Aturan mengemudi untuk ibu hamil

Aturan Mengemudi untuk Ibu Hamil

Ditulis oleh: Monik Wulandari

“Hebat, ih, udah hamil gede, masih nyetir,” kata seorang sahabat ketika melihat saya turun dari pintu pengemudi. Sebenarnya ada aturan mengemudi untuk ibu hamil, nggak sih?

Saya bukannya kecentilan ingin mengemudi sendiri di usia kehamilan 35 minggu. Masalahnya, tak jarang ada kondisi-kondisi yang saya butuh pergi ke suatu tempat dengan cepat tapi suami berhalangan menemani. Ternyata, banyak teman-teman saya yang masih menyetir mobil saat hamil dengan rute rumah – kantor PP. Luar biasa. Memang sekarang saya merasa, kita, perempuan hamil lebih mandiri ya.

Bagaimanapun, tetap ada standar keamanan yang perlu saya perhatikan. Jangan sampai kebiasaan mandiri malah berbahaya untuk saya dan janin. Saya pun mencoba menerapkan 8 aturan aman untuk diri saya:

Aturan mengemudi untuk ibu hamil

1. Pastikan kehamilan sehat dan kuat
Ini adalah poin paling penting. Kalau memang kehamilan kita bermasalah, lebih baik jangan sok-sok-an mengemudi. Biar lebih pasti, minta saran dari dokter kandungan kita.

2. Jangan biarkan sabuk pengaman menekan perut
Pastikan sabuk pengaman bagian atas diletakkan di antara payudara dan sabuk pengaman bagian bawah diletakkan di bawah perut, jangan di tengah-tengah perut. Hal ini membuat janin tidak tertekan dan perut pun terasa nyaman.

3. Sedia stok air minum dan camilan
Tahu kan betapa kejamnya jalanan Jakarta? Nah, jangan sampai karena kita terjebak dalam kemacetan membuat kita kelaparan atau merasa haus. Sediakan dua botol air minum dan tempat kue berisi potongan buah dan biskuit. Ingat, ada kebutuhan cairan yang perlu dipenuhi ketika hamil.

4. Perhatikan usia kandungan
Mengingat perjuangan saya untuk hamil, sebenarnya saya menghindari mengemudi pada trimester pertama dan trimester akhir. Pada trimester pertama umumnya kondisi kandungan masih rentan dan di trimester akhir, harus super waspada menghindari pemicu kontraksi, cepat lelah karena mengemudi terlalu lama (apalagi kalau mobil kita belum matic, duuuh) plus ukuran perut sudah membuat saya sulit menggunakan sabuk pengaman. Kalau kaki lelah, banyak cara mengatasi rasa lelah pada kaki saat hamil kok.

5. Perhatikan kondisi jalan
Fia pernah bercerita mengenai teman gerejanya yang keguguran setelah melewati sebuah jalan yang kondisinya rusak berat. So, tidak ada salahnya selain mencari rute yang paling lancar, pastikan juga kondisi jalanan yang akan kita lalui itu tidak buruk.

6. Sediakan bantal kecil untuk menyangga panggul dan punggung
Semakin besar usia kehamilan, area pinggang dan punggung semakin mudah pegal. Saya akali dengan meletakkan bantal kecil di antara senderan jok mobil dengan punggung, dan ini cukup membantu mengurangi rasa pegal.

7. Ukuran perut tidak menganggu kenyamanan kita mengemudi
Perut juga bisa menjadi indikator bahwa kita masih bisa mengemudi sendiri atau tidak. Saat perut sudah terlalu besar sehingga menempel dengan setir, itu tandanya kita harus berhenti menyetir. Jika dalam kondisi biasa saja si perut sudah menempel dengan setir, apa yang akan terjadi jika kita mengerem mendadak, pasti perut langsung berbenturan dengan setir.

8. Segera mengunci mobil dan hindari kecepatan tinggi
Jika mobil kita tidak otomatis mengunci pada saat mesin dinyalakan, taruh note pengingat di atas dashboard untuk mengunci mobil. Ini demi keamanan. Dalam keadaan perut besar, kemampuan kita untuk bermanuver belum tentu sesigap dulu. Jangan nekat memacu kecepatan hanya karena kendaraan lain mengklakson Anda. Ambil saja jalur paling kiri, dan jangan tersulut emosi pengendara lainnya. Keep cool and drive safe lah.

Berkendaralah dengan hati-hati dan jangan memaksakan diri jika sudah tidak memungkinkan.


Post Comment