Karena Anak Juga Bisa Lelah Mental

Ditulis oleh: Nina Samidi

Ternyata nggak hanya saya -si working mom yang bisa merasa lelah secara mental, karena ternyata anak juga bisa lelah mental. Oh nooo, apa penyebabnya?

Saat anak pertama saya masih balita, saya kerap memberinya mainan perangsang seperti balok, puzzle, dan sebagainya. Saya biarkan dia duduk bersama mainannya dengan harapan dia akan bermain (sambil berharap dia belajar juga!). Ternyata saya salah, tidak berapa lama dia malah menangis dan malas menengok mainannya lagi. Apa yang terjadi?

Ternyata, memberikan mainan begitu saja dan membiarkan dia bermain sendiri hanya akan membuatnya stres karena ia tidak mengerti bagaimana menyelesaikan ‘masalah’ yang ada pada mainan itu. Misalnya, mengapa balok-balok ini selalu ambruk? Harusnya saya lebih dulu memberinya contoh dan petunjuk apa yang harus dilakukan. Dengan begitu anak akan paham dan mengerti petunjuknya. Nah, itu baru satu contoh. Apa lagi yang kira-kira berpotensi membuat anak lelah secara mental? Here we go!

anak lelah mental

1. Terlalu banyak instruksi
Biasanya kalau anak sudah agak besar, kita mudah untuk meminta bantuannya mengerjakan sesuatu dan itu langsung berturut-turut. Misalnya, saya suka berceloteh, “Kakak, mainannya beresin dulu, dong. Kakak, tolong ambilin ibu lap di belakang! Kakak, ada tugas apa dari sekolah? Sudah selesai belum?” Lalu dia akan teriak sambil membanting salah satu mainan yang sedang dibereskan, “Ibu, satu-satu dong! Mau yang mana dulu?” Ternyata saya harus memecahnya dan menunggu hingga selesai setiap instruksi.

2. Terlalu banyak “tidak” dan “jangan”
Tidak boleh ini, nggak boleh itu, jangan begini, jangan begitu. Semua nada negatif ini ternyata bisa membuat anak-anak lelah. Selain dia selalu mendengar penolakan dan larangan yang bersifat menghakimi, anak-anak jadi lelah untuk mencari tahu “Kalau begitu yang boleh apa?”. Karena itu, gunakan kalimat positif dalam berbicara dengan anak.

3. Tidak bisa menyelesaikan tugas
Saat si kecil sedang belajar mengikat tali sepatu atau memasukkan kancing baju, dia membutuhkan petunjuk yang detil, seperti, “Tangan kanan pegang kancing, tangan kiri pegang baju yang ada lubangnya, lalu masukkan kancing dari belakang, dst.” Tetapi terkadang dia tidak bisa menyelesaikannya begitu saja. Jangan dipaksa. Tenang saja, sifat penasarannya akan membuat dia mencoba lagi lain kali.

4. Belajar membaca dan berhitung terlalu cepat
Ajari anak membaca atau berhitung hanya jika dia tertarik. Itu pun harus disesuaikan dengan minatnya atau yang dekat dengan kesehariannya. Misal mengenal huruf melalui namanya atau menghitung langkah kaki. Namun begitu dia sepertinya tidak tertarik, Moms, segera hentikan! Itu tandanya dia mulai kelelahan.

5. Terlalu dekat dengan Anda
Ternyata anak juga butuh “me time”. Tidak terus selalu dengan Anda. Ini pelajaran penting untuk kita para Mommies. Mungkin menyenangkan dan membuat kita lebih nyaman jika bisa mengawasi anak setiap saat. Namun sesekali berilah dia jarak. Ini mengurangi rasa lelahnya untuk selalu mengerti yang Anda bicarakan, yang Anda mau, dan bersikap di depan Anda ;)


Post Comment