Ibu Bekerja dan Ujian Sekolah Anak

Terkadang kalau anak menjalani UTS atau UAS, yang lebih heboh itu ibunya. Persiapannya seolah-olah si ibu yang mau ujian :D. Siapa yang suka terjebak dalam situasi seperti ini?

Minggu ini dua anak saya (si kakak kelas 3 SD dan si adik kelas 1 SD) sedang menjalani Ulangan Tengah Semester (UTS). Seperti biasa, seminggu menjelang UTS, grup Whatsapp ibu-ibu di sekolah pun ramai dengan pertanyaan, jadwal UTS, materi yang dipelajari sampai curhat mengenai betapa stress-nya menemani anak belajar. Rasa stress semakin bertambah bagi para ibu bekerja yang harus membagi waktu antara bekerja, menghadapi macetnya jalanan dan menemani anak belajar. Belum lagi kalau ternyata niat cuti gagal total karena pekerjaan yang tidak bisa ditinggal.

Saya pernah berada dalam kehebohan semacam itu 3 tahun lalu saat si kakak baru masuk SD, tapi kemudian saya melakukan beberapa hal agar saya tidak stres dan anak pun juga bisa belajar dengan fokus.

ibu bekerja dan ujian sekolah anak

1. Cari tahu dari jauh-jauh hari
Saat tahun ajaran baru dimulai, saya pasti segera bertanya ke wali kelas atau wakil kepala sekolah mengenai jadwal Pekan Ulangan Harian, Ulangan Tengah Semester, Ulangan Akhir Semester dan Ujian Kenaikan Kelas. Biasanya, umpama berubah tanggal pun nggak akan maju atau mundur terlalu jauh dari tanggal yang sudah ditentukan. Dengan mengetahui jadwal ini, para ibu bekerja yang mungkin mau ambil cuti jadi bisa siap-siap.

2. Cari tahu gaya belajar anak
Ilmu ini saya dapat dari mbak Vera Itabiliana Psi. Cari tahu gaya belajar anak-anak kita. Kedua anak saya lebih senang diberikan soal latihan tertulis, mereka menjawab dan saya tinggal mengeceknya. Mereka tidak suka latihan soal dalam bentuk tanya jawab lisan. Ini sangat membantu saya dalam mengajar anak-anak.

3. Ajarkan cara belajarnya
Saya mengajarkan anak-anak bagaimana cara belajar menghadapi segala UTS, UAS dan UKK ini. Apalagi saat baru masuk SD yang sangat berbeda dengan TK mereka dulu yang santai. Saya jelaskan kalau H-1 mereka perlu belajar mengenai mata pelajaran yang akan diujikan keesokan harinya (Iya anak saya bukan tipe anak yang belajar setiap hari :D). Saya ajak mereka membuka website sekolahnya dan melihat kisi-kisi materi yang akan diujikan, kemudian mencari di bab berapa materi tersebut ada. Jadi mereka paham bahwa mereka nggak perlu membaca satu buku untuk UAS semester ganjil :p. Dan dengan cara ini anak-anak juga lebih mandiri untuk belajar sendiri.

4. Buat latihan soal
Biasanya satu minggu sebelumnya, saya akan mencicil untuk membuat soal-soal latihan bagi mereka. Saat bekerja saya meminta mereka untuk menjawab dan sepulang kerja saya tinggal mengeceknya. Jika ada yang salah atau mereka tidak tahu, baru kami berdiskusi dan saya menjelaskan caranya. Ini membuat waktu belajar menjadi jauuuh lebih efisien.

5. Bawa copy soal latihan

Kadang, saat pekerjaan di kantor tidak bisa saya tinggal dan saya harus pulang sedikit telat, saya berdiskusi dengan anak melalui telepon. Dengan membawa copy soal latihan ke kantor, saya jadi bisa menyimak soal mana yang ditanyakan oleh anak-anak.

5. Jangan ambisius
Saya sih sadar diri. Karena saya nggak bisa menemani anak-anak belajar seharian penuh, saya juga nggak berharap dari 10 mata pelajaran yang diujikan hasilnya harus bagus semua. Seperti yang pernah saya tulis di artikel “Untuk Para Ibu yang Memiliki Anak Laki-laki.” Saya hanya meminta mereka memilih 3 mata pelajaran yang paling mereka sukai untuk mendapat nilai maksimal dan sisanya jangan di bawah KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal). Serta saya ingatkan berkali-kali, kalau sampai di bawah KKM dan mereka harus remedial, yang rugi diri mereka sendiri, bukan mama bukan ayah.

6. Minta anak-anak membuat target
Oke, kalau ini sebenarnya untuk berbagai macam aspek dalam hidup mereka sih. Bukan sesuatu yang serius kok, tapi mulai tahun 2016 ini memang saya meminta kedua anak saya untuk membuat target. Misal, target untuk sekolah adalah masuk ranking 10 besar. Target untuk aktivitas non sekolah harus bisa berenang gaya punggung. Target untuk tanggung jawab di rumah, mencuci sepatu sendiri dan membersihkan kamar sendiri tanpa bantuan ART. Target untuk mengurangi nangis kalau ingin sesuatu :p. Dan target ini saya bagi pertiga bulan, saya tempel di dekat meja belajar jadi bisa mereka lihat setiap hari. Oh, target ini harus mereka yang bikin sesuai kemauan mereka ya, jangan kita. Biar kalau berhasil mereka yang bangga, dan kalau misalnya tidak berhasil, mereka nggak bisa pakai alasan “Mama sih ngasih targetnya susah…” hahaha.

Jadi, semoga kita semua terbebas dari drama UTS ataupun ujian-ujian lainnya yaaaaa :p.


6 Comments - Write a Comment

    1. Hai mom @Imel_IbuAlunLintang….. thank you sudah membaca dan merasa dapat manfaat :). Kalau untuk urusan mengerjakan PR harian siah, tergantung tipe anaknya. Kalau anak-anak saya, biasanya pulang sekolah kalau nggak cape banget, mereka langsung ngerjain PR sekolah. Tapi kalau udah terlalu capek, biasanya istirahat dulu, baru ngerjain PR setelah mandi sore.

      Saya biasanya minta anak-anak untuk ngerjain PR duluan, baru dicek bareng-bareng setelah saya pulang kerja. Saat ngecek PR itu kan bisa sekalian jadi kegiatan belajar bareng, tapi si PR minimal sudah dikerjakan :D.

      Btw anaknya cowok atau cewek nih? Soalnya katanya suka beda gaya belajar anak cewek dan cowok, hehehe. Good luuuuck ya. Jangan dibawa stress aja, hehehe.

      1. Nah itulah mbak. Dia maunya nunggu sampe ibunya pulang kantor. Kebayang kan kalo baru start ngerjain pe-er jam setengah 8 malam misalnya, dan pe-er gak hanya 1 mata pelajaran, hiks hiks. . Anakku cowok mbak. Mudah2an pas SD nanti ada perubahan deh, dia mau lebih mandiri dan mau ngerjain pe-er sebelum ibunya pulang :)

Post Comment