12 Tanda Anak Sudah Bukan Anak Kecil Lagi

Ditulis oleh: Waristi Amila

Time flies soooo fast ketika saya memiliki anak. Bayi kecil saya sudah beranjak remaja dan saya pun dihadapi pada kenyataan bahwa anak saya sudah bukan anak kecil lagi.

Saya tidak tahu kapan ini dimulai, tapi sekarang saya benar-benar merasakan betapa Atar tumbuh dengan cepat dan waktu seolah-olah terbang begitu saja. Sosoknya yang dulu mungil dan kerap saya peluk sekarang terlihat tinggi dan sulit saya ajak bermain lagi (tetiba Mommy pun mellow). Sejak kapan perubahan ini terjadi?

Bagi saya, bukan hanya angka yang tertera di kue ulang tahun yang menjadi tanda apakah anak saya sudah bukan anak kecil lagi, namun ada banyak hal yang berubah beberapa tahun terakhir, ini beberapa di antaranya:

TANDA ANAK SUDAH BUKAN ANAK KECIL LAGI

1. Saat saya sadar bahwa ukuran bajunya atau sepatunya sudah sama atau bahkan lebih besar dari saya.

2. Saya sudah tidak ikut andil dalam memilihkan model sepatu ataupun pakaiannya. Seringnya, dia yang akan menghampiri saya ketika kami sedang pergi ke mall bersama, sambil memegang sepatu, jeans atau kaos pilihannya.

3. Saya sudah tidak bisa lagi menulis seenaknya di media sosial karena anak saya juga sudah punya akun media sosial sendiri. Dan, dia sudah bisa komplein dengan cerita saya mengenai dia dan adiknya di akun media sosial saya.

4. Saya sibuk mengawasi akun sosial media miliknya, terkaget-kaget dengan apa yang dia tulis atau foto yang dia upload. Sambil menahan diri untuk tidak memberikan komentar yang mungkin membuatnya malu :D. Well, serius deh Mom, kita benar-benar wajib menyiapkan anak-anak kita masuk ke dunia sosial media. 

5. Dia tidak lagi bisa saya genggam tangannya saat jalan-jalan, atau dia mulai menolak jika saya mengelus-elus rambutnya di muka umum. Bahkan saya lupa kapan terakhir dia mau dicium sebelum masuk gerbang sekolah.

6. Saya bisa tidur dengan tenang, ke kamar mandi sendiri dan tidak ada suara anak yang memanggil-manggil tanpa henti. Sekarang yang masih melakukan itu hanya adiknya yang masih kecil.

7. Tidak ada lagi akhir pekan ketika dia sibuk bertanya “Kita mau kemana, mommy?.“ Sebaliknya justru saya yang sibuk bertanya dia mau kemana dan apa (lagi) rencananya akhir pekan ini.

8. Saya mulai kehilangan aroma minyak telon, bedak bayi dan shampoo bayi di kamarnya. Berganti dengan saya mulai mengalokasikan dana untuk berbagai produk perawatan tubuh dan wewangian untuk anak remaja laki-laki.

9. Saya selalu khawatir ketika dia pergi lama sekali, mulai ingin tahu dengan siapa dia ngobrol lama di telepon dan apa yang dia lakukan di kamar mandi selama berpuluh-puluh menit.

10. Dia ngambek? Tidak ada lagi mainan, atau permen, atau cokelat untuk meredakannya. Dia bisa diam lama sekali, dia bisa bicara sangat cepat dan sangat banyak saat diajak diskusi tentang masalahnya, dan lalu pergi saat pembicaraan bahkan belum selesai sama sekali.

11. Saya rindu memeluk dia dan merasakan ciumannya di pipi saya setelah dia mengatakan, “I Love you, mommy“

12. Dan saya merasa sangat bahagia, sangat sedih, khawatir, bangga, semuanya, bercampur jadi satu dan bahkan tidak bisa saya mengerti yang mana – karena saya menyadari kalau anak saya bukan anak kecil lagi.

Mulai ada perdebatan, mulai datang banyak kekhawatiran karena sekarang dia lebih banyak menghabiskan waktunya dengan siapapun dan kegiatan apapun selain dengan kita. Jangan lupa juga untuk menciptakan bonding, tak hanya ketika anak masih kecil, namun juga ketika mereka masuk dunia remaja. Nikmati waktu dengan mereka sebanyak kita bisa, dan persiapkan mereka (juga diri kita sendiri) ketika akhirnya datang waktu di mana anak kita bersiap untuk pergi dan menghadapi dunia.


Post Comment