Jangan Jadi Orangtua Kalau…

Menjadi orangtua itu nggak sekadar butuh akta nikah, usia cukup, organ reproduksi yang sudah matang atau kesiapan finansial. Ada lagi yang nggak boleh ketinggalan; daya nalar yang baik dan kesiapan mental.

Menjadi orangtua itu tidak seperti kita datang ke Kidzania, cap cip cup pilih jenis pekerjaan yang kita mau, nyoba, kalau seru kita lanjutin kalau nggak seru kita tinggal. Menjadi orangtua itu berarti kita harus siap bertanggung jawab terhadap kehidupan seorang manusia. Kadang saya suka berpikir, kalau mendengar semakin ‘meriahnya’ kejahatan yang dilakukan oleh orangtua kandung, mungkin suatu saat nanti dibutuhkan tes psikologi untuk para calon orangtua :(. Di luar kasus kejahatan, ada juga kondisi-kondisi lain yang bikin saya gregetan dan ingin bilang “Udah deh jangan jadi orangtua dulu kalau masih begitu!”

Jangan jadi orangtua kalau

1. Jangan jadi orangtua kalau belum bisa MENGATAKAN TIDAK kepada anak-anak kita
Tiga hari lalu di grup Whatsapp kantor, Hanzky mengirimkan sebuah link berita tentang anak usia 7 dan 9 tahun yang dibiarkan membawa motor oleh orangtuanya. Luar biaaaasaaaa kan! Ini yang masuk berita. Kenyataannya, entah berapa sering saya berpapasan di jalan raya dengan anak-anak piyik yang berasa keren bisa naik motor sendiri. Dan sesuai dengan usia mereka yang belum bisa berpikir panjang, jarang dari mereka yang menggunakan helm.

Beberapa tetangga saya juga ada yang seperti itu. Ada banyak alasan mereka membiarkan atau bahkan mengajarkan anak mereka yang masih di bawah umur menyetir motor. Tapi yang paling banyak adalah: “Kasian karena anaknya merengek terus. Nggak bisa nolaknya. ” Pertanyaan saya adalah: Nggak kasian kalau anaknya kecelakaan?

Saat kita tidak bisa mengatakan TIDAK atau selalu nggak bisa menolak permintaan anak kita, IMHO, saat itulah kita gagal menjadi orangtua.

Anak, seberapa pun usia mereka, selalu membutuhkan batasan, bantuan dan pengarahan dari orangtua. Dan itu termasuk penolakan jika kita tahu bahwa apa yang ia inginkan bisa membahayakan keselamatannya.

2. Jangan jadi orangtua kalau kita masih TIDAK PEDULI dengan keselamatan anak kita
Hal lain yang suka membuat saya gregetan adalah saat melihat orangtua mengendarai motor sambil membonceng anak kecil, yang mengenakan helm hanya si orangtua yang mengemudikan motor. Si anak? Polos aja kepalanya tanpa perlindungan helm. Mungkin si orangtua tidak paham, kalau kepala orang dewasa dengan kepala anak-anak itu sama rentannya kalau sudah terbentur benda keras. Wait… tidak paham atau tidak peduli?

Sebelum melakukan apapun, pastikan kalau kita sudah menyiapkan perlindungan untuk si kecil dengan maksimal. Berapa sih harga sebuah helm untuk anak-anak dibanding kalau ada apa-apa dengan si anak biaya yang dikeluarkan pasti jauh lebih besar. Kita pasti pernah belajar peribahasa yang mengatakan Lebih baik mencegah daripada mengobati, kan?

jangan jadi orangtua kalau

*Image dari www.fiafoundation.org

3. Jangan jadi orangtua kalau kita masih MENGABAIKAN KESEHATAN anak kita
Untuk para orangtua yang masih hobi merokok di dekat anak-anak, menurut saya, kalian menempatkan kesehatan anak-anak kalian di prioritas terakhir! Saya tidak peduli dengan alasan mengapa kalian masih merokok, selama itu hanya merusak kesehatan kalian sendiri *EH* :D. Tapi saya nggak habis pikir kalau ada orangtua yang asik-asik merokok di dekat anak-anaknya. Mbok ya ditahan sedikit, menjauh dari anak-anak atau bahkan ya jangan merokok saat sedang bersama anak. Mendapatkan kesehatan yang layak, itu salah satu hak anak, lho!

Kalau seandainya setiap anak diberikan kebebasan untuk memilih orangtua, apakah anak kita akan memilih kita jika dia tahu apa yang kita lakukan sebenarnya menempatkan dia dalam bahaya?


2 Comments - Write a Comment

  1. Setuju banget mbak Fia….. saya sering gemes liat anak2 masih piyik udah naik sepeda motor….ga pake helm pula….duuuuh mana sih ortunya…??? Pernah seorang temen cerita, kalo anaknya yg masih kelas 4 SD, minta dibelikan sepeda motor, buat ke sekolah katanya. Langsung saya bilang “Jangan sekali2 ijinkan anak di bawah umur naik sepeda motor!” Please deh….liat anak2 SMA nyetir motor aja kadang gregetan, apalagi anak SD….. Kadang bingung gimana ya pikiran ortunya… apa cuma sekedar bangga2an aja…ini lho…anakku masih SD udah bisa nyetir motor….udah berani naik motor ke jalan besar….(Cuma bisa geleng2 kepala…). Trus untuk para perokok….yang satu ini memang bikin kesel banget….sering kalo makan di luar, saya sama suami memilih tempat yang bebas asap rokok… Kadang udah nyaman makan di suatu tempat, eeee datang rombongan perokok….dan mereka ga peduli kalo di sekitar mereka ada anak2 kecil yg berhak untuk sehat. Saya sendiri sangat tidak nyaman dengan asap rokok…. Mereka memang berhak untuk merokok…tapi keluarga saya berhak juga untuk sehat terus seumur hidup….

Post Comment