6 Hal yang Tidak Saya Butuhkan Dalam Hidup

Kadang, masalah dalam hidup itu datang karena kita suka lupa menghilangkan beberapa hal yang sesungguhnya nggak penting ada dalam hidup kita.

Pada dasarnya saya memang nggak suka menjadi pusat perhatian, itu sebabnya saya juga nggak terlalu nyaman jika harus berdiri di depan banyak orang dan mengucapkan kata-kata, seperti memberi sambutan di sebuah event, hahaha (malah curcol). But life must goes on, kan. Jadi, saya memang harus berdamai dengan keadaan yang tidak mungkin saya ubah. Misalnya, ya itu tadi, kewajiban sebagai Managing Editor seringkali menuntut saya untuk memberi kata sambutan kalau ada event Mommies Daily :D.

Masalahnya, nggak jarang ada hal-hal yang sebenarnya bisa saya ubah kalau saya ingin hidup saya nggak sedrama cerita di sinetron Indonesia, tapi kemudian saya lupa untuk menghilangkan beberapa hal yang menjadi biang dari munculnya drama tersebut. Apa saja?

yang tidak kita butuhkan dalam hidup

1. Negative People
Kalau saya dikelilingi oleh orang-orang yang pikirannya negatiiiiiiiif terus, otomatis sedikit banyak saya juga terbawa berpikir negatif. Dan, terus menerus berpikir negatif itu melelahkan, lho Moms! Dan, tahu nggak apa lagi yang menyedihkan dari negative people? Mereka yang tidak happy dengan hidup mereka namun mereka memaksa orang lain untuk ikutan nggak happy. Menyedihkan ya?!

2. Masa lalu
Mengingat masa lalu boleh, tapi kalau kemudian kita hidup di DALAM masa lalu, itu yang nggak boleh. DULU saya pimpinan di perusahaan ini lho, DULU aturannya nggak begini kok, DULU orang tua saya memanjakan saya, DULU, DULU dan DULU. Kita hidup di dunia yang penuh dengan perubahan, jadi percaya deh, si DULU itu nggak akan membawa kita ke mana-mana kalau kita nggak bertindak apapun di saat SEKARANG. Yang ada semakin kita tenggelam dengan masa lalu, semakin kita tidak menjadi apa-apa di masa depan.

3. Image diri yang salah
Mama saya adalah perempuan yang hebat, tapi beliau tidak pernah memuji anak-anaknya mau sehebat apapun keberhasilan kami. Beliau sangat melindungi kami, tapi membiarkan kami menyelesaikan masalah yang kami hadapi sendiri. Akhirnya saya tumbuh menjadi pribadi yang tidak terbiasa dipuji dan memuji, pribadi yang cenderung membangun sebuah dinding agar orang lain tidak bisa masuk terlalu dekat dalam hidup saya, karena satu alasan, saya tidak mau orang mudah menyakiti saya.

Kemudian, banyak orang berpikir saya orang yang tegar, kuat, mandiri dan tidak berperasaan, hahaha, komplit. Dan saya membiarkan image itu terbentuk walaupun sebenarnya salah. At the end, saya merasa lelah saat saya terus menutupi perasaan saya yang sesungguhnya. Dan saya pun tidak nyaman dengan hidup saya. Titik baliknya? Setelah saya punya anak, saya tidak ingin anak saya tumbuh dengan menciptakan image diri yang salah, yang sebenarnya tidak sesuai dengan apa yang mereka rasakan.

4. Tidak percaya diri
Biasanya ini berkaitan dengan point negative people. Kebiasaan berpikir negatif membuat kita jadi cenderung menilai diri kita di bawah standar. Kita tidak yakin dengan kemampun yang kita miliki. Dan ini membuat kita sulit untuk maju. Apalagi kalau kita mulai tidak percaya diri dengan kemampuan kita sebagai orang tua. Percaya aja, bahwa setiap orang itu diciptakan pasti dengan kelebihan dan kekurangan. Fokus aja di kelebihan yang kita miliki.

5. Saying YES all the time
Saking ingin menyenangkan banyak pihak, ingin disukai banyak orang, kita selalu menyanggupi permintaan orang, APA PUN itu, tanpa peduli dengan kemampuan kita sendiri. Dan itu adalah awal dari segala derita (menurut saya ya!). Orang lain akan melihat kalau kita bisa ditekan dan mereka akan memanfaatkan ini. Bahkan, saya pun berusaha untuk tidak selalu mengiyakan keinginan anak-anak saya. Yes, anak-anak adalah dunia saya, tapi bukan berarti saya harus menciptakan dunia yang SEMPURNA untuk mereka.

6. Terlalu mengkhawatirkan masa depan
Merencanakan masa depan sudah pasti harus ada di dalam rencana kita sebagai orang tua, tapi sama halnya dengan masa lalu, jangan sampai masa depan membuat malah tidak menikmati masa sekarang. Jangan sampai, saking sibuk bekerja demi masa depan nan cerah :p, kita malah nggak menikmati setiap momen dalam hidup bersama anak, suami dan orang-orang tercinta.


One Comment - Write a Comment

  1. Poin 1, 2 dan 3 yang secara ga sadar masih sering melingkupi kehidupan kita,. Setelah membaca artikel ini, saya jadi menyadari bahwa karena terlalu mengkhawatirkan masa depan, itu mungkin sebagai efek bahwa kita pernah mengalami bad moment dari masa lalu. Kadang kita hanya menganggap masa lalu sebagai pengalaman, sebagai refleksi, ataupun pedoman dalam menjalani masa kini dan menghadapi masa depan. Tapi kalau sudah lebih dari 30% hal-hal dari masa lalu mempengaruhi keputusan yang akan kita ambil, sadarlah bahwa kita belum move on!!

Post Comment