Bersama Melawan Demam Berdarah Dengue!

Musim hujan masih melanda Indonesia, beberapa penyakit musiman siap mengintai siapa saja. Termasuk DBD! Mari lawan bersama penyebaran Demam Berdarah Dengue!

Meski sudah berulang-ulang mendengar dan membaca perihal penyakit yang dibawa oleh nyamuk aedes aegypti ini, tetap saja saya merasa ngeri saat kembali mendapatkan pemaparan dari para ahli yang peduli memberantas penyebaran DBD di Indonesia. Seperti fakta-fakta yang baru saja saya dapatkan di acara Gerakan “Bersama Melawan Demam Berdarah”  bersama GSK dan IDAI di Jakarta, awal Maret lalu.

Bersama Melawan Demam Berdarah Dengue!

Ketakutan saya bukan tanpa alasan, karena data menyebutkan telah terjadi 126 ribu kasus DBD dari 2015 hingga Februari 2016. Dan 0,8% di antaranya mengalami kematian, itu artinya ada kurang lebih 1.000 orang yang harus menemui ajalnya karena DBD. Meski angka kematian tadi termasuk ringan namun tetap harus waspada!

Menurut  Drg. R. Vensya Sitohang, M. Epid, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik – Kementrian Kesehatan RI ada banyak faktor yang menyebabkan kasus DBD kian tahun semakin bertambah, karena pada rentang tahun sebelumnya, yakni 2011-2014 ada sekitar 92 ribu kasus DBD. Di antaranya berkaitan dengan alam yaitu curah hujan, hal ini menyebabkan nyamuk dapat berkembang biak dengan pesat. Selain itu nyamuk kini bisa lebih adaptif dengan suhu di ruangan ber-AC, kelembapan udara, hingga kepadatan penduduk juga turut menyumbang penyebab semakin banyaknya penyakit DBD kian meningkat.

Karenanya Drg. Vensya menegaskan sangat dibutuhkan tindakan pencegahan di berbagai lingkungan dan semua orang harus turut aktif melawan penyebaran demam berdarah dengue ini. Mommies tentu sering mendengar tindakan 3M? Berikut ini pemaparan 3M dari beliau:

  • M pertama: Menguras bak penampung, tapi tidak hanya menguras – melainkan harus disikat pada bagian seluruh bak atau tempat penampungan air  Karena telur nyamuk bisa merekatkan diri.
  • M kedua: Menutup rapat tempat penampungan air
  • M ketiga: Memanfaatkan dan mendaur ulang barang bekas, jadiii, bukan mengubur barang bekas, ya Mommies.

Dan poin + terdiri dari:

  • Menghindari gigitan nyamuk, terutama pada siang hari.
  • Menabur lavar sida di tempat-tempat yang berpotensi nyamuk bertelur.
  • Menggunakan kelambu antau anti nyamuk berupa lotion dan obat nyamuk yang kini banyak beredar.
  • Memelihara ikan untuk tempat penampungan air yang cukup luas.

Perlu diingat ya, Mommies tindakan pencegahan ini penting dilakukan oleh semua elemen masyarakat, karena belum ditemukan antivaksin DBD. Perusahaan juga harus ikut andil, jangan sampai ada jentik nyamuk di lingkungan kantor,jelas dr. Aman B. Pulungan, Ketua Umum Pengurus Pusat IDAI. Hal yang sama juga harus kita lakukan di rumah, Mommies – perhatikan dengan saksama deh, tempat-tempat apa saja yang memungkinkan nyamuk berkembang biak dengan leluasa. Karena menurut dr. Aman DBD tidak memandang usia dan jenis kelamin – semua berpotensi terjangkit DBD.

Sudah jelas dong, ya, kalau DBD ini sebetulnya bisa diminimalisir. Asalkan semua pihak kompak melakukan 3M+ tadi, jangan hanya berpangku tangan pada pemerintah. Lah wong, kalau ada jentik nyamuknya ada di rumah kita akibat gaya hidup yang kurang sehat, lantas kenapa menyalahkan pihak tertentu? Mari bersama melawan demam berdarah dengue!


Post Comment