Orangtua, Anak dan Tontonan Film

Sebelum asik-asik menyalahkan bioskop, produser film atau bahkan si anak yang nggak bisa anteng di dalam bioskop, pastikan saja kita sudah lebih dulu melakukan 5 hal ini.

Saya membuat tulisan ini karena, pertama, merasa terganggu dengan kejadian satu minggu lalu saat saya menonton film Deadpool bersama suami saya. Yes, benar, ada orangtua yang mengajak anak-anaknya yang masih kecil untuk menonton film ini. Dan, kedua, saat membaca postingan seorang ibu di Facebook yang marah-marah dan merasa dijebak oleh pihak bioskop yang membiarkan dia membawa anaknya menonton Deadpool (yeaaah you riteee).

Sebenarnya urusan mau mengajak anak nonton bioskop atau enggak memang urusan pribadi sih ya, tapi mengingat bahwa menjadi orangtua itu dibutuhkan kecerdasan dan bioskop itu adalah tempat umum yang dikunjungi oleh banyak orang, mungkin para orangtua dapat melakukan beberapa hal berikut ini sebelum akhirnya memutuskan membawa si anak ke bioskop:

IMG_1166

1. Baca sinopsis film tersebut
Salah satu cara paling mudah bagi saya untuk mengetahui apakah film tersebut layak ditonton oleh anak-anak saya adalah dengan melakukan usaha yang nggak susah kok, baca sinopsis film tersebut. Meskipun biasanya sinopsis berisi penjelasan yang singkat, tapi sedikit banyak kita sudah bisa tahu inti cerita dari film tersebut.

2. Tonton trailernya terlebih dahulu
Okelah kalau sinopsis mungkin tidak selalu bisa menunjukkan apakah film tersebut cocok atau tidak untuk anak-anak, bagaimana kalau mencoba untuk menyaksikan trailernya? Sebelum trailer Deadpool keluar, saya sempat menyanggupi permintaan dari anak-anak untuk menonton Deadpool kalau nanti film itu main di bioskop. Saat itu yang ada di pikiran saya adalah, “Halaaah, paling Deadpool nggak jauh-jauh dari Spiderman, Avengers , Thor, Iron Man, film superhero khas Marvel.” Dan ternyata, eng ing eng, saya salah besar begitu menyaksikan trailernya. Dengan segala makian, jokes dan adegan tusuk, tebas dan tembak kepala, it’s a BIG NO NO untuk anak-anak saya menonton film ini.

3. Cek rating
Setiap film pasti akan mencantumkan ‘rating’ untuk menunjukkan untuk siapa film itu ditujukan. Rating dengan tulisan G (General Audiences) berarti film ini bisa ditonton oleh segala usia, karena di dalamnya tidak ada kata-kata kasar, adegan telanjang atau narkoba.

Rating dengan tulisan PG (Parents Strongly Cautioned. Some Material May Be Inappropriate For Children Under 13) menjelaskan bahwa anak di bawah usia 13 tahun tidak disarankan untuk menonton film ini. Nah, untuk poin ini kembali kepada kebijakan orangtua. Karena sperti film Spiderman itu masuk ke dalam kategori PG-13, tapi saya mengizinkan anak saya umur 9 dan 7 tahun untuk menonton karena adegan berantemnya masih cukup ‘aman’, sumpah serapahnya juga nggak heboh.

R – Restricted (Children Under 17 Require Accompanying Parent or Adult Guardian) kategori ini berarti seringkali banyak bahasa yang kasar, kekerasan terus menerus, adegan seks.

NC-17 (NC-17 — No One 17 and Under Admitted). Film dengan kategori ini bukan berarti film porno lho Moms, tapi film yang sarat dengan adegan kekerasan, seks, perilaku aberrational, dan penyalahgunaan obat atau unsur lain secara berlebihan.

4. Bertanya ke teman
Manfaatkan social media untuk bertanya apakah sudah ada teman yang menonton film yang ingin kita tonton bersama anak. Minta masukan dari mereka, terutama dari teman-teman yang juga memiliki anak seumuran anak kita.

5. Cari bala bantuan
Pernah berada di dalam bioskop yang memutar film untuk orang dewasa dan ada orangtua sibuk meminta anaknya untuk tidak berisik atau hebatnya lagi membentak si anak untuk diam dan tidak menangis? Saya pernah! Rasanya ganggu pakai banget! Kalau sudah begini, sudah jelas mata saya menatap tajam ke orangtua. “Mungkin dia nggak punya orang untuk menitipkan anaknya sementara waktu,” kata suami saya. Jawaban saya, “Ya kalau gitu nggak usah maksa untuk nonton film ini dong!

Saat Anda sudah ingiiiin sekali menonton film dan film ini tidak layak untuk anak Anda, lebih baik cari saudara, atau teman yang Anda percaya untuk menemani si anak selama Anda pergi nonton. Kalau tidak ada, ya sudah sabar saja atau nontonlah di DVD atau download atau apalah, masih banyak kok cara lain, tanpa harus Anda bersikap egois dengan memaksa anak menonton film yang tidak sesuai usia.

Dan, Anda pikir orang-orang lain di dalam bioskop membayar sekian puluh hingga sekian ratus ribu untuk mendengar teriakan atau tangisan si kecil? Sudah tentu tidak. Jadi yuk belajar menjadi orangtua yang cerdas sekaligus kritis.


Post Comment