Politik Kantor, Bagaimana Menghadapinya?

Saya percaya kalau nggak ada perusahaan yang kebal dengan politik kantor. Untuk itulah kita perlu tahu bagaimana cara menghadapinya.

Ketika mendengar kata politik kantor, apa yang terbersit dalam pikiran? Menghadapi teman menyebalkan yang selalu cari muka di depan atasan? Atau malah sesuatu yang sifatnya lebih menyebalkan lagi sehingga bikin nggak semangat untuk ke kantor. Ya, apapun itu politik kantor memang identik dengan konotasi yang negatif. Tapi apa benar seperti itu?

politik kantor

Terus terang saja, pengalaman kerja di media hampir 10 tahun, saya memang nggak terlalu merasakan peliknya kondisi politik kantor. Setidaknya, saya nggak pernah merasakan riwehnya politik kantor seperti yang sering saya dengar dari cerita teman-teman dekat. Bahkan ada, lho, salah satu sahabat saya yang memutuskan pindah kerja lantaran merasa politik kantornya sudah tidak bisa ditoleransi lagi.

Padahal, menurut saya ada banyak hal yang perlu diperhatikan sebelum memutuskan pindah kerja. Toh, seperti yang saya sempat singgung di atas, kalau memang nggak ada perusahaan yang kebal dengan kondisi yang satu ini.

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan politik kantor? Kalau Collins English Dictionary mendefinisikan politik kantor sebagai, “The ways that power is shared in an organization or workplace, and the ways that it is affected by the personal relationships between the people who work there”.

Kalau dipikir-pikir, dari definisi di atas, nggak ada yang buruk, sih, ya? Karena dari pendapat Collins tersebut saya bisa menyimpulkan kalau politik kantor sebenarnya merupakan bentuk kompetensi dalam berorganisasi yang dilakukan dalam ruang lingkup kantor. Di mana kita pun harus memahami fungsi struktur organisasi secara tepat. Sayangnya, nih, memang nggak semua orang bisa ‘bemain cantik’ karena nggak sedikit orang yang terihat bisa melakukan beragam cara ‘kotor’ dalam office politics ini demi mendapatkan tujuan yang diinginkan,

Beberapa waktu lalu saya sempat ngobrol dengan teman yang bekerja di bagian HRD, waktu itu teman saya bilang kalau sebenarnya nggak ada yang salah dengan potitik kantor, asalkan kita paham dengan cara ‘bermain’ atau aturannya. Soalnya, office politics yang sehat justru bisa membantu kita dalam mencapai tujuan karir dengan cara-cara yang lebih positif. Siapa, sih, yang nggak mau kariernya mulus? Pososi yang didapatkan nggak stagnan hingga akhirnya penghasilan yang didapatkan pun akan lebih baik lagi.

Berdasarkan pengalaman pribadi dan beberapa teman dekat saya pun akhirnya bisa menyimpulkan kalau menghadapi politik kantor memang ada aturannya. Biar bagaimanapun, politik kantor tentu punya ‘aturan’ yang berbeda-beda. Untuk itulah penting bagi kita untuk memahami bagaimana budaya, dan nilai yang dianut kantor tempat kita bekerja.

Selain itu, kalau perlu, coba, deh, mulai perhatikan sosok role model yang sudah mencapai posisi di kantor, kemudian pelajari bagaimana kemampuan berpolitiknya. Hal ini pun nggak terlepas bagaimana hubungan atau relasi yang kita bangun di kantor, termasuk dengan atasan.

Meskipun kompetensi dalam berpolitik di kantor perlu dipelajari, namun jangan sampai lupa kalau untuk mencapai posisi diingankan, tetap saja tergantung dengan apa yang sudah kita kerjakan. Intinya, prestasi yang kita lakukan di kantor harus terukur. Ketika ingin mencapai target besar yang inginkan, tentu saja akan sulit jika kita mencapainya seorang diri. Di sinilah peran network dan hubungan baik dengan rekan kerja menjadi salah satu poin yang sangat penting,

Buat saya pribadi, ngomongin soal politik kantor ini memang bukan persoalan menang atau kalah, tetapi lebih kepada bagaimana saya mampu beperan di kantor. Buat Mommies yang punya pengalaman dengan situasi pilitik kantor, share ceitanya, dong!

 


Post Comment