombok. Dalam 2 tahun, koleksi saya cukup banyak, dan mulai berpikir untuk berjualan kain. Saya mulai mencari nama yang unik untuk usaha saya. Akhirnya saya memilih nama JEGES yang berasal dari bahasa Tapanuli, yang berarti cantik. Nama ini sangat sesuai menggambarkan wastra nusantara dan para wanita yang memakainya. Juni 2012 adalah pertama kali berjualan kain di suatu acara organisasi wanita. Kemudian pada bulan Juli 2012 baru kami memulai membuat fashion line untuk wanita dengan bahan batik dan tenun. Desain pertama kami adalah cropped jacket tenun lombok.

photo 1 fris
Mbak Frisa (Jeges)

Tell me about your brand (Ziba, Nima dan Jeges), apa inspirasinya, bagaimana karakter brand ini?

Novi : Ziba ini lahir dari kecintaan saya pada kain tradisional, karena saya memang pencinta kain dan suka ngumpulin kain, cuma kadang bingung mau dipakai kemana. Dari sanalah lahir keinginan untuk produksi baju dengan kain tradisional yang bisa dipakai sehari-hari. Di tahun 2010-an, belum terlalu banyak pilihan untuk baju kain tradisional yang casual.

Banyak orang beranggapan, kain Indonesia, terlihat berat bangeeeet, terlihat tua, nggak bisa dipakai sehari hari, intinya, cuma ibu-ibu yang mau pakai produk dari kain tradisional, hehehe. Di sinilah tantangan buat Ziba bagaimana membuat RTW ethnic tapi terkesan ringan. Sejauh ini cRTW Ziba Label benar benar bisa digunakan untuk daily activity oleh konsumen Ziba.

Seiring berjalannya Ziba, komunitasnya terbentuk sendiri, dari komunitas dan konsumen Ziba inilah terlahir ide untuk melahirkan second brand, NIMA. Di mana kebutuhan atasan polos, yang clean cut dan loose dari linen atau katun untuk dipasangkan dengan kain kain tradisional. Di sinilah konsep NIMA lahir, tidak selamanya kain tradisional harus berpasangan dengan kebaya atau baju kurung tradisional :)

ziba 2
Sneak peek Ziba Label for Inacraft 2016

Frisa : karakter desain JEGES mengalami evolusi seiring berjalannya waktu. Pada awalnya desain-desain kami sangat menitik-beratkan penggunaan tenun sebagai bahan baku. Namun kemudian kami juga menggunakan batik pada desain kami, karena batik lebih mudah perawatannya dibanding tenun.

Konsep desain kami berfokus pada penggunaan wastra nusantara dengan desain modern untuk busana wanita sehari-hari. Maksudnya, penggunaan wastra nusantara bukan hanya untuk acara resmi saja seperti resepsi. Tapi juga bisa dipakai untuk bekerja dan beraktivitas sehari-hari

Mengapa tertarik dan cinta dengan batik/wastra nusantara?

Novi : Saya memang suka kain dari sejak lama, cinta pertama saya adalah batik sogan Jogja parang barong, setelah itu saya bisa dibilang terobsesi dengan kain tradisional mulai dari batik, tenun, songket, dll. Kain tradisional ini unik, di setiap kain ada ceritanya, sehingga kainnya jadi berkarakter.

Menurut Novi & Frisa, bagaimana sih selera konsumen sekarang terhadap pakaian atau kerajinan Indonesia? (Berdasarkan pengalaman selama ini, mungkin terkait batik atau kain yang seperti apa, model dll)

Novi: Apresiasi konsumen terhadap pakaian atau kerajinan Indonesia cukup baik, ini terlihat dari antusiasme pengunjung di banyak pameran kerajinan, begitu juga dengan transaksinya. Untuk seleranya variatif tergantung segmen.

Namun yang menjadi PR adalah bagaimana kita berbagi tentang kain atau produknya sendiri terhadap konsumen, terutama untuk konsumen yang baru belajar menyukai pakaian atau kerajinan tradisional. Banyak sekali konsumen yg belum tahu tentang kain Indonesia, jadi kadang ciri khas kain, proses pembuatan kainnya sampai akhirnya jadi baju atau kerajinan lainnya mereka belum begitu paham.

Seperti produk handmade lainnya, kain-kain ini banyak yang tidak sempurna. Banyak sekali customer yang bertanya, kenapa garis sogan-nya nggak lurus, kenapa tenunnya nggak smooth, kenapa pengulangan motifnya nggak simetris dan banyak lagi lainnya. Di sinilah tugas saya dan tim untuk menjelaskan. Jadi tantangan terbesarnya, membantu customer dalam menentukan pilihan dengan berbagi informasi sehingga mau membeli pakaian atau kerajinan Indonesia tampa merasa rugi membelinya.

Frisa : Selera konsumen fashion Indonesia sangat beragam. Secara umum, konsumen menghargai produk fashion yang terbuat dari wastra Indonesia dengan desain modern dan trendy, dapat dipakai untuk kegiatan sehari-hari dengan perawatan yang mudah serta harga bersahabat. Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan yang luar biasa pada market fashion hijab. Selain itu juga ada niche market untuk couture fashion.

Koleksi Jeges
Koleksi Jeges

 

Bagaimana cara mereka berkompetisi dan bertahan di bisnis ini?


Post Comment