Rudi Soedjarwo, “Anak-anak Perlu Belajar dari Pengalaman Orangtua”

Sebagai filmmaker, Rudi Soedjarwo  punya misi tersendiri dalam membuat sebuah karya, salah satunya adalah memberikan pesan pada ke tiga anaknya. Pesan seperti apa? Berikut kutipan obrolan saya dengan pria kelahiran 7 November 1971 ini beberapa waktu lalu.

Siapa, sih, yang nggak kenal dengan sosok pria berkepala plontos ini? Saya yakin kalau  di antara Mommies sudah cukup familiar denganya. Ya, sebagai salah satu film maker Tanah Air, nama Rudi Soedjarwo memang sudah diperhitungkan. Maklum, karyanya memang sudah banyak yang mencetak hits, salah satunya adalah Ada Apa Dengan Cinta.

Beberapa waktu lalu, Rudi baru saja menghasilkan karya baru, Stay With Me. Bisa dibilang, film yang satu ini berbeda dari film sebelumnya karena ceritanya diadaptasi dari pengalaman pribadinya, khususnya lagi mengenai kehidupan rumah tangganya.  Pernikahannya dengan mantan isterinya -Ninin, memang tidak berjalan dengan mulus dan harus berakhir dengan peceraian.

rudi-soedjarwo*foto : kapanlagi.com

Kebetulan, saya punya kesempatan ngobrol dengannya setelah acara jumpa pers peluncuran film besutan Integrated Film Solution (IFS). Waktu itu Rudi sempat bilang, “Saya bikin film ini untuk anak saya. Untuk menjelaskan apa yang terjadi pada ayahnya sekarang tapi belum bisa disampaikan,” tukasnya.

Setelah 3 tahun vakum, kenapa tiba-tiba membuat film Stay With Me, cerita drama dengan konflik keluarga?

Karena itu yang lebih dekat dengan saya sekarang. Agak susah rasanya kalau kita menerima skrip film tapi feel-nya nggak dapat. Mungkin beda kondisinya jika saya memang masih muda, saya tentu akan buat film yang lebih macam-macam.  Tapi kalau sekarang, umur sudah 44 tahun, anak-anak masih kecil, baru cerai juga, saya akan memilih membuat film yang benar-benar saya alami. Dengan begitu, saya bisa memfungsikan film sebagai alat yang lebih bermakna karena saya bisa berbagi rasa dan pengalaman, bukan sekadar hiburan saja.

Selama nggak membuat film, apa saja yang Mas Rudi lakukan?

Apa yang sedang saya jalankan 8 tahun terakhir adalah kehidupan perkawinan. Bagaimana saya struggling, nggak ada duit, akhirnya semua ini merusak semua bahkan kehidupan rumah tangga saya. Jadi saya memang butuh waktu untuk recovery. Saya berusaha untuk kembali, dan berusaha menyembuhkan luka.

Apa yang membuat Mas Rudi kuat dan ingin bangkit dari kondisi sebelumnya?

Saya ingat anak yang masih kecil-kecil, mereka masih butuh bapaknya. Kalau saya sakit, stres, anak-anak bagaimana? Apa yang bisa saya tinggalkan untuk mereka? Kalau untuk laki-laki, ketika stress itu kan sesuatu yang mengerikan, ketika itu saya memang jadi nggak bisa produktif dan menolak untuk membuat film karena kondisi juga lagi down, kalau maksa bikin film pasti hasilnya akan jelek.

Saat ini Mas Rudi melihat film sebagai apa, sih?

Kalau sekarang saya melihat film sebagai alat untuk bisa berbagi rasa dan pengalaman. Mungkin untuk ke depannya, saya akan lebih mudah membuat film, kalau dulu mungkin saya berpikir mau bikin film yang bagus, film sukses yang legendaris. Bukan itu tujuan saya sekarang. Sekarang saya berpikir semoga film yang dibuat bisa berarti paling nggak buat keluarga, karena ini yang bisa saya tinggalkan. Pengalaman itu kan mahal, nah, anak-anak bisa belajar dari pengalaman saya.

 Di film Stay With Me, pesan seperti apa yang ingin Mas Rudi sampaikan pada anak-anak?

Kadang-kadang orang tua yang seusia saya ini, suka berpikir, ‘Nanti sempat nggak sih anak-anak tahu soal kisah cerita bapaknya?’. Anak saya sekarang ini kan berusia, 4, 7, 8 tahun, nah,  kelebihan film ini sangat banyak, kita bisa memanfaatkannya untuk berbagai hal. Menurut saya, film bisa menjadi penggalan peristiwa apa yang sudah saya rasakan dan lalui sehingga paling tidak ketika saya sudah nggak ada nanti, anak-anak tahu mengenai cerita bapaknya, yang mungkin kalau saat ini saya ceritakan secara langsung, mereka belum paham. Itu yang membuat film ini berbeda untuk saya.

Sebenarnya, film ini ditujukan untuk siapa saja. Pasangan yang ingin menikah atau justru yang sudah menikah?

Kalau menurut saya, sih, film ini ditujukan untuk semua orang. Buat mereka yang belum menikah, mereka bisa tahu dan belajar, terkadang waktu itu akan mem-blur-kan definisi kebahagiaan. Ketika pacaran bisa sering ketawa-ketawa bahagia sama pacar, bisa mesra dengan pelukan dan ciuman.  Tapi ketika sudah menikah 15 tahun, masih mesra seperti itu nggak? Masih suka cium pipi pasangan nggak ketika ingin pergi? Hal-hal sepele itulah yang sering dilupakan.

Bagi pasangan yang sudah menikah,  dalam film ini bisa melihat kalau masalah-masalah dalam rumah tangga sebenarnya adalah masalah komunikasi dan harapan terhadap pasangan yang sebenarnya nggak perlu jadi konflik kalau bisa dikomunikasikan dengan baik. Ketika komunikasi jelas, masing-masing orang mau menerima pasangannya baik dalam suka ataupun duka. Menurut saya, seharusnya pasangan yang sudah menikah itu, ya, bisa menerima kondisi dan move on.

Saat ada pilihan lain, ya, pasti akan kepikiran nanti akan jadi selingkuh. Kalau buat laki-laki, saat mereka ada di bawah, ada pasangan yang kadang bisa menguatkan tapi juga justru yang malah menjatuhkan. Hal-hal inilah yang harus terus dipelajari, khususnya buat orang-orang yang mau menikah. Saya, sih, yakin kalau semua pasangan bakal mengalami tapi hanya level-nya saja yang berbeda-beda.