Hidup Boros? Sayang Uangnya, Dong

Lembaga riset Kadence Internasional Indonesia pada 2015 membuktikan kalau 28% orang Indonesia memiliki kebiasaan gaya hidup konsumtif – pengeluaran lebih besar daripada penghasilan. Padahal hal ini bisa dicegah lewat gerakan sayang uangnya.

 

sayang uangnya

Ingat  nggak, kapan terakhir ketika ingin belanja konsumtif akhirnya batal gara-gara terlintas pikiran, “Aaaah…. sayang uangnya, deh. Lebih baik disimpan buat keperluan yang jauh lebih penting.” Terus terang saja, kalau saya masih belajar dan berusaha melakukan secara konsisten. Apalagi kalau melihat melihat tas idaman di depan mata atau onlineshop. Nggak tahu kenapa, dari sekian banyaknya produk fashion yang ada, saya paling nggak tahan melihat produk tas. Iya, saya ini pecinta tas. Umh… sebenarnya sepatu juga, sih, hahaha. Rasanya, selalu ada alasan untuk belanja barang baru. Suatu kali, suami saya pernah tanya, “Dis, memang kalau sepatu dan tas itu harus punya semua warna, ya? Kok, perasaan kamu sering belanja, deh.

Walaupun suami nggak pernah melarang saya untuk beli ini itu. Mungkin, selama uangnya nggak mengganggu cash flow, dia jadi anteng-anteng saja. Tapi tetap saja pertanyaannya waktu itu benar-benar menohok.  Ya, kalau keseringan belanja, suami mana pun lama-lama ‘gerah’ juga kali, ya? Hehehe.

Sebenarnya saya sendiri cukup sadar kalau hari gini memang harus bisa berinvestasi. Lah wong, biaya pendidikan masuk SD tahun ini saja cukup mencekik. Gimana besok, ketika anak saya harus masuk kuliah? Untuk itulah saya akhirnya pelan-pelan belajar berinvestasi. Mulai dari ikutan reksa dana, hingga mencicil LM di pegadaian. Paling tidak, saya jadi belajar disiplin menyimpan uang demi masa depan, pikir saya.

Jadi, ketika tergoda dengan produk di depan mata, saya berusaha mati-matian untuk bilang ke diri sendiri, “Ayo, dong, Dis… sayang uangnya.” Harapannya, keuangan keluarga bisa sehat, jangan sampai, deh, harus gali lubang tutup lubang. Apalagi demi memuaskan nafsu gaya hidup yang konsumsif. Biar gimana, sebenarnya biaya hidup itu nggak mahal, tapi gaya hiduplah yang sangat mahal. Kalau mau dikutin terus, nggak akan ada habis-habisnya.

Sayangnya ternyata banyak masyarakat yang belum sadar akan hal ini. Buktinya, nih, berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh lembaga riset Kadence Internasional Indonesia pada 2015 membuktikan kalau 28% orang Indonesia memiliki kebiasaan gaya hidup konsumtif yang tidak sehat karena pengeluaran lebih besar daripada penghasilan mereka. Parahnya lagi, masyarakat yang melakukannya lebih banyak datang dari mereka yang punya pendapatan rendah. Fakta ini saya dapatkan ketika mengikuti media gathering yang diselenggarakan Permata Bank beberapa waktu lalu.

Melihat fakta ini, Permata Bank pun akhirnya melakukan sebuah gerakan #SayangUangnya. Sebuah gerakan sosial yang bertujuan untuk mengingatkan dan mengajak masyarakat untuk menjalani gaya hidup frugal. Frugalisme adalah gaya hidup hemat dengan konsep berpikir untuk memenuhi kebutuhan dan menahan keinginan.  Biar gimana, kebahagiaan itu kan bukan berasal dari banyaknya materi yang dikonsumsi, ataupun barang mewah yang dibeli. Bahagia berasal dari dalam diri sendiri tanpa harus hidup boros dengan mengikuti gaya hidup yang diinginkan.

Memang, sih, kalau sudah terbiasa mengikuti keinginan untuk gaya hidup, agak susah untuk mengubah kebiasaan. Tapi bukan berarti nggak bisa, lho! Yang jelas, memang hal  ini harus dilakukan dan dimulai dari diri sendiri. Seperti yang dipaparkan Direktur Retail Banking Permata Bank Bianto Surodjo, “Mengubah kebiasaan konsumtif menjadi hemat adalah tantangan yang berat. Namun, hal tersebut bukanlah alasan. Semangat untuk  sayang uangnya harus diterapkan dari sekarang, mulai dari hal-hal kecil di dalam hidup kita.

Siapa yang setuju dengan kalimat di atas? Kalau saya, sih, iya, dan sampai sekarang masih belajar untuk mengatur keuangan agar lebih sehat. Toh, sebenarnya kita memang bisa tampil kece tanpa harus jadi kere. Kalau kata Prita Ghozie, selaku perencana keuangan dan bisnis sudah saatnya kita beralih pada gaya hidup frugalisme.

Lebih lanjut Prita Ghozie juga menjelaskan kalau ada beberapa masalah yang masih menjadi persoalan dalam finansial masyarakat Indonesia. Menurutnya, 50 % masyarakat Indonesia nggak bisa membedakan simpanan, tabungan dan investasi. Selain itu, 18% masyarakat juga masih hobi berutang. Makanya, hal ini berpengaruh pada finansial di masa depan.

Masyarakat Indonesia itu ternyata 50 % nggak bisa membedakan antara simpanan, tabungan, dan investasi. Dia enggak bisa membedakan mana transaksi harian dan mana yang benar tabungan. Di tambah lagi hobi berhutang yang akan membuat gaya hidup tinggi. Dengan berhutang, mereka berpikir masih ada uang yang bisa untuk memenuhi keinginan. Padahal dengan tidak ngutang justru akan lebih hebat, kita jadi bisa merdeka secara finansial,” ucapnya.

Saya sendiri cukup takjub dengan gerakan #SayangUangnya yang digagas oleh Permata Bank ini. Paling nggak, gerakan ini mengingatkan saya untuk lebih bijak dan hemat dalam pengeluaran. Setuju?


Post Comment