Sampah: Setelah Dipisah, Lalu Bagaimana?

Aturan kantong plastik berbayar membuat kita diet kantong plastik. Masalahnya, saat si kantong bekas belanja biasanya digunakan untuk menampung sampah di rumah, sekarang apa kabar dengan sampah di rumah kalau tidak lagi ada kantong plastik?

Saya termasuk pribadi yang bersemangat setelah kebijakan pemerintah untuk mengurangi konsumsi kantong plastik diterapkan. Finally, ada sedikit unsur ‘paksaan’ untuk membuat orang-orang Indonesia diet kantong plastik. Finally, kampanye para aktivis lingkungan untuk bawa tas belanja sendiri kini punya taji. Ada peraturan seperti ini pasti sedikit banyak akan mengubah kebiasaan masyarakat menggunakan kantong plastik.

Dan ketika belanja ke supermarket, saya mendengar obrolan ibu-ibu yang mengeluh kepada kasir, bagaimana nanti membuang sampah rumah tangga, karena selama ini plastik yang digunakan setiap habis berbelanja, ya  digunakan untuk menampung sampah, sehingga tidak berantakan. Rasanya ini adalah keluhan hampir semua ibu-ibu, karena di rumah saya pun memiliki kebiasaan yang sama, menggunakan plastik belanja untuk membuang sampah.

Sebenarnya ada solusi yang sudah sejak lama kita dengar, bukan hal baru lagi, yaitu memilah dan mengolah sampah. Yang membuat sampah menumpuk, adalah ketika sampah kering dan basah dicampur. Nah momen pemberlakuan kebijakan kantong plastik ini, bisa menjadi saat yang tepat bagi kita untuk action, memilah sampah basah dan kering.

Setelah dipisah, terus diapain? Kalau dipisah, kemudian sama-sama dibuang di tong sampah depan kan ya sama saja. Diolah dong! Nah, saya belajar lagi untuk mengolah sampah basah, dari Wahyu Andito, seorang urban farmer, aktivis sampah, pemilik rumah-hijau.net. Di rumahnya, ia memiliki lahan yang ditanami berbagai macam tanaman buah dan sayur, yang ditanam secara organik dan diberi pupuk kompos hasil olahan sampah rumah tangganya sendiri. Kegiatan memilah dan mengolah sampah menjadi pupuk ini disebut composting.

hijaucollage
beberapa contoh hasil kebun Wahyu Andito

Bikin pupuk kompos, mengolah sampah, terdengar ribet? Ternyata tidak lho. Perlu usaha, jelas. Tapi ini benar-benar sesuatu yang bisa kita lakukan sendiri kok.

Pertama, yang jelas kita harus konsisten untuk selalu memisahkan sampah basah dan kering. Sudah tahu kan, yang dimaksud sampah basah atau sampah organik ini adalah sisa makanan, sisa buah dan sayur, dan lain-lain. sedang sampah kering atau non organik adalah selain yang bisa kita makan. Plastik, kertas, kaca, dan sebagainya. Jadi, yang akan kita buang hanyalah sampah kering. Otomatis, lebih sedikit kan?

Kemudian, untuk mengolah sampah basah, langkah-langkahnya seperti berikut ini.

  1. Pertama, kita harus punya tong/wadah composter. Sudah bisa dibeli di banyak tempat kok, di toko online juga ada.
  2. Selanjutnya adalah mencacah sampah. Nah, effort terbesarnya memang di sini. Sampah basah akan cepat terurai jika sudah tercacah kecil-kecil.
  3. Setelah itu, campur sampah dengan mikroba/aktivator/MOL, yang mempercepat proses pembusukan. Mikroba/aktivator ini juga bisa kita beli, dan sudah ada takaran penggunaannya.
  4. Tambahkan penggembur, untuk mengatur/mengendalikan kadar air. Penggembur ini bisa berupa serbuk gergaji dan sekam padi, dapat juga diganti dengan abu gosok.
  5. Semua campuran tersebut dimasukkan dalam tong komposter, didiamkan selama 7 hari dan hasilnya berupa kompos cair dan padat.

 

composter2
beberapa contoh tong/wadah composter

hijau5 (Medium)

Untuk sampah basah yang kita hasilkan setiap hari bisa diolah dengan cara yang sama, dan langsung dicampur saja kedalam komposter yang sudah berisi campuran hari sebelumnya. Hasil pupuk cair dan padat ini bisa kita gunakan untuk menyuburkan tanaman, dan sudah terbukti lho. Jadi, sampah berkurang, kita juga bisa bercocok tanam di lahan yang terbatas.

Kalau langkah-langkah tersebut dirasa merepotkan (atau belum punya komposter), yang paling praktis ya membuat tanah kita subur dengan sampah basah, atau yang sering disebut dengan membuat lubang biopori. Kalau ini sih simpel banget, yang penting ada lahan walaupun sempit di sekitar kita. Setelah sampah basah kita kumpulkan, gali lubang dangkal dan masukkan saja semua sampah basah tersebut di dalamnya. Tutup kembali dengan tanah. Lebih baik cacah sedikit sampah agar lebih cepat terurai. Setiap hari, buat lubang di tempat baru. Nah, dalam 7 hari, kita bisa menggali di lubang pertama, dan kita bisa lihat sampah hari pertama sudah terurai menjadi tanah. Begitu seterusnya.

Tidak susah kan? Nah sambil belajar lagi untuk bercocok tanam di lahan terbatas, yang pasti proses memilah sampah dan membuat lubang biopori sudah bisa kita lakukan segera. Mari memilah dan mengolah sampah rumah tangga kita, demi bumi dan lingkungan tempat tinggal kita yang lebih lestari.


Post Comment