Stay With Me, Potret Konflik Dalam Rumah Tangga

Pernah nggak membayangkan jika suatu saat tiba-tiba rasa cinta pada pasangan hilang? Atau mungkin sebaliknya? Jika, ya, apa yang akan dilakukan? Memertahankan berada di sisi pasangan atau memilih berpisah untuk mendapatkan bahagia?

Stay With Me

“Salah saya apa sampai kamu berubah kaya begini?”

“Nggak ada…”

“Ada orang lain? Jujur saja sama aku,”

“Kalau aku jujur, kamu sudah siap? Aku sudah nggak ada perasaan apa-apa lagi ke kamu…”

Percakapan di atas saya ambil dari percakapan suami istri Boy dan Kei dalam film Stay With Me,  film drama yang disutradarai Rudi Soedjarwo ini akan tayang 25 Februari nanti. Kebetulan kemarin saya mendapat kesempatan untuk nonton di acara press sreening yang dilangsungkan di Kemang Village.

Terus terang saja, saat pertama kali melihat trailer-nya saya sedikit pesimis. Dalam hati saya membatin, ‘Ah, paling ceritanya sama dengan kebanyakan film drama lainnya.” Tapi mengingat film ini disutradarai oleh salah satu sutradara kawakan Tanah Air, jadi timbul rasa penasaran. Apalagi kalau ingat Rudi Soedjarwo sempat ‘menghilang’ dari industri perfilman selama 3 tahun ke belakang.

Benar saja, begitu selesai nonton saya pikir film ini ternyata punya pesan yang kuat, paling nggak buat saya sendiri. Rudi Soedjarwo mampu mengemas ceritanya dengan apik dan penuh emosional. Mungkin karena film ini diadaptasi dari cerita pribadinya, ya? Waktu acara jumpa pers, Rudi sempat bilang kalau film yang disponsori oleh Huawei ini layaknya sebuah diary. “Gue itu kan nggak bisa nulis, ya. Jadi film ini merupakan diary buat gue. Gue mau anak-anak gue tahu cerita bapaknya dari film ini.”

Film besutan Integrated Film Solution (IFS) ini memang memberikan insight menarik mengenai kehidupan rumah tangga. Film ini menceritakan kisah cinta antara Boy William (Boy Dimas) dan Deyna (Ully Triani). Sayangnya cinta mereka yang begitu dalam tidak berujung sampai jenjang pernikahan lantaran Ully harus pergi ke Eropa karena orangtuanya meninggal dunia.

Setelah berpisah sekian tahun, mereka pun ternyata dipertemukan kembali namun dengan kondisi yang berbeda karena keduanya telah berkeluarga dan punya anak.  Meskipun keduanya memahami kalau situasinya sudah berbeda, mereka tetap yakin kalau mereka masih saling mencintai satu satu lain.  Apalagi kalau mengingat pernikahan keduanya sebenarnya sudah tidak ‘sehat’. Boy dan Kei, hubungannnya hanya sebatas pasangan yang hidup di bawah satu atap. Sementara Deyna pun tidak bahagia dengan pernikahannya karena sang suami tidak bisa menerima dirinya apa adanya.

Selanjutnya apa, yang terjadi? Apakah lantas keduanya memutuskan bercerai untuk merasakan kebahagiaan yang pernah dirasakan bersama? Apakah benar pilihan terbaiknya lewat perceraian? Kalau penasaran, langsung tonton saja, ya! Tapi, jangan lupa ajak suami, biar bisa jadi ajang kencan, hihihi.

Yang pasti lewat film ini saya bisa menyaksikan ‘potret’ pernikahan sesuai dengan realita pada umumnya. Di mana rata-rata pasangan suami istri akan  melewati pernikahan tak ubahnya seperti naik roller coaster. Ada saatnya kita merasa sangat antusias, ada saatnya merasa perjalanan berjalan dengan tenang, ada juga ketika kita bisa merasa tegang, bahkan merasa antiklimaks. Yah, setidaknya gambaran seperti inilah yang sudah sempat saya rasakan memasuki usia pernikahan ke-7 tahun.

Jauh sebelum menikah, Mama dan kedua kakak saya seringkali bilang kalau hubungan dalam rumah tangga itu mirip dengan memelihara tanaman, perlu disiram dan diberi pupuk. Jadi, pernikahan yang hanya didasari cinta nggak akan cukup untuk mengikat sebuah pernikahan.

Benar juga, sih, lah wong banyak pasangan yang sudah berpuluh-puluh tahun menikah dengan mudahnya memutusakan bercerai. Meskipun alasan perceraian itu beragam, tapi tidak sedikit yang bercerai lantaran sudah tidak punya perasaan cinta ke pasangannya. Ngomongin masalah cinta-cintaan saya jadi ingat dengan kalimat yang diutarakan Anna Surti Ariani, S. Psi., M. Si, Psikologi dari Universitas Indonesia.

Ia bilang, dalam ikatan rumah tangga, cinta memang perlu dipelihara. Soalnya, cinta memang tidak tumbuh begitu saja karena perlu keintiman, gairah dan juga komitmen. Jika salah satunya hilang, bukan tidak mungkin akhirnya menjadi bom waktu dalam pernikahan yang menyebabkan perceraian.

Tapi kalaupun pada akhirnya memilih untuk berpisah apakah lantas pilihan tersebut salah? Saya pikir tidak juga, ya. Lagi-lagi semuanya akan kembali ke pilihan setiap orang. Tapi, sebelum memutuskan bercerai, nggak ada salahnya memikirkan dan yakin lebih dulu dengan pilihan tersebut. Toh, sebenarnya tujuan menikah untuk mendapatkan rasa bahagia. Bukankah memiliki rasa bahagia adalah hak setiap orang? Termasuk pasangan yang pada akhirnya memilih untuk bercerai. 

Jadi, selamat menonton yaaaaaaaaaa!