Presi Mandari, Keluar dari Comfort Zone Demi Membesarkan Bisnis Sackai Bags

“A comfort zone is a beautiful place, but nothing ever grows there”. – unknown

“Saya hanya berpikir, kalau kita kerja terus untuk perusahaan, usia kerja kita akan terbatas sampai masa pensiun, tapi kalau dari muda kita bisa memulai usaha sendiri maka punya harapan yang lebih baik dan usia kerja pun tidak terbatas. Makanya saya berani untuk keluar dari comfort zone,” ujar Presi Mandari, owner Sackai Bags

Saya ingat sekali, pertama kenal dengan Sackai Bags beberapa tahun lalu ketika melihat salah satu kontributor Mommies Daily, Kirana, mengenakan salah satu produk tasnya saat main ke FDHQ. Bisa dibilang saya ini penggemar tas, termasuk tas dengan bahan kanvas, terutama dengan model big size. Maklumlah, ya, sudah ibu-ibu jadi bawaannya cukup banyak, hahahaha. Karena penasaran, saya pun segera mencari tahu soal Sackai Bags.

Begitu ‘mengintip’ koleksinya lewat berbagai akun social media Sackai Bags, saya pun langsung membatin, “Duuuh… koleksinya lucuuuuuu banget, sih”. Alhasi, ketika Sackai Bags mengeluarkan koleksi pouch dengan desain gajah saya pun nggak tahun untuk langsung memesannya. Termasuk ketika ada koleksi Crossbody bag Elephant in the rain, saya pun ‘keracunan’ lagi, hahahaha.

sackai bags*Salah satu koleksi Sackai Bags, crossbody bag elephant in the rain. Lucu, ya? :)

Beruntung, saya punya kesempatan untuk ngobrol langsung dengan penggagas Sackai Bags ini. Namanya Presi Mandari. Siapa sangka owner tas Sackai Bags ini dulunya adalah pekerja media, sama seperti saya. Ia mengaku, demi mengembangkan dan fokus pada bisnis yang mulai dirintis sejak tahun 2013, dirinya harus keluar dari comfort zone.

Memang, sih, saya sudah sering mendengar cerita bahwa salah satu hambatan seseorang untuk meraih kesuksesan itu karena tidak berani ambil resiko dan keluar dari comfort zone. Konon, ketika kita sudah terlalu enak dan nyaman berada dalam suatu posisi atau pekerjaan, justru bisa menjadi berkembang.

Apa yang diungkapkan istri Toto Prastowo ini memang benar. Ketika kita sudah punya alasan yang kuat, dan sudah melihat ada kempatan luas di depan mata, tentu bisa dijadikan alasan kuat untuk melakukan sebuah perubahan. Asal dilakukan secara konsisten dan belajar dari pengalaman, tentu akan membuahkan hasil. Lagi pula bukankah kesempatan tidak akan datang dua kali?

Langkah ini jugalah yang berani dilakukan oleh Presi Mandari. Setelah sempat bekerja sebagai humas di kedutaan besar Prancis di Jakarta dan 8 tahun bekerja di AFP (Agence France Presse-kantor berita Prancis) untuk Indonesia dan East Timor, ia pun berani mengambil langkah merintis bisnisnya sendiri, Sackai Bags.

Penasaran dengan pejalanan usaha yang dirintis perempuan yang  lulusan Sastra Prancis dan S-2 jurusan ekonomi-politik internasional ini? Simak kutipan wawancara saya ini, ya..

Ceritain, dong, Mbak, awal mula Sackai didirikan, idenya dari mana, sih?

Semua bermula dari ketidaksengajaan. Ada seorang teman yang punya usaha online shop dan saya sering ikut hunting kain ke beberapa pasar tekstil di Jakarta. Dari situ saya mulai mengenal berbagai jenis bahan kanvas. Saya sendiri sejak lama memang penggemar dan pengguna tas kanvas dan karena terbuka akses ke bahan baku, saya mulai koleksi bahan-bahan kanvas dan aksesoris tas, membeli mesin jahit dan sedikit-sedikit di waktu luang mulai belajar cara menjahit tas dari tutorial di Youtube. Dan dalam beberapa waktu terlihat hasilnya dan tas buatan saya ternyata diminati orang sekitar seperti teman-teman dan keluarga. Jadi segala sesuatu bermula dari hal yang sederhana yang bisa saya kerjakan sendiri.

presinyasackai*Team Sackai Bags, Elik Ragil. Presi Mandari dan Toto Prastowo (dari kiri ke kanan)

Jadi, saat ini bisnis Sackai bags ini Mbak jadikan sebagai main job, atau bisnis sampingan saja?

Awalnya bisnis sampingan selain bekerja di kantor. Tetapi karena bisnis saya ini semakin mengasyikkan, saya memilih memfokuskan diri untuk @sackaibags dan meninggalkan pekerjaan saya sebelumnya beberapa bulan yang lalu. Tepatnya, sih, sudah 9 bulan saya fokus dengan bisnis ini.

Dari sekian banyaknya lahan bisnis, kenapa memilih produk tas?

Karena menurut saya tas itu merupakan bagian dari kebutuhan keseharian setiap orang dan tas juga bagian dari fashion sehingga memberikan prospek bisnis yang menjanjikan.

Siapa saja target pasar dari Sackai Bags?

Awalnya ibu dan remaja. Tetapi sekarang kita sudah punya produk unisex untuk konsumsi remaja dan dewasa.

Sebenarnya, apa sih artinya Sackai?

Sackai itu nama kakek saya. Sebetulnya ejaan namanya Sakkai, tapi saya ubah menjadi sac yang dalam bahasa Prancis artinya tas.

Di laman selanjutnya Presi bercerita mengenai suka duka membangun bisnis bersama suami dan perlunya membangun networking.


Post Comment