Pesan untuk Suami, Ini Cara Agar Kami Bisa Orgasme

Sebelum berusaha keras memuaskan pasangan dengan mengetahui apa yang diinginkan saat bercinta, nggak ada salahnya untuk bertanya pada  diri sendiri. Ketika berhubungan, apa sih yang paling diinginkan? Biar bagaimanapun, mencapai orgasme menjadi hak kita juga, lho!

Saya seringkali mendengar keluhan teman perempuan yang bilang kalau dirinya jarang sekali merasa orgasme. Parahnya, ada di antara mereka yang pernah bertanya ke saya, “Memang orgasme itu rasanya seperti apa, sih? Kok, kayanya gue biasa-biasa aja, deh. Nggak pernah merasakan yang gimana gituuu….”.

Sepengetahuan saya, sih, orgasme merupakan sebuah sensasi yang bisa dirasakan saat berhubungan seksual dan bisa mencapai klimaks. Sensasi ini tentu saja bisa dirasakan baik pihak suami ataupun istri. Tapi kalau merujuk dari wikipedia, orgasme bisa diartikan sebagai sebuah pelepasan mendadak sebuah ketegangan seksual yang terkumpul, sehingga mengakibatkan kontraksi otot ritmik di daerah pinggul yang menghasilkan sensasi kenikmatan yang kuat dan diikuti relaksasi yang cepat.

Seks untuk perempuan sibuk

Di awal pernikahan, saya pikir masalah seks itu nggak perlu dipelajari dan bisa menjadi hal yang sangat kompleks. Ketika pacaran, baru dicium saja rasanya sudah ser-seran, hahahaha. Jadi kalau menikah pasti lebih nikmat dong karena hubungan sudah halal dan bisa lebih berekplorasi. Kenyataannya? Mempertahankan hubungan supaya tetap hot dan terasa rock and roll butuh trik khusus!

Hal seperti ini memang perlu diusahakan karena hubungan seksual memang jadi salah satu ‘amunisi’ agar pernikahan berjalan dengan langgeng dan romantis. Tapi, kalau ngerasa nggak enjoy, merasa terpaksa atau buru-buru, bagaimana bisa merasa puas alias mencapai orgasme?

Saya pernah membaca sebuah artikel yang menuliskan mengenai sebuah penelitian yang dilakukan Shere Hite, yang membuktikan kalau 70% wanita yang ditelitinya membutuhkan paling sedikit beberapa rangsangan pada klitorisnya untuk mendapatkan orgasme. Artinya, salah satu kunci untuk membuat perempuan terangsang adalah dengan ‘memainkan’ klitorisnya. Jika tidak, itu sama saja artinya mengharapkan suami bisa ejakulasi tanpa perlu gesekan pada kepala penis.

Lalu, apakah merangsang daerah klitoris saja sudah cukup? Ya, tentu tidak, dong! Untuk menemukan jawabannya, selain dari pengalaman pribadi, saya pun sempat bertanya beberapa pada teman dekat saya. Hal apa, sih, yang membuat mereka bisa orgasme?

Jangan lupa pemanasan

Tidak sedikit perempuan yang perlu dirinya untuk dipancing lebih dulu. Padahal buat saya, kalau sudah jadi suami istri, nggak perlu nunggu dicolek, ya? Sesekali memberikan kode pada suami pasti mengasyikan! Yang pasti ketika ingin mencapai orgasme, perempuan butuh foreplay. Paling nggak hal inilah yang saya dan beberapa teman dekat rasakan. “Gue, sih, paling males, ya kalau suami main ‘seruduk’ aja. Lebih enak kalau ada pemanasan dulu,” ungkap salah satu teman saya. Ya, kalau memang ada keterbatasan waktu dan harus quicky seks, bukan berarti langsung melakukan hajar, kan?

Posisi seks menentukan

Iya, posisi seks juga ternyata punya peran besar untuk mendapatkan orgasme. Jadi sifatnya memang sangat individual. Misalnya, kalau saya lebih nyaman posisi seks misionaris, bukan berarti bisa disamaratakan karena pengalaman seks adalah pengalaman yang sangat individual. Tapi, kalau ngomongin posisi, ternyata banyak sekali teman saya yang mengaku kalau lebih cepat orgasme ketika melakukan posisi doggy style. Katanya, nih, posisi ini memungkinkan penis lebih cepat merangsang area g-spot perempuan. Selain itu ada juga yang paling suka dengan posisi woman on top karena kitalah yang bisa mengontrol sendiri daerah yang mudah dirangsang.

Biarkan kami masturbasi

Nggak usah dipungkiri kalau masturbasi merupakan hal alamiah bagi para laki-laki. Bahkan, dari fase ini sudah mereka eksplor sejak kecil dan terutama ketika saat remaja. Tapi, tanpa disadari, sebenarnya perempuan juga suka masturbasi, kok. Bahkan tidak sedikit yang butuh melakukannya untuk mencapai orgasme. Jadi, untuk para suami, ketika sedang melakukan penetrasi, nggak ada salahnya membiarkan perempuan untuk merangsang dirinya sendiri. Toh, kita sebagai perempuan dan pasangan tentu memang paling tahu apa yang diinginkan.

Seks toys, why not?

Belum lama ini saya sempat membahas mengenai seks toys dengan teman-teman dekat di Whatsapp Group. Iseng-iseng saya bertanya, “Eh… kalian ada yang sudah coba pakai seks toys belum, sih?” Teman saya pun menjawab, “Lah… kalau sudah ada yang beneran, ngapain pakai seks toys, Dis? Ekplorasi saja terus. ”Hahahaha… ya benar juga, sih, yang paling penting, kan bagaimana kita bisa terus mencari variasi biar nggak monoton. Sepertinya dengan sex toys juga seru. Seperti yang diceritakan salah satu teman saya, ketika memasuki usia pernikahan yang ke-6 tahun, ia memilih menggunakan sex toys sebagai pemancing untuk membantu mencapai orgasme. Nggak perlu canggung atau malu buat pakai sex toys. Tapi tentu saja harus ada kesepakatan bersama, jangan sampai salah satu pihak merasa nggak nyaman atau malah merasa terbebani. Mengingat harga sex toys memang nggak murah, rasanya saya perlu menyisihkan uang dulu, nih, hahaha.

Bermain dalam fantasi

Ketika berhubungan seksual dengan suami, nggak perlu malu mengungkapkan dan memakai imajinasi sepanjang sesi bercinta. Mau menggunakan es, boleh. Mau menggunakan tali temali ibarat ala-ala Film Fifty Shades of Grey, juga sah saja. Percaya, deh, dengan kreatif berimajinasi, seringkali akhirnya membantu kita untuk meraih orgasme bahkan bukan tidak mungkin merasakan multiple orgasme.

Tapi…. sebelum berharap bisa melakukan multiple orgasme, ya, lebih baik fokus dulu untuk bisa merasakan kepuasan. Walaupun ketika sudah lama menikah, hubungan seksual jadi naik turun bahkan berubah, orgasme tetap saja menjadi hak kita bukan? Selain itu, kunci yang nggak kalah penting tentu saja komunikasi. Dari pada harus fake orgasm lebih baik mengutarakan apa yang kita inginkan.