5 Tanda Kita Terlalu Ikut Campur dalam Kehidupan Anak

Melindungi dan berharap anak mendapatkan hal yang terbaik memang wajar. Tapi bukan berarti kita menjadi orang tua yang terlalu ikut campur. Berikut beberapa tanda kalau kita sudah melakukannya.

Pernah mendengar istilah over parenting, helicopter parenting atau kata lainnya orangtua yang over protective? Apapun sebutannya, sadar nggak, sih, kalau pola asuh yang seperti ini ternyata berdampak buruk bagi perkembangan anak?

Duluuuu… ketika jadi ibu baru, saat Bumi masih berusia satu tahunan, saya sempat jadi ibu yang parnoan. Bawaannya selalu khawatir kalau anak lanang saya ini mengalami sesuatu hal yang buruk. Saya menganggap dunia ini terlalu ‘menakutkan’, banyak hal  membuat nggak aman sehingga anak saya ini wajib dilindungi setiap saat.

5 Tanda Kita Terlalu Ikut Campur dalam Kehidupan Anak

Yah, namanya juga ibu baru, memang harus melewati proses trial and error. Seperti yang dikatakan Saskhya Aulia Prima, M.Psi, bahwa pola asuh semacam over parenting, di mana orangtua terlalu melindungi sehingga anak nggak diberikan keleluasaan untuk memilih akan memberikan output negatif.

“Sebenarnya, output yang akan dikeluarkan atau didapatkan anak pola asuh over parenting ini akan serupa dengan pola asuh yang  mendiamkan anak, apa-apa boleh sehingga tidak ada kontrol,” ungkap psikolog anak lulusan dari Universitas Indonesia. Saskhya kemudian menjelaskan kalau dari beberapa kasus yang ia hadapi, tidak sedikit orang tua yang bertanya-tanya mengapa anaknya sering kali tidak bisa mandiri dan terlihat tidak punya motivasi hidup.

Hal ini sebenarnya disebabkan karena pola asuh yang diterapkan. “Kadang banyak orang tua suka bingung, kok, anak saya seperti nggak punya motivasi hidup, ya? Padahal tanpa disadari, semua hal itu akibat dari yang orang tua lakukan sendiri. Bagaimana anaknya mau punya motivasi hidup jika setiap  saat orang tua selalu melindungi, ketika anak menyuarakan pendapat dan ingin menentukan pilihannya sendiri juga langsung di-cut.”

Wajar kalau sebagai ibu kita ingin melindungi anak, berharap anak bisa mendapatkan yang terbaik. Tapi kalau kebablasan, bukan tidak mungkin ke depannya anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak mandiri karena selalu bergantung pada orangtua, mudah emas dan stress,termasuk tidak terampil bersosialisasi.

Sebenarnya apa tanda bahwa kita sudah melakukan over parenting?

1. Tidak bisa ‘melepaskan’ dan selalu mengikuti si toddler bermain

Mengawasi anak saat bermain di taman atau playground memang penting. Apalagi zaman sekarang kerap terjadi penculikan. Intinya, waspada terhadap penculikan itu memang harus. Tapi bukan berarti kita mengasuh anak seolah-olah anak adalah benda yang rapuh. Kalau menurut saya, sih, nggak perlu  terlalu waspada bahkan sampai berteriak mengingatkan anak agar hari-hati saat bermain. “Kamu nanti jangan manjat-manjat terlalu tinggi atau nggak usah lari-larian, ya, nanti jatuh”. Selama itu tidak berbahaya, biarkan dia bereksplorasi.

2. Selalu jadi dewa penolong

Kalau psikolog anak bertanya, “Kalau anak ketinggalan buku PR, dan meminta kita untuk mengantarnya, apa yang harus dilakukan? Mengantarkannya atau justru mendiamkannya?”. Karena merasa nggak tega, biasanya akan memilih untuk mengantarkan buku tersebut. Takut anaknya kena ‘hukuman’ di sekolah. Nah, tindakan ini sebenarnya memang kurang bijak karena anak tidak akan belajar untuk mengambil risiko. Padahal, hidup di dunia ini kan penuh risiko dan anak perlu diajarkan untuk bisa menerima kondisi terburuk dalam hidup.

3. Selalu menjadi tim cheerleader anak

Memberikan semangat dan motivasi pada anak tentu saja harus dilakukan. Tapi kalau selalu jadi ‘pemandu sorak’ dan mengelu-elukan anak, ya, nggak tepat juga, ya. Soalnya, tanpa disadari sering memuji anak justru bisa berdampak buruk bagi perkembangan anak.Nggak percaya? Baca artikel ‘Jangan Memuji Anak’ ini dulu, deh.

4. Nggak tahan melihat anak stress

Beberapa waktu lalu ada teman saya yang cerita kalau dirinya terheran-heran melihat sepupunya. Pasalnya sepupunya itu masih saja selalu mendampingi anaknya yang sudah duduk di bangku SMP belajar dan mengerjakan PR. “Kayaknya sepupu gue ini lupa kalau anaknya sudah besar. Buat gue ada baiknya melakukan diskusi saja dan mencari cara untuk mendorong anaknya supaya mau belajar. tapi bukan selalu didampingi seperti itu. Saya, sih, setuju sekali dengan pendapat teman saya, ketika orang tua nggak tahan melihat anaknya merasa tertekan stress karena tugasnya, bukan berarti kita harus selalu membantunya.

5. Selalu berusaha meng-intervensi kehidupan si kecil

Biasanya, nih, saya suka geregetan kalau Bumi memilih baju yang nggak matching. Maklum, saya ini miss matching, hahaha…. Tapi saya sendiri juga sadar kalau kebanyakan intervensi juga nggak baik buat perkambangan Bumi. Toh, membiarkan anak memilih bajunya sendiri banyak sekali manfaatnya, kok! Biar bagaimanapun, anak memang perlu diajarkan untuk mengambil keputusan sendiri. Dengan memberikan kepercayaan pada anak, mereka tentu akan bisa lebih percaya diri dan merasa dihargai.

Kalau saya merasakan 5 tanda ini bagaimana dengan Mommies yang lain? Boleh, lho, share pengalamannya.

 


Post Comment