Sejauh Mana Skin Care Pengaruhi Kesehatan Janin?

Ada beberapa zat dalam  skin care dan kosmetik yang bisa membahayakan perkembangan janin dalam kandungan. Memanngnya, sejauh mana, sih, skin sare pengaruhi kesehatan janin?

Masih ingat nggak beberapa waktu lalu social media sempat diramaikan dengan pemberitaan yang mengatakan kalau ada ibu hamil yang meninggal lantaran menggunakan skincare dan kosmetik dengan kandungan berbahaya? Begitu membaca pemberitaan tersebut, saya pun lantas membatin, “Apa iya penyebabnya semata-mata hanya karena penggunaan skincare yang salah?”. Benar saja, ternyata penyebab utama almarhumah meninggal ternyata dikarena kondisi preeklampsia.

skin care

Balik lagi ke masalah skincare dan kosmetik, saya sendiri cukup paham kalau ketika hamil nggak boleh sembarangan memilih produk. Soalnya sepengetahuan saya, memang ada beberapa zat dalam skincare dan kosmetik yang memang membahayakan perkembangan janin dalam kandungan. Alhasil, waktu hamil dulu saya pun menghentikan menggunakan skincare andalan saya. Akibatnya, jelas bikin kulit saya nggak sehat. Ada yang parnoan dan melakukan ‘kesalahan’ seperti saya dulu nggak, sih?

Buat Mommies yang sedang hamil atau tengah berencana hamil lagi seperti saya, memang ada baiknya lebih baik bertanya langsung pada ahlinya. Nah, beberapa waktu lalu saya pun sempat ngobrol dengan Dr. Mardiati Ganjardani, SpKK dan bertanya seputar skin care untuk untuk hamil. Yah,  dari pada terjebak dengan segala mitos ataupun pemberitaan yang belum tentu benar lebih baik simak kutipan obrolan kami waktu itu.

Sebenarnya, bolehkah nggak, sih, ibu hamil memakai skin care dan kosmetik?

Skincare dan kosmetik tentu saja masih diperlukan bagi ibu hamil, hanya saja memang harus dipilih yang aman dan disesuaikan dengan kebutuhannya masing-masing.

Ketika memilih skin care atau kosmetik, apa yang perlu diperhatikan?

Tentu saja perhatikan komposisinya lebih dulu. Pada prinsipnya, yang sudah jelas dan terbukti tidak boleh digunakan oleh ibu hamil karena terbukti ada risiko pada janin adalah jika skin care tersebut mengandung beberapa zat berbahaya seperti retinoid dan hidrokinon. Hidrokinon ini yang bisa membuat kulit bersih. Dokter kulit sendiri memang menggunakannya karena ini hidrokinon karena ini bleaching agent yang paling mudah didapat dan bisa dibilang first line-lah. Tapi kalau pada kehamilan tentu saja tidak digunakan. Oleh karena itulah, kami para dokter kulit selalu bertanya, apakah pasien sedang hamil atau berencana untuk hamil. Selain itu yang benar-benar tidak boleh adalah obat-obatan yang diminum misalnya rakuten, ini yang jelas tidak boleh karena bisa menyebabkan kecacatan pada janin.

Sejauh mana, sih, skin care yang dioles pada wajah ini berakibat fatal khususnya pada perkembangan janin?

Yang perlu dingat di sini, pada dasarnya apapun yang dioles di badan kita ini akan diserap dalam tubuh, lalu akan diserap oleh pembuluh darah. Tapi seberapa besar diserapnya dan apakah yang masuk ke peredaran darah kita ini akan masuk dalam peredaran darah bayi juga? Sayangnya, sampai sekarang penelitian pada orang hamil memang sulit dilakukan, tetapi retinoid, dan kandungan lain seperti hidrokinon,  tetap saja ada risikonya. Meskipun memang tidak bisa diukur, akan lebih baik saat hamil dihindari saja.

Risiko terburuknya seperti apa, sih?

Ya, yang kita takutkan tentu saja risiko buruk seperti ketika obat atau kandungan yang berbaya itu diminum. Ada laporan yang pernah saya baca, di luar negeri ada ibu yang melahirkan bayi dengan kondisi bayinya memiliki telinga yang kecil. Dan diketahui, ibunya ini saat masa awal kehamilan masih pakai retinoid. Tetapi memang kita masih belum bisa membuktikan apakah kecacatan tersebut berhubungan dengan cream atau skin care yang dipakai. Yang dikhawatirkan obsorsi atau penyerapan bahan-bahan aktif yang ada dalam skin care tersebut.

Biasanya, gangguan masalah kesehatan kulit apa saja, sih, yang sering dialami ibu hamil?

Yang sering terjadi tentu perubahan fisiologis seperti hiperpigmentasi, bisa terjadi melasma, kemudian yang sering terjadi adalah kulit lebih kering, jerawatan, dan timbulnya strechmark, ada yang bilang sering timbulnya skin tag. Biasanya sih setelah melahirkan akan jauh berkurang. Yang susah hilangnya itu biasanya strechmark karena hasilnya sering kurang memuaskan, harus dilihat fasenya sampai di mana. Kalau strechmark-nya masih pink atau merah, perawatannya akan lebih mudah dari pada strechmark yang warnanya sudah putih.

Untuk keluhan yang sering dialami bumil seperti ini, ada pencegahan atau treatment yang bisa dilakukan nggak?

Ada, tapi tentu saja prinsipnya harus menunggu sampai melahirkan dulu. Misalnya ketika saya merawat melasma, ini kan ada faktor hormonal yang membuat pigmen lebih gampang ‘ngumpul’, tetapi dia akan sangat diperburuk dengan sinar matahari. Kalau hormonal, tentu kita nggak bisa ubah, yang bisa kita lakukan itu adalah menghindari mataharinya dengan menggunakan tabir surya.

Perawatan yang disarankan?

Tentu saja perawatan dasar harus tetap dilakukan. Dengan pembersihan, menggunakan pelembab dan jangan lupa menggunkan tabir surya. Kalau memang menggunakan perawatan berbahan kimia, lebih baik konsultasikan pada dokter.

——

Mudah-mudahan saja obrolan saya dengan dokter yang berpraktik di Bamed Skin Care dan SamMarie Family Healthcare menambah pengetahuan Mommies mengenai pemilihan skin care saat hamil, ya. Kalau ingin diskusi lebih lanjut mengenai topik ini, langsung saja gabung di thread forum kami.


Post Comment