Risiko Bekerja Dalam Zona Nyaman

Pernahkah dalam perjalanan karier Mommies merasakan ada di zona nyaman? Jika sudah berada di situasi ini, apa sih yang harus kita lakukan?

Zona nyaman adalah kondisi psikologis di mana kita merasa familiar dengan suatu kondisi atau tempat yang membuat kita hampir tidak merasa cemas atau stres. Kondisi ini bisa berarti kondisi ketika kita sudah menguasai suatu bidang atau sudah dapat mengontrol segala sesuatunya. Sebagai manusia, kenyamanan dan keamanan merupakan salah satu kebutuhan dasar yang kita cari. Kita cenderung untuk mencari tempat atau situasi yang membuat kita merasa aman dan nyaman, dan ketika sudah menemukannya kita akan sulit sekali untuk melepasnya.

Risiko Bekerja Dalam Zona Aman

Zona nyaman menghambat kita untuk berkembang.

Ketika kita sudah merasa nyaman inilah akan timbul perasaan “malas”, atau bahkan takut menerima perubahan karena perubahan umumnya cenderung akan membawa kita kepada hal-hal baru yang berada di luar zona nyaman kita. Saat kita menolak perubahan inilah merupakan saat kita menolak untuk mengeksplor potensi yang ada dalam diri kita dan berkembang. Padahal menjadi perempuan itu bisa berdaya dalam banyak hal.

Dunia terus berubah. Di sinilah “hukum alam” berlaku, yang dapat bertahan hidup adalah mereka yang dapat beradaptasi dengan perubahan yang ada. Jika kita menolak untuk mengantisipasi atau mengikuti perubahan tersebut, kita akan tertinggal di belakang dan pada akhirnya akan mengalami kesulitan juga.

Zona nyaman membuat kita seringkali melewatkan peluang yang ada.

Orang-orang yang sukses selalu siap untuk menangkap peluang yang ada di sekitar mereka, atau bahkan menciptakan peluang itu sendiri. Sedangkan unsuccessful people umumnya menanti hal tersebut datang kepada mereka. Jika kita berada dalam zona nyaman, kita cenderung termasuk ke dalam golongan yang “menanti” kesempatan itu datang. Tapi tanpa memberanikan diri mengambil risiko dan berpikir out of the box –yang berarti keluar dari zona nyaman, bagaimana kita bisa mengambil kesempatan tersebut lebih dahulu dari orang-orang yang lebih siap untuk hal itu?

Marilah kita berkaca pada salah satu tokoh yang mungkin sudah cukup dikenal oleh Mommies, pendiri Microsoft, Bill Gates. Sejak umur belasan tahun, Bill Gates sudah menunjukkan ketertarikannya di bidang teknologi. Saat kuliah, Bill Gates mendapatkan kesempatan untuk menempuh studi di salah satu universitas ternama di dunia, Harvard University. Bill Gates bisa saja tetap berada di zona nyamannya dan melanjutkan kuliahnya di Harvard, akan tetapi ia memilih untuk drop out dan mengambil risiko cukup besar untuk membangun Microsoft bersama dengan temannya, Paul Allen. Hasilnya? Microsoft yang didirikan Bill Gates kini berharga milyaran dollar Amerika dan dapat bersaing dengan perusahaan teknologi raksasa lainnya, Apple Inc.

Contoh lainnya adalah Ray Kroc. Pengusaha yang membeli dan memperluas McDonald’s Corporation ke seluruh penjuru dunia dengan sistem franchise ini dulunya merupakan seorang supir ambulans. Mungkin jika Ray Kroc tetap di zona nyaman-nya menjadi supir ambulans, kita belum tentu bisa menikmati McDonald’s seperti sekarang ini. Masih banyak tokoh lainnya yang berani untuk keluar dari zona nyaman mereka demi mencapai impian mereka.

Terperangkap dalam zona nyaman seolah membuat kita menutup pintu kita dari peluang-peluang yang ada. Kita tidak akan pernah tahu apa yang akan terjadi jika kita tidak mau mencoba dan mengambil risiko. Misalnya tidak takut merintis  karier menjadi mompreneur, siapa tahu akan berujung pada kesuksesan?

So Mommies, let’s break out of our comfort zone and start growing. It’s one step ahead to reach our goal.

Artilel ini ditulis Chalifatunisa atau yang akrab di panggil Nisa, adalah HR Senior yang telah bekerja di dunia HR selama 4 tahun, sebelumnya beliau bekerja di perusahaan yang bergerak di bidang internet service provider yang pada akhirnya bergabung dengan Experd pada tahun 2015 lalu.


One Comment - Write a Comment

  1. untuk meninggalkan zona nyaman memang sulit, dan perlu pertimbangan matang, apalagi jika kita memiliki kewajiban alias beban ekonomi :-) tidak apa kalau kita suka mengambil resiko dan pastinya persiapkan diri sudah memiliki bekal cukup, entah berupa ilmu ataupun dukungan yang baik untuk lebih mengaktualisasikan diri

Post Comment