4 Saat Terbaik untuk Resign dari Pekerjaan dan Mengembangkan Bisnis

Merasa takut atau nggak yakin ingin sepenuhnya terjun ke dalam dunia bisnis dan menjadi entrepreneur? Saya pernah merasakan hal yang sama. Tapi terbukti sejauh ini saya enjoy menjadi entrepreneur. Kalau saya bisa, Mommies juga pasti bisa!

Hari ini, delapan tahun yang lalu, saya sedang deg-degan di meja kerja saya karena akan mengajukan surat resign. Bukan hanya resign dari pekerjaan yang saya cintai tapi memutuskan untuk menjadi full-time entrepreneur dan mengembangkan Female Daily, yang dulu masih sangat kecil, setelah hampir 10 tahun kerja sebagai orang kantoran!

Tentu saja ada alasan kuat di balik keputusan besar yang saya lakukan. Walaupun perut mules, deg-deg-kan luar biasa dan dihadapi dengan pertanyaan dari semua orang – saya sendiri sudah mantap mengambil langkah tersebut. And you know what? I made the right decision! Hari ini, 8 tahun kemudian, saya bersama Hani dan Nopai, 2 partner saya, sedang asik-asiknya menjalankan dan mengembangkan bisnis kami, yang sekarang terdiri dari 38 karyawan.

Semua orang yang mulai berbisnis pasti bermimpi bisnisnya akan bertumbuh besar sehingga bisa dijadikan sumber penghasilan utama. Tapi kenyataannya, pada saat masih dirintis, bisnis kita boro-boro punya keuntungan besar, nggak rugi pun sudah bagus.  Untuk mommies yang biaya hidupnya masih bisa ditanggung oleh suami (atau orang tua – ahem) mungkin punya pilihan untuk full menekuni bisnis. Tapi bagi kebanyakan mommypreneur baru, mau nggak mau kita harus bisa juggling merintis bisnis sambil mempertahankan pekerjaan kantoran yang memberikan kita penghasilan tetap. But of course you wouldn’t want to keep doing that forever, right?

Saya sering sekali mendapatkan pertanyaan “Kapan saat terbaik untuk resign dari pekerjaan dan mengembangkan bisnis?”.  Jawabannya ternyata tidak sederhana karena kondisi orang sangat berbeda-beda. Tapi saya coba kasih beberapa contoh ya mommies, yang bisa dijadikan tanda bahwa ini saatnya resign dari pekerjaan dan mengembangkan bisnis.

tanda untuk resign dan mengembangkan bisnis

1. Bisnis sudah mengambil waktu kantor terlalu banyak

Kadang-kadang kita harus multitasking, mengerjakan pekerjaan kantor sambil mengurusi bisnis. Tapi kalau “kadang-kadang” berubah menjadi “setiap hari”, rasanya sudah tidak fair lagi ya untuk perusahaan tempat kita bekerja kalau waktu, energi dan pikiran kita tidak 100% untuk pekerjaan kantor. Saya juga percaya bahwa effort yang setengah-setengah akan membuahkan hasil yang setengah-setengah juga, jadi kalau mommies sudah merasa korupsi waktu terus di kantor untuk mengurusi bisnis, mungkin sudah saatnya nyemplung total menjadi full-time entrepreneur supaya bisnisnya juga lebih bisa cepat berkembang.

2. Penghasilan yang didapatkan dari bisnis sudah menyamai atau bahkan melebihi gaji bulanan

Well this is a no-brainer. Tapi masih banyak saya mendengar orang yang tetap tidak berani resign dari pekerjaannya, walaupun bisnisnya sangat menghasilkan, karena tetap merasa uang yang didapat dari bisnis itu tidak pasti. Memang benar, namanya bisnis pasti ada pasang dan surut. Tapi kalau kita tidak berani mengambil risiko, kita juga tidak akan pernah tau seberapa jauh bisnis kita bisa berkembang. Taking risks is a big part of building a business so you might as well start now.

3. Kita sudah mulai mendapatkan keluhan dari pelanggan bisnis

Sepintar-pintarnya kita membagi waktu, pasti akan datang saat di mana kita dihadapkan dengan dua pilihan yang sama pentingnya. Harus meeting dengan atasan, padahal ada customer bisnis kita juga yang harus didatangi karena  urgent. Mana yang harus dipilih? Kalau kita serius dan ingin bisnis kita punya masa depan yang panjang, kita harus ingat bahwa kepuasan pelanggan itu hal yang utama. Jadi kalau kita sudah beberapa kali mengecewakan mereka, you might want to seriously consider resigning from your day job, because once a customer leaves, there is almost zero chance they will come back.

4. If you don’t move now, your competitor will

Ide bisnis yang brilian bisa jadi basi saat orang lain lebih dulu menjalankannya. Di saat inilah kita harus berani mengambil keputusan untuk mendedikasikan waktu dan tenaga untuk merintis bisnis, supaya tidak keduluan orang lain. Ini juga salah satu hal yang mendasari keputusan saya untuk resign, karena 8 tahun yang lalu, belum ada perusahaan yang membuat online media seperti yang saya dan Hani rintis. Dan kami tahu bahwa dalam beberapa tahun, dunia digital di Indonesia akan take off. We had a strong feeling that we must act now before anyone else catches up. Tterbukti, beberapa tahun setelah perusahaan ini berjalan, industri digital di Indonesia makin meriah dan kami adalah pemain pertama di segmen ini. That gives us a lot of first movers’ advantages.

Kalau mommies tidak mengalami 4 kondisi di atas tapi masih punya keinginan kuat untuk resign dan sekarang jadi makin galau – tenang! Di artikel berikutnya saya akan share, hal apa yang sebaiknya dipersiapkan sebelum memantapkan diri untuk resign dan menjadi full time entrepreneur.

In the meantime, ingin tanya-tanya? Tinggalkan komen di bawah ya!


Post Comment