Sudahkah Kita Menjadi Orangtua yang Bahagia?

Orangtua yang bahagia tentu aja akan menghasilkan anak yang bahagia dan sehat. Pertanyaan, benarkah kita sudah merasa bahagia menjadi orangtua? Jika belum yakin, Devi Sani, M. Psi, Psikolog memberikan beberapa cara untuk meraihnya.

Apa yang terbersit dalam pikiran Mommies ketika mendengar kata parenting? Tanggung jawab? Komitmen seumur hidup? Cinta? Pola asuh? Beban? Atau malah sesuatu yang bikin hidup jadi tambah ruwet? Terus terang saja, semua pandangan yang dituliskan ini pernah ada kalanya terbersit dalam pikiran saya.

Seperti yang dikatakan Devi Sani, M. Psi, Psikolog, bahwa parenting itu adalah sesuatu yang bisa dirasakan, oleh kerena itulah cara pandang kita dalam memandang parenting ini sangat menentukan. Singkatnya, kalau merasa terbebani dengan parenting, output yang keluarkan pun akan negatif. Sementara kalau merasa bahagia dengan peran yang dijalankan, output-nya akan jauh lebih positif karena perasaan yang paling dominan yang akan punya pengaruh besar.

Pertanyaannya, sudahkah kita bahagia menjadi orangtua?

menjadi orangtua bahagia

Walaupun ada banyak cara untuk bahagia, ternyata salah satu kunci menjadi orangtua bahagia adalah memiliki well being yang baik. Well being ini bisa diartikan dengan kesejahteraan, rasa bahagia karena kita sudah ada di dunia ini. Kalau saya pribadi untuk membentuk well being yang baik, ketika bangun pagi selalu menapakan kaki beberapa menit lebih dulu, kemudian dari saya saya mencoba untuk bersyukur dan menghitung nikmat apa saja yang sudah saya dapatkan selama ini,” papar psikolog yang mengambil pendidikan spesialisasi emotional problem.

Selanjutnya, psikolog anak yang kerap disapa Mbak Devi mengatakan bahwa dasar untuk menjadi orangtua yang bahagia adalah kemampuan kita untuk mengobati ‘luka’ dalam diri. Awalnya saya sempat bertanya-tanya, apa hubungannya ‘luka’ masa lalu dengan menjadi orangtua yang bahagia? Memang seberapa besar sejarah masa kecil yang sudah dilalui berkaitan erat dengan parenting yang dijalankan?

Psikolog yang mendirikan Rainbow Castle ini mengatakan, ‘luka’ ini mengahalangi kita dari parenting yang kita inginkan sebena-benarnya seperti apa, terlepas dari bagaimana kita diperlakukan saat kecil. Jika ada satu area yang paling kita takuti saat kecil, sangat mungkin area itulah yang paling mempengaruhi cara kita mengasuh anak.

Ia pun mencotohkan, apabila ada orangtua yang tidak bisa memberi batasan ke anak karena tidak tahan akan kemarahan anak kepadanya, sehingga ia pun mamanjakan anaknya. Biasanya, sewaktu kecil, orangtua ini selalu dimarahi dan merasakan ‘luka’ ketakuan yang masih membekas.

Kemarin, psikolog yang mengenakan hijab ini memberikan beberapa langkah healing pengalaman masa kecil. Apa saja?

Mengasuh dengan SADAR

Dalam hal ini, Mbak Devi menyarankan agar kita, para orangtua untuk mengasuh anak dengan penuh  SADAR. Jika memang merasa mudah marah, perhatikan apa yang membuat emosi kita ‘terpancing’. Kemudian, gunakan tombol PAUSE dalam diri kita, karena memang sejarah tidak perlu terulang.

Akui ‘luka’ itu ada

Tidak sedikit orang yang bersusah payah melupakan masa lalunya bahkan mati-matian berusaha menyangkal ‘luka’ yang dialaminya. Termasuk luka batin semasa kecil. Padahal, cara ini justru akan sia-sia. Menurut Mbak Devi, cara yang tepat justru akui saja kalau luka itu memang ada. Tekan tombol ‘‘RESET’ pada kenangan masa kecil Anda yang pahit. Akui saja kalau perasaan itu ada, kemudian rasakan, dan lihat kejadian itu dari sudut pandang yang berbeda. Tentunya kita perlu banyak belajar bagaimana meregulasi emosi, memahami bagaimana emosi bekerja sehingga kita pun bisa membuat keputusan setelah tenang.

De-Stress

Siapa, sih, yang nggak pernah merasa stress? Pusing tujuh keliling melihat ulah anak? Pusing karena bertengkar dengan pasangan? Pusing dengan cash flow dan biaya pendidikan anak yang kian menjulang? Termasuk pusing dengan urusan kantor? Namanya masalah hidup itukan memang selalu ada, tingggal bagaimana kita mengelola stress tersebut. Nah, Mbak Devi menjelaskan kalau setiap orang perlu melakukan de-stress, “Yang dimaksud dengan de-stress adalah setiap individu, termasuk kita ketika menjalankan peran sebagi orangtua harus punya kebiasaan untuk menghilangkan stress”.

Perlunya support system

Ok, perempuan memang mungkin sudah ditakdirkan bisa multitasking. Tapi sadar nggak, sih, kalau multitasking ini juga memiliki sisi negatif? Termasuk dalam hal hubungan intim dengan suami. Ketika kita sudah merasa lelah dan stress, kita pun perlu bantuan dan dukungan orang sekitar. Buat saya, sih, support system ini dibutuhkan dalam pengasuhan, khususnya dukungan suami. Namanya juga parenting, bukan mothering atau fatherting. Iya kan?

Bagaimana Mommies, sudah siap untuk healing ‘luka’ pengalaman yang kurang menyenangkan semasa kecil?

 


Post Comment