Sandiaga Uno, “Anak-anak Perlu Tahu Kesuksesan Tidak Datang Begitu Saja”

Sebagai pengusaha sukses, Sandiaga Uno dan istri punya cara khusus agar ketiga buah hatinya bisa tumbuh menjadi pribadi yang kuat dan tidak menyerah. Seperti yang ia katakan, “Anak-anak perlu tahu bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja”.

Nama Sandiaga Uno, tentu sudah sangat familar di telinga Mommies semua. Seperti yang kita ketahui, pria kelahiran  Pekanbaru, 28 Juni 1969 ini salah satu pengusaha muda yang cukup ternama asal Indonesia. Belakangan namanya kian mencuat lantaran dirinya tengah mencalonkan diri menjadi orang pertama di DKI Jakarta.

Kebetulan, beberapa waktu lalu saya sempat diundang dan berbicang dengannya di kawasan Jakarta Selatan. Waktu itu, anak pasangan Henk Uno dan Mien R. Uno ini datang bersama istrinya, Nur Asia Uno dan anak bungsungnya, Sulaiman Saladdin Uno (5 tahun). Sekilas, saya bisa ‘menangkap’ kalau dirinya merupakan sosok ayah yang hangat.

???????????????????????????????

Kesempatan ini pun saya manfaatkan untuk ‘mengorek’ sedikit mengenai kesehariannya sebagai seorang suami sekaligus ayah. Penasaran? Simak kutipan wawancaranya, ya….

Banyak yang bilang bahwa kesamaaan karakter dengan pasangan, jadi salah satu kunci pernikahan bahagia. Bagaimana menurut Anda?

SU : Tidak juga, kok, saya sangat bertolak belakang dengan istri. Apa yang saya suka, istri malah nggak suka. Misalnya, istri saya ini senang sekali jalan ke mall, sementara saya nggak. Saya ini suka sekali olahraga seperti lari dan berenang, tapi istri saya tidak suka.

Lalu, apa, sih, versi keluarga bahagia menurut Anda?

SU : Keluarga bahagia itu justru adalah pasangan yang bisa saling mengisi, kami ini ada komplementari. Apa yang dibicarakan dengan istri saya, nggak saya dapat di kantor, dari sini saling mengisi dan ini yang kami terus lakukan sampai sekarang. Tapi,  namanya suami istri pasti ada saja ketidak cocokan satu sama lain, tapi kami selalu mengomunikasikannya dengan baik.

NA : Benar sekali, pokoknya komunikasi jangan sampai terputus, dalam arti apa-apa jangan sampai tidak diomongin. Bahkan untuk hal-hal kecil sekalipun, jadi segala sesuatu dalam rumah tangga itu selalu dirembukkin dan jangan lupa ajak anak-anak untuk berdiskusi. Buat kami yang nggak kalah penting adalah memerhatikan satu sama lain, kadang pasangan yang sudah lama menikah jadi suka cuek. Nah, ini sebaiknya dihindari.

Ngomong-ngomong, Pak Sandiaga Uno itu sosok ayah atau suami seperti yang seperti apa, sih?

NA : Aduh.. seperti apa, ya? Nanti kalau saya bilang yang bagus nanti dipikir memuji atau pencitraan, tapi bapak itu sosok orang yang sangat disiplin, beliau itu hidupnya juga selalu teratur, punya komitmen yang tinggi. Apa yang diinginkan, diusahakan secara maksimal untuk mendapatkannya.

Oh, ya, tadi Pak Sandiaga sempat cerita kalau yang mendorong bapak mencalonkan diri maju menjadi Gubernur itu datang dari Ibu, ya?

NA : Hahaha… iya, ada benarnya juga. Soalnya saya sebagai orang Betawi cukup gemas, dan bertanya-tanya, kapan Jakarta ini jadi tempat yang nyaman dan rakyat bisa menikmatinya? Rakyat yang saya maksud di sini juga masyarakat kecil. Kalau saya lagi pergi ke suatu ke ibukota negara, saya ingin Jakarta seperti itu. Ya, bapak bilang, bisa, kok, Jakarta itu berkembang, maju dan jadi kota yang nyaman.

???????????????????????????????

Mengingat jam kerja yang sangat padat, bagaimana dengan menciptakan quality time bersama keluarga. Ada ritual khusus yang sering dilakukan bersama-sama?

NA : Tentu ada, ada kami selalu menyediakan waktu Sabtu dan Minggu untuk anak-anak. Biasanya waktu ini kami manfaatkan untuk makan bareng, shalat berjamah atau main ke rumah nenek. Ada quality time setahun dua kali, kami makan-makan dan Bapak yang masak di rumah. Beliau serba bisa.

Menjadi orang tua masa kini, hal apa saya yang dirasa paling menantang?

SU : Anak-anak sekarang ini kan mendapatkan arus informasi yang sangat banyak, tidak hanya dari orang tua saja, dan anak-anak ini dihadapkan pada gelombang revolusi informasi yang sangat cepat. Tantangan kita adalah bagaimana caranya memberikan informasi dan pelajaran nilai-nilai luhur masih relevan dengan kehidupan saat ini. Contohnya, banyak yang berpikir buat apa sih saya harus datang ke nenek kakek? Apa pentingnya sholatnya berjamaah di mesjid. Nah, hal-hal seperti ini yang harus tetap kita pertahankan.

Menurut Anda, hal apa saja yang membedakan kondisi orang tua zaman dulu dengan zaman sekarang?

SU : Orang tua saya dulu lebih terprogram dan keras dalam menerapkan disiplin. Sekarang tidak bisa seperti itu. Kami belum menemukan format yang pas, tapi kami berusaha menerapkan disiplin dengan menyentuh hati anak-anak. Misalkan saat dia malas sekolah, saya ajak ngobrol dan dibangkitkan guilty feeling-nya.

Bagaimana cara Bapak dan Ibu dalam pembentukan karakter anak-anak?

SU : Saya selalu menanamkan pada anak-anaknya bahwa kesuksesan tidak datang begitu saja. Jadi saya ini selalu mengingatkan anak-anak dengan motto 4AS, yaitu kerja keras, cerdas, tuntas dan ikhlas. Saya tidak ingin anak-anak menjalani hidup dengan santai. Hidup ini perlu kerja keras. Mulai saja dengan bertanggung jawab jika ada PR harus diselesaikan, diberi tugas harus dijalankan. Kalau tidak, ada punishment yang diberikan.


Post Comment