7 hal yang Ingin Saya Katakan Sebagai Ibu (Tapi Tidak Bisa)

Ditulis oleh: Waristi Amila

Ibu juga manusia yang punya rasa dan punya batas. Terkadang, ada hal yang ingin saya katakan kepada anak-anak saya, tapi saya nggak mampu mengucapkannya.

Sejak mengetahui bahwa saya mengandung, saya mencurahkan hampir seluruh hidup saya untuk anak-anak dan menjadikan mereka prioritas terbesar dalam hidup. Namun, saya juga manusia, kan? Punya rasa dan batas, punya rasa lelah dan amarah, juga punya ego. Ada hal-hal yang ingin saya katakan, tapi di sisi lain saya juga tidak tega jika itu menyakiti kedua anak saya, drama ya, hahaha. Jadi tak jarang, ada beberapa kalimat yang berakhir di ‘laci’ paling dalam di hati saya, ini di antaranya:

yang ingin dikatakan kepada ibu

1. Mommy lelah, jangan ganggu Mommy dulu.
Kalimat ini paling sering berada di ujung lidah saya. Ketika melewati jam kerja yang panjang, apalagi saat persiapan event yang membuat saya tidak tidur beberapa hari, seringnya saya hanya ingin kembali ke rumah dan tidur lama sekali. Namun tentunya ketika si Abang hadir dengan ceritanya atau si kecil yang tiba-tiba mengajak bermain, saya tidak pernah sanggup untuk berkata, “Mommy lelah nak, boleh mommy tidur?

2. Boleh nggak pilih kegiatan yang aman aja?
Ini yang teman saya rasakan ketika ia merasa kalau kegiatan yang dipilih anaknya ‘berbahaya’! Saat anaknya memilih kegiatan panjat tebing. Setiap kali anaknya pergi untuk latihan, teman saya bawaanya ingin bilang “Ganti kegiatan aja nggak mau?” Tapi kalau begitu, bagaimana anak bisa mengembangkan minatnya?

3. Tapi Mommy mau makanan itu
Setelah seharian bekerja, pulang ke rumah, dan tersisalah seporsi kecil hidangan makan malam favorit kita. Saat bersiap makan, tiba-tiba anak datang dan bilang kalau dia ingin makan itu. Siapa yang pernah bilang ke anak kalau, “Jangan dong, Ibu juga mau makanan itu?” Yak, betul, tidak ada. Kita pasti akan langsung membiarkan anak memakannya, dan kita? Ya, buat mie instan atau minum air putih yang banyak saja :D.

4. I am not worried, I’m scared
Jangan lupa untuk kabari mommy dong, kiddo. Mommy kan khawatir.” Itu yang saya katakan ke anak tertua saya kalau dia main dengan teman-temannya dan lupa memberi kabar. Padahal mulut saya sudah ingin mengucapkan rentetan kalimat mengenai Mommy takut kalau ada orang jahat, takut kalau dia pakai narkoba, takut kalau dia kecelakaan, takut kalau dia kenapa-kenapa. Tapi saya nggak ingin anak saya tumbuh diikuti ketakutan-ketakutan yang ada di dalam pikiran Mommy-nya.

5. Mommy lagi ingin sendiri
Saat saya sedang mengalami hari yang buruk, seringnya saya hanya ingin diam dan tenang, entah itu membaca buku, mendengarkan musik, atau tidur. Tapi lagi-lagi anak-anak hanya ingin berinteraksi selama mungkin dengan Mommy mereka, dan seringnya saya hanya bisa menghela napas dan meladeni mereka karena saya tidak ingin mereka merasa ditolak.

6. If they can do it, why can’t you?
Sebagai orang tua saya pahaaaaam banget kalau saya tidak bisa membanding-bandingkan anak saya dengan teman atau bahkan saudaranya karena setiap anak dilahirkan dengan kelebihan masing-masing. Tapi, saat teman-temannya bisa mendapat nilai ujian yang baik atau berprestasi di bidang musik atau olahraga, kadang terlintas keinginan untuk berkata, “Kenapa anak itu bisa dan anak saya nggak bisa?” (Yak, silahkan hakimi saya :D). Ujung-ujungnya kalimat ini saya telan kembali.

7. I like your brother / sister more
Setiap perjalanan kehamilan dan kelahiran pasti memiliki cerita sendiri, tiap anak juga memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Kadang itu membuat kita menjadi lebih dekat atau bahkan lebih “jatuh hati” pada seorang anak dibandingkan yang lainnya, tapi ini tentunya tidak bisa kita katakan, dan kita sebisa mungkin tidak menunjukkannya.

Jadi orang tua itu unik ya. Ada banyak aspek dalam hidup yang berubah, salah satunya kita jadi punya kadar toleransi begitu tinggi pada anak-anak kita. Apakah kita bersalah kalau punya pemikiran seperti di atas? Menurut saya sih tidak, karena sebagai manusia kita pasti juga punya perasaan dan harapan, tapi itu yang membuat kita berbeda, kita mampu mengendalikannya dan pada akhirnya, semua pemikiran dan perasaan itu hanya keluar dalam satu bentuk yang indah, cinta kita untuk anak – anak.


2 Comments - Write a Comment

  1. Mommy Waristi Amila , saya pikir curhatan ini sangat manusiawi, saya sendiri belum menjabat sebagai seorang mommy mulia, tapi saya berterimakasih pada artikel ini untuk bekal saya besok. Jangankan kepada anak-anak kita kelak, mengatakan hal tersebut pada keponakan kecil saya yang lagi unyu-unyunya aja saya ga tega. Hal ini yang membuat saya bisa lebih bersabar menghadapi ibu saya juga seberapapun BT atau lelahnya kita. Semoga aja putra putri mommy Waristi semakin dewasa (makin cepet gede dan sehat) agar semakin menyayangi n ngertiin ibunya :-)

    1. Hallo mba Ratna, terima kasih untuk comment dan pengertiannya :)
      Memang menantang ya menghadapi anak-anak, dan kayaknya mba Ratna sudah OK nih, dengan jadi tante yang baik buat ponakan-ponakannya. Iyaaaa…semoga mereka cepat besar dan semakin sayang sama mommy nya – eh tapi anak-anak itu selalu lebih lucu saat mereka kecil dan imut hihihi.
      Kalau ada pengalaman lucu, sharing ya :)

Post Comment